Sabtu, 01 Desember 2012



RESENSI NOVEL
 “ SANG PEMIMPI “

I.       IDENTITAS BUKU
Judul Buku                  : SANG PEMIMPI
Pengarang                    : Andrea Hirata
Penerbit                       : PT. Bentang Pustaka
Ukuran                        : 14 x 21 cm
Halaman                      : 247
ISBN                           : 979-3062-92-4

II.      BAGIAN ISI

Ini adalah buku kedua dari tetraloginya Andrea Hirata. Ending yang sangat mengesankan, hmm..aku suka. Alurnya bagus, menarik. Tema cerita yang sederhana tapi terbungkus kalimat-kalimatyang wow penuh makna. Tapi sayangnya ini kurang ada sinergi dengan buku pertama, yang namanya tetralogi kan ada 4 buku, harusnya seh ada kesinambungan yang bagus. Memang,Laskar Pelangi masih sedikit disebut-sebut, tapi belum mewakili kesinambungan yang bagus.Berhubung sudah terbuai sosok Arai, Ikal dan Jimbron. So finally ga masalh lah. PAsti novelnyasangat berkesan dan begitu menggugah.“3 Seorang pemimpi. Setelah tamat SMP, melanjutkan ke SMA Bukan Maen. Disinilah perjuangan dan mimpi ketiga pemberani ini dimulai. Ikal, salah satu dari anggota Laskar Pelangi,Arai, saudara sepupu Arai yang sudah yatim piatus ejak SD dan tinggal di ruamh Ikal, sudahdianggap seperti anak sendiri oleh Ayah danIbu Ikal. Dan Jimbron, anak angkat seorang pendetakarena yatim piatu juga sejak kecil. Namun pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakankeyakinan Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.
Arai dan Ikal begitu pintar dalam sekolahnya, sednagkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa- biasa aja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal dan Arrai selalu menjadi 3 besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arrai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkanstudy ke SArbonne Perancis. Mereka terpukau dengan cerita Pak Beia, guru seninya, yang selalumeyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras, menjadi kuli ngambat mulai pukul 2 pagi sampai jam 7 dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matianmenabundemi mewujudkan impiannya. Ya, meskipun kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk samapi kesana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan.Setelah selesai SMA, Ari dan Ikal merantai ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jombron lebihe mmilih untuk menjadi pekerja di ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan keduacelengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Araidan Ikal spai di Perancis, maka jiwa Jimbronpun akan selalu ebrsama mereka. Berbula-bulanterkatung0katung di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun.Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, Ikal ketrima menjadi tukang sortir (tukang Pos), dan Arai memutuskan untuk merantau ke kAlimantanTahun berikutnya, Ikalmemutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI.
Dan setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhrinya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar.Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujia begitu terpukau dengan proposal risetyang diajukan Ikal, meskipun ahanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang amsih bekerjasebagai Tukang Sortir, tulsiannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selai, siap yang menyangka. kejutan yang luar biasa. Warai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpakabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalams uatu forum yang begitu indah dan Terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudha direncanaknnya bertahun-thaun. TErnyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Bilogi.Tidak kalah dengan Ikal, proposal Risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru.Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke BElitong. Dan ketika ada surat datang, merka berdebar-debar membuka isinya. PEngumuman peberima Beasiswa ke Eropa. Arai begitu sedihkarena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sangat ingin emmbuka kabar tu bersamaorang yang sanagt dia rikan. Kegelisahan dimulai. Tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu.Akhirnya Ikal ketrima di Perhuruan tinggi, Sarbone PErnacis. Setelah perlahan mencocokkandengan surat Arai, Subhannallah, inilah jawaban dari mimpi2 mereka. Kedua sang pemimpi ini diterima di Universitas yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Disinilah perjuanagandari mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya.

Ø Kelebihan
Banyak kelebihan-kelebihan yang didapatkan dalam novel ini. Mulai dari segi kekayaan bahasa hingga kekuatan alur yang mengajak pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang terdeskripsikan secara sempurna. Hal ini tak lepas dari kecerdasan penulis memainkan imajinasi berfikir yang dituangkan dengan bahasa-bahasa intelektual yang berkelas. Penulis juga menjelaskan tiap detail latar yang mem-background-i adegan demi adegan, sehingga pembaca selalu menantikan dan menerka-nerka setiap hal yang akan terjadi. Selain itu, kelebihan lain daripada novel ini yaitu kepandaian Andrea dalam mengeksplorasi karakter-karakter sehingga kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu kuat.
Ø Kelemahan
Pada dasarnya novel ini hampir tiada kelemahan. Hal itu disebabkan karena penulis dengan cerdas dan apik menggambarkan keruntutan alur, deskripsi setting, dan eksplorasi kekuatan karakter. Baik ditinjau dari segi kebahasaan hingga sensasi yang dirasakan pembaca sepanjang cerita, novel ini dinilai cukup untuk mengobati keinginan pembaca yang haus akan novel yang bermutu.

III.    BAGIAN PENUTUP
Buku ini dapat menjadi salah satu referensi yang menarik tentang artinya sebuah mimpi. Salah satu poin yang membuat saya kagum dan penuh inspirasi dari buku ini adalah “ Jangan pernah berhenti bermimpi “.Hal itu sangat jelas pada tiap-tiap subbabnya. Yang pada prinsipnya manusia tidak akan pernah bisa untuk lepas dari sebuah mimpi dan keinginan besar dalam hidupnya. Hal itu secara jelas digambarkan penulis dalam novel ini dengan maksud memberikan titik terang kepada manusia yang mempunyai mimpi besar namun terganjal oleh segala keterbatasan.


RESENSI NOVEL
 “ SANG PEMIMPI “

I.       IDENTITAS BUKU
Judul Buku                  : SANG PEMIMPI
Pengarang                    : Andrea Hirata
Penerbit                       : PT. Bentang Pustaka
Ukuran                        : 14 x 21 cm
Halaman                      : 247
ISBN                           : 979-3062-92-4

II.      BAGIAN ISI

Ini adalah buku kedua dari tetraloginya Andrea Hirata. Ending yang sangat mengesankan, hmm..aku suka. Alurnya bagus, menarik. Tema cerita yang sederhana tapi terbungkus kalimat-kalimatyang wow penuh makna. Tapi sayangnya ini kurang ada sinergi dengan buku pertama, yang namanya tetralogi kan ada 4 buku, harusnya seh ada kesinambungan yang bagus. Memang,Laskar Pelangi masih sedikit disebut-sebut, tapi belum mewakili kesinambungan yang bagus.Berhubung sudah terbuai sosok Arai, Ikal dan Jimbron. So finally ga masalh lah. PAsti novelnyasangat berkesan dan begitu menggugah.“3 Seorang pemimpi. Setelah tamat SMP, melanjutkan ke SMA Bukan Maen. Disinilah perjuangan dan mimpi ketiga pemberani ini dimulai. Ikal, salah satu dari anggota Laskar Pelangi,Arai, saudara sepupu Arai yang sudah yatim piatus ejak SD dan tinggal di ruamh Ikal, sudahdianggap seperti anak sendiri oleh Ayah danIbu Ikal. Dan Jimbron, anak angkat seorang pendetakarena yatim piatu juga sejak kecil. Namun pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakankeyakinan Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.
Arai dan Ikal begitu pintar dalam sekolahnya, sednagkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa- biasa aja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal dan Arrai selalu menjadi 3 besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arrai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkanstudy ke SArbonne Perancis. Mereka terpukau dengan cerita Pak Beia, guru seninya, yang selalumeyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras, menjadi kuli ngambat mulai pukul 2 pagi sampai jam 7 dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matianmenabundemi mewujudkan impiannya. Ya, meskipun kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk samapi kesana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan.Setelah selesai SMA, Ari dan Ikal merantai ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jombron lebihe mmilih untuk menjadi pekerja di ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan keduacelengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Araidan Ikal spai di Perancis, maka jiwa Jimbronpun akan selalu ebrsama mereka. Berbula-bulanterkatung0katung di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun.Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, Ikal ketrima menjadi tukang sortir (tukang Pos), dan Arai memutuskan untuk merantau ke kAlimantanTahun berikutnya, Ikalmemutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI.
Dan setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhrinya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar.Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujia begitu terpukau dengan proposal risetyang diajukan Ikal, meskipun ahanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang amsih bekerjasebagai Tukang Sortir, tulsiannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selai, siap yang menyangka. kejutan yang luar biasa. Warai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpakabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalams uatu forum yang begitu indah dan Terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudha direncanaknnya bertahun-thaun. TErnyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Bilogi.Tidak kalah dengan Ikal, proposal Risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru.Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke BElitong. Dan ketika ada surat datang, merka berdebar-debar membuka isinya. PEngumuman peberima Beasiswa ke Eropa. Arai begitu sedihkarena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sangat ingin emmbuka kabar tu bersamaorang yang sanagt dia rikan. Kegelisahan dimulai. Tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu.Akhirnya Ikal ketrima di Perhuruan tinggi, Sarbone PErnacis. Setelah perlahan mencocokkandengan surat Arai, Subhannallah, inilah jawaban dari mimpi2 mereka. Kedua sang pemimpi ini diterima di Universitas yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Disinilah perjuanagandari mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya.

Ø Kelebihan
Banyak kelebihan-kelebihan yang didapatkan dalam novel ini. Mulai dari segi kekayaan bahasa hingga kekuatan alur yang mengajak pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang terdeskripsikan secara sempurna. Hal ini tak lepas dari kecerdasan penulis memainkan imajinasi berfikir yang dituangkan dengan bahasa-bahasa intelektual yang berkelas. Penulis juga menjelaskan tiap detail latar yang mem-background-i adegan demi adegan, sehingga pembaca selalu menantikan dan menerka-nerka setiap hal yang akan terjadi. Selain itu, kelebihan lain daripada novel ini yaitu kepandaian Andrea dalam mengeksplorasi karakter-karakter sehingga kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu kuat.
Ø Kelemahan
Pada dasarnya novel ini hampir tiada kelemahan. Hal itu disebabkan karena penulis dengan cerdas dan apik menggambarkan keruntutan alur, deskripsi setting, dan eksplorasi kekuatan karakter. Baik ditinjau dari segi kebahasaan hingga sensasi yang dirasakan pembaca sepanjang cerita, novel ini dinilai cukup untuk mengobati keinginan pembaca yang haus akan novel yang bermutu.

III.    BAGIAN PENUTUP
Buku ini dapat menjadi salah satu referensi yang menarik tentang artinya sebuah mimpi. Salah satu poin yang membuat saya kagum dan penuh inspirasi dari buku ini adalah “ Jangan pernah berhenti bermimpi “.Hal itu sangat jelas pada tiap-tiap subbabnya. Yang pada prinsipnya manusia tidak akan pernah bisa untuk lepas dari sebuah mimpi dan keinginan besar dalam hidupnya. Hal itu secara jelas digambarkan penulis dalam novel ini dengan maksud memberikan titik terang kepada manusia yang mempunyai mimpi besar namun terganjal oleh segala keterbatasan.

Selasa, 27 November 2012

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CIRC (COOPERATIF INTEGRATED READING AND COMPOSITION) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENEMUKAN UNSUR INSTRINSIK SISWA KELAS VII A MTs AL MUSTHOFA GRABAGAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012





BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah media pengucapan karya sastra bahasa, bahasa merupakan media sastra dan dengan kita dapat membedakan antara karya sastra dan karya yang bukan sastra (Jobohim, 2003:1) karya sastra adalah suatu bentuk hasil kreatif yang membicarakan manusia dan kehidupanya dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Suatu karya sastra sangat tergantung kepada kemampuan pengarang dalam menggunakan bahasanya.
Di era modern ini perkembangan dunia pendidikan berjalan  sangat cepat. Kasadaran pemerintah dan masyarakat akan pentingnya pendidikan yang mendorong berbagai elemen berlomba menghasilkan mutu pendidikan. Para ahli mengatakan penelitian-penelitian untuk mengkaji berbagai permasalahan pendidikan salah satu usaha meningkatkan keberhasilan pendidikan adalah pengenbangan dan penggunaan strategi pembelajaran yang tepat.
    
     1
 
1
 
Menurut Kemp  (dalam sanjaya, 2006:124) strategi pembelajaran adalah yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai siswa secara efektif dan efisien. Senada dangan pendapat tersebut, Dick dan Carey (balam sanjaya, 2006:124) juga menyabutkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Salah satu kompunen penting yang harus dikuasai oleh guru dalam mengajar adalah model dan metode mengajar model dan metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus dikuasai guru sebagai manifestasi kompetensi guru (soetope, 2005:143) sebagai pelaksana kedepan, guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu stratagi pembelajaran, khususnya dalam motivasi dan kemampuan mengapresiasi cerpen,oleh karena itu siswa harus memiliki kekreatifan dalam karya sastra.supaya kita tidak kritis dalam mengapresiasi maka sebagai siswa harus banyak –banyak membaca sebab dengan membaca kita akan mendapatkan banyak pengetahuan.
Sebuah karya sastra dapet membantu pembaca dalam menafsirkan makna karya sastra. Bahasa yang digunakan untuk menafsirkan makna karya sastra yang dimaksud adalah kata, kalimat dan kesatuan kalimat yang dijadikan alat sebagai pengarang  untuk mengekspresikan imajinasinya.sastra hadir untuk dibaca dan dinikmati, selanjutnya dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan tentang hidup dan kehidupan, pada pembelajaran sastra harus dititik deratkan pada kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu bentuk seni yang harus dinikmati.
Menurut BSNP 2006a (dalam Sufanti, 2010: 7) mata pelajaran bahasa Indonesia berorientasi pada pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia.
        Pentingnya bahasa sebagai suatu alat komunikasi dan dengan memperhatikan wujud bahasa itu sendiri, Soekono  memberikan batasan, bahwa bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat, yang berupa bunyi suara atau tanda atau isyarat atau lambang yang dikeluarkan oleh manusia untuk menyampaikan isi hatinya kepada manusia yang lain.
Keterampilan berbahasa terdiri atas empat aspek yaitu keterampilan menyimak atau mendengarkan (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills). Kemampuan berbahasa ini berhubungan erat dalam usaha seseorang memperoleh kemampuan berbahasa yang baik. Berbagai usaha dilakukan untuk membina dan mengembangkan bahasa agar benar-benar memenuhi fungsinya. Setiap keterampilan sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Usaha memperoleh keterampilan bahasa yang baik dan benar adalah melalui program pendidikan sekolah. Mata pelajaran bahasa Indonesia memiliki tujuan agar peserta didik memiliki kemampuan  berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan. Penggunaan aspek kebahasaan dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu dengan yang lainnya. Menyimak dan membaca erat hubungannya dengan hal berkomunkasi, berbicara dengan menulis erat hubungannya dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna (Tarigan, 1986:10).
 Seseorang mengenal bahasa dari mendengarkan. Kemudian, berbicara dan berlatih membaca dengan mengenal tulisan, jenis–jenis huruf dan cara merangkai huruf–huruf. Setelah melalui berbagai usaha tersebut, ia akan berusaha menulis. Melalui bahasa, manusia dapat saling berhubungan, saling memberi dan saling menerima berbagai pengalaman, belajar dari yang lain serta meningkatkan kemampuan intelektual. Mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
Menulis merupakan kegiatan mengekspresikan informasi yang diterima dari proses menyimak dan membaca. Jadi, semakin banyak orang menyimak atau membaca maka akan banyak pula informasi yang akan diperoleh atau diekspresikan secara tertulis.  (Kurniawan 2006:122) menyatakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grofologi, struktur bahasa dan kosa kata. Ketrampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, menyakinkan, melaporkan, menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca.
Menulis adalah salah satu bagian dari keterampulan berbahasa. Menulis merupakan suatu proses pemikiran. Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi seperti saat ini, menulis juga bisa dilakukan dengan menggunakan komputer atau laptop. Banyak definisi atau pengertian menulis yang di paparkan oleh para ahli. Untuk selengkapnya mengenai pengertian menulis menurut para ahli, silakan simak artikel di bawah ini.      
Apresiasi menurut kamus istilah sastra adalah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan pada pemahaman (Sudsjiman, 1990: 9). Lebih lanjut diterangkan bahwa apresiasi merupakan jawaban seseorang yang sudah matang dan sudah berkembang ke arah nilai dengan tepat, dan menjawabnya dengan hangat dan simpatik. Seseorang yang telah memiliki apresiasi bukan sekedar yakin bahwa sesuatu dikehendaki, tetapi benar-benar mengisyaratkan sesuatu dan menyam butnya dengan sikap yang penuh kegairahan. Pengertian apresiasi yang lain disampaikan oleh Squire dan Taba (Via Aminuddin 1987: 34-37) bahwa sebagai suatu proses apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yaitu (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, (3) aspek evaluatif. Aspek kognitif  berkaitan  dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Aspek emotif berkaitan dengan unsur-unsur emosi dalam upaya menghayati unsur keindahan sastra yang dihadapi. Aspek evaluatif berkaitan dengan penilaian baik buruk, indah tak indah, sesuai tidak sesuai, dan sebagainya.
Model pembelajaran kooperatif merupakan teknik – teknik kelas praktis yang dapat digunakan guru setiap hari untuk membantu siswanya belajar setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan – keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks.
Metode CIRC adalah karakteristik kelas yang sangat heterogen dari segi latar belakang sosial. Pembelajaran kooperatif ini yaitu mengunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para siswa mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas. berkelompok dengan menekankan pada penggalian ide dan tanggapan. Model pembelajaran dengan memadukan secara kooperatif aspek membaca dan menulis.
Tujuan pengajaran bahasa Indonesia di MTs Al Musthofa Grabagan Tuban berdasarkan kurikulum yang ada lebih cenderung ke arah keterampilan berbahasa. Hal ini tidak berarti bahwa segi pengetahuan dan segi efektifnya diabaikan sama sekali. Segi pengetahuan dan segi efektifnya tetap diperhatikan, tetapi lebih sebagai sarana untuk pencapaian keterampilan berbahasa. Seseorang dikatakan terampil berbahasa jika yang bersangkutan terampil menyimak, terampil membaca, terampil berbicara, serta terampil menulis dalam bahasa Indonesia. Tujuan ini akan tercapai jika siswa diberikan kesempatan mengalami berbagai kegiatan berbahasa dalam berbagai situasi.

1.2    Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah di atas, maka perlu diidentifikasi permasalahannya agar lebih jelas.
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (cooperatif integrated reading and composition ) untuk meningkatkan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen  yang akan saya teliti adalah sebagai berikut :
1.       Penulis mencermati kemampuan mengapresiasi cerpen melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC ( cooperatif integrated reading and composition )
2.      Kemampuan siswa yang kurang memahami tentang unsur instrinsik
3.     Sejauh ini penulis mengamati belum adanya penanganan secara sistematis dan taktis oleh pihak MTs Al Musthofa Grabagan Tuban dalam rangka peningkatan kemampuan  siswa ketika mengapresiasi cerpen dikaji dari aspek unsur instrinsik.

1.3    Batasan Masalah
Dari judul dan identifikasi masalah tersebut, agar tidak menimbulkan berbagai permasalahan penulis membatasi penelitian ini pada hal-hal sebagai berikut:
1.       Peningkatan intensitas pembelajaran kooperatif tipe CIRC (cooperatif integrated reading and composition) dengan berkelompok.
2.       Meningkatkan kemampuan menemukan siswa dalam hal mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik.
3.       Penggunaan seluruh unsur pada siswa dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur  instrinsik secara efektif.

1.4    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition) untuk Meningkatkan kemempuan menemukan unsur Instrinsik Cerpen siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun pelajaran 2011/2012” ini adalah :
1.         Bagaimanakah kemampuan menemukan unsur Instrinsik Cerpen sebelum diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition)  siswa kelas VII A MTs Almusthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012.
2.         Bagaimanakah kemampuan menemukan unsur Instrinsik Cerpen setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition)  siswa kelas VII A MTs Almusthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012.
3.         Apakah melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition)  dapat meningkatkan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012.

1.5    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.5.1           Tujuan Penelitian
1.5.1.1    Tujuan umum
Segala sesuatu yang dilakukan oleh setiap individu tidak terlepas dari tujuan yang ingin dicapai, secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang  kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen siswa kelas VII A  MTs Al Musthofa Grabagan Kec. Grabagan Kab. Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012.


1.5.1.2     Tujuan khusus
                Sesuai dengan rumusan masalah yang penulis kemukakan, penelitian ini secara khusus bertujuan untuk memperoleh gambaran obyektif tentang:                    
1.       Mendeskripsikan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012
2.       Mendiskripsikan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition) siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012
3.        Mendeskripsikan adanya peningkatan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition) siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012.      

1.5.2  Manfaat Penelitian
          Pada dasarnya penelitian ini merupakan pengembangan ilmu pengetahuan yang penulis terima dari bangku kuliah. Namun hasil penelitian ini dapat pula dimanfaatkan antara lain:

1.5.2.1          Manfaat Teoritis
                Secara teoritis manfaat dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yang mewajibkan penuturnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk lisan.
1.5.2.2          Manfaat Praktis
                        Secara praktis manfaat yang diharapkan oleh penulis dari hasil penelitian ini sebagai berikut :
1.       Untuk peneliti adalah pengalaman dalam melakukan penelitian sebagai bentuk tanggung jawab akademisi penulis atau peneliti.
2.       Untuk guru adalah menambah kelengkapan referensi dan memperluas wawasan guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia dapat memilih pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition) untuk meningkatkan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen.
3.       Untuk siswa adalah untuk belajar bersama secara berkelompok untuk menemukan permasalahan dalam mengerjakan pelajaran khususnya dalam mengapresiasi cerpen. sehingga dapat menemukan unsur instrinsik dalam sebuah cerpen.
4.       Untuk pembaca adalah sebagai tambahan pengetahuan dan informasi dalam hal menulis yang baik dan benar.

1.6    Asumsi dan Hipotesis
1.6.2     Asumsi
Yang dimaksud dengan asumsi adalah sebuah titik pemikiran yang sebenarnya diterima oleh penyidik menurut Surachmad (2008: 16), sedangkan asumsi menurut Sutrisno Hadi Adalah penyelidikan yang dapat memberikan pengetahuan yang valid dan reliabilitas tentang gejala- gejala alam dan sosial. Pengetahuan yang valid dan reliabel itu dapat dicapai karena pendidikan ilmiah menggunakan landasan berfikir yang pasti. (Sutrisno Hadi, 2007: 16).
Dalam penelitian ini penulis mempunyai asumsi sebagai berikut:
1.       Setiap peseta didik memiliki kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen dan tidak ada perlakuan yang berbeda dari pihak lain dalam hal pembinaan.
2.       MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012 kurikulum yang digunakan sudah sesuai dengan pembelajaran.
3.       Kurikulum yang digunakan dalam mengajar sudah sesuai dengan kurikulum yang ada.
4.       Guru bahasa indonesia kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan dalam mengajarkan materi bahasa indonesia sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
5.       Siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan mempunyai kesempatan dan alokasi waktu yang sama dalam menerima pelajaran bahasa indonesia.

1.6.3            Hipotesis
Hipotesis merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 2006:71), menurut pendapat lain, hipotesis adalah perumusan sementara mengenai hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan untuk menuntun atau mengarahkan penelitian selanjutnya (Sudjana, 2006: 213).
Dari kedua pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang sedang diteliti.
Dengan memperhatikan pembatasan dan rumusan masalah, maka penulis dapat merumuskan hipotesis sebagai berikut:
1.       Siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012 telah mampu menemukan unsur instrinsik cerpen.
2.       Siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012 telah mampu menemukan unsur instrinsik cerpen dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition).
3.       Ada peningkatan  kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition).siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan   Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012

1.7      Spesifikasi Variabel dan Definisi Operasional
       Definisi operasional dalam penelitian sangat penting. Hal ini dilakukan 1.7.1  Spesifikasi Variabel
                Kerlinger (1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstruk (constrcuts) atau sifat yang akan dipelajari. Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981).
                        Dari uraian di atas dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition), sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen.
1.7.2  Definisi Operasional
        Definisi operasional yang diberikan oleh peneliti yang berjudul penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition) untuk meningkatkan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen siswa kelas  VII A MTs Al Musthofa Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012 antara lain sebagai berikut:
1.       Penerapan
Penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun sebelumnya.
2.       Model Pembelajaran Kooperatif
       Model pembelajaran kooperatif merupakan teknik – teknik kelas praktis yang dapat digunakan guru setiap hari untuk membantu siswanya belajar setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan – keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Model pembelajaran dengan menggunakan sistem kelompok yaitu antara 5 sampai 6 orang kelompok. Kelompok harus beragam dalam hal gender, etnis, ras, dan kemampuan.
3.       Metode CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition)
Metode CIRC adalah karakteristik kelas yang sangat heterogen dari segi latar belakang sosial. Pembelajaran kooperatif ini yaitu mengunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para siswa mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas. berkelompok dengan menekankan pada penggalian ide dan tanggapan. Model pembelajaran dengan memadukan secara kooperatif aspek membaca dan menulis.
4.       Kemampuan
Kemampuan adalah suatu  kesanggupan  dalam  melakukan  sesuatu.  Seseorang dikatakan  mampu  apabila  ia  bisa  melakukan  sesuatu  yang  harus  ia lakukan
5.       Cerpen
Cerpen adalah cerita kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang dimaksudkan memberikan kisahan tunggal yang dominan (anonim dalam Isdriani, 2005:59). Cerita pendek disebut juga sebagai cerita fiksi yang menggambarkan sebagian kecil dari kehidupan manusia (anonim dalam Cala, 2003:67). Selain itu, cerpen juga diartikan sebagai cerita rekaan yang berdasarkan pada khayalan (anonim dalam Surana, 1994:2004). Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita fiksi yang menggambarkan sebagian kecil dari kehidupan manusia yang berdasarkan pada khayalan.
6.       Unsur Instrinsik
Unsur Instrinsik adalah unsur pembangun sastra yang secara eksplisit  terdapat dalam karya  sastra  dan dapat diketahui secara langsung, yang meliputi : tema, alur  cerita, seting, tokoh dan karakter, sudut pandangpengarang, dan    amanat/pesan.
7.       Siswa kelas VII A :
a.       Anak yang secara biologis berumur kurang lebih 15 tahun.
b.       Siswa yang secara administratif duduk di bangku kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012
















BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian Sastra
Sastra adalah kata-kata atau bahasa yang dipakai dalam kitab-kitab (KBBI, 1988 : 786).  Sastra adalah karangan. Kesusastraan adalah karangan yang indah (Suwandi, 1982 : 7)
Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa ( Sumardjo dan Saini K.M., 1987 : 3).
                Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sastra adalah ungkapan perasaan manusia yang berupa gagasan, ide yang memiliki nilai-nilai keindahan yang diekspresikan melalui media bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.

2.2 Jenis Sastra

   17
 
             Ruang lingkup kajian sastra dalam penelitian ini  didasarkan pada jenis sastra sebagai sastra imajinatif. Sastra imajinatif terbagi menjadi dua, yaitu puisi dan prosa. Prosa (dalam hal ini prosa fiksi) terbagi menjadi  empat, yaitu : novel, cerpen, roman, dan novel.


 












2.3 Pengertian Cerpen
             Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek, disebut demikian karena jumlah halamannya yang sedikit, situasi dan tokoh ceritanya juga digambarkan secara terbatas (Rani, 1996:276). Mengutip Edgar Allan Poe, Jassin (1961:72) mengemukakan cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam (dalam Nurgiyantoro, 2000:72).
             Dalam bukunya berjudul Anatomi Sastra (1993:34), Semi mengemukakan: cerpen ialah karya sastra yang memuat penceritaan secara memusat kepada suatu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam sebuah cerpen, tanpa kecuali ditujukan untuk mendukung peristiwa pokok. Masih menurut Semi, dalam kesingkatannya itu cerpen akan dapat menampakan pertumbuhan psikologis para tokoh ceritanya, hal ini berkat perkembangan alur ceritanya sendiri. Ini berarti, cerpen merupakan bentuk ekspresi yang dipilih dengan sadar oleh para sastrawan penulisnya.
Cerpen, banyak orang mengartikan cerpen hanya sebatas cerita pendek. Pengertian cerita mungkin semua orang sudah mengetahui, tetapi untuk pengertian pendek dalam “cerita pendek” sering terjadi kesimpangsiuran. Pendek dalam cerita pendek bukan semata-mata ditujukan pada banyak sedikitnya kata, kalimat, atau halaman yang digunakan untuk mengisahkan cerita. Pencerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif.
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur.
Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.
Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya.
Singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis. Memahami sebuah cerpen tentu tidak dapat lepas dari pemahaman tentang unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen tersebut. Sebagai sebuah bangun cerita, cerpen memiliki unsur-unsur pembangun. Unsur-unsur tersebut akan menentukan bagaimana wujud sebuah cerpen, apakah menjadi cerita tragedi atau komedi, cerita sosial, budaya, politik, pendidikan, atau religius, dan sebagainya.ndek di sini mengacu pada ruang lingkup permasalahan yang disampaikan oleh jenis karya sastra ini. Oleh karena itu sangat memungkinkan sebuah cerita yang pendek tidak bisa dikategorikan dalam jenis cerpen dan sebuah cerpen memiliki cerita yang panjang.
Permasalahan yang diangkat dalam sebuah cerita umumnya adalah kehidupan manusia dengan segala aspeknya. Banyak sekali aspek kehidupan yang bisa terjadi dalam diri manusia dari dilahirkan sampai masuk dalam liang kubur. Dengan banyaknya aspek kehidupan tersebut cerita yang bisa dikembangkan pun sangat beragam pula dan cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra yang menceritakan kehidupan manusia memiliki cakupan tersendiri yaitu hanya menceritakan sebagian kecil saja kehidupan tokoh yang paling menarik. Dengan adanya batasan yaitu bagian kecil dari kehidupan tokoh/manusia maka cerpen memiliki keterpusatan perhatian/ cerita pada tokoh utama dan permasalahan yang paling menonjol yang menjadi pokok cerita cerpen tersebut. Terpusat di sini berarti tidak melebar terhadap permasalahan dan atau tokoh lain yang tidak terlalu mendukung cerita atau tidak bersangkutan dengan cerita. Sebuah cerpen tidak mengenal degresi karena setiap bagian cerpen adalah pokok cerita yang jika dihilangkan maka cerita akan menjadi timpang dan kacau.
Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek, disebut demikian karena jumlah halamannya yang sedikit, situasi dan tokoh ceritanya juga digambarkan secara terbatas (Rani,1996:276).Mengutip Edgar Allan Poe, Jassin (1961:72) mengemukakan cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam (dalam Nurgiyantoro, 2000:72). Dalam bukunya berjudul Anatomi Sastra (1993:34), cerpen ialah karya sastra yang memuat penceritaan secara memusat kepada suatu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam sebuah cerpen, tanpa kecuali ditujukan untuk mendukung peristiwa.
Masih menurut Semi, dalam kesingkatannya itu cerpen akan dapat menampakan pertumbuhan psikologis para tokoh ceritanya, hal ini berkat perkembangan alur ceritanya sendiri. Ini berarti, cerpen merupakan bentuk ekspresi yang dipilih dengan sadar oleh para sastrawan penulisnya.
Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata. Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni.
1.         Cerpen mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah.
2.         Cerpen yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah.
3.         Cerpen panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000   buah.Cerpen jenis ini banyak ditulis oleh cerpenis Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Eropa pada kurun waktu 1940-1960 (Pranoto, 2007:13-14).
Sumardjo dan Saini K.M. (1994:30) mendefinisikan cerpen berdasarkan makna katanya, yaitu cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Kata „pendek‟ dalam batasan ini tidak jelas ukurannya. Ukuran pendek di sini diartikan sebagai: dapat dibaca sekali duduk dalam waktu kurang dari satu jam. Dikatakan pendek juga karena genre ini hanya mempunyai efek tunggal, karakter, plot, dan “setting” yang terbatas, tidak beragam dan tidak kompleks. Sedangkan Rahmanto dan Hariyanto (1998:1.26) mengemukakan bahwa ciri khas dalam suatu cerpen bukan menyangkut panjang pendeknya tuturan, berapa jumlah kata dan halaman untuk mewujudkannya, tetapi terlebih pada lingkup permasalahan yang ingin disampaikannya.
Lebih lanjut Rahmanto dan Hariyanto (1998:1.29) menegaskan bahwa suatu karya sastra dapat dogolongkan ke dalam bentuk cerpen apabila kisahan dalam cerpen tersebut memberikan kesan tunggal yang dominan, memusatkan diri pada satu tokoh atau beberapa orang tokoh dalam satu situasi, dan pada satu saat. Kriterianya bukan berdasarkan panjang pendeknya halaman yang dipergunakan, tetapi lebih pada peristiwa yang tunggal, dan diarahkan pada peristiwa yang tunggal itu. Menurut Sumardjo dan Saini K.M. (1994:30), cerita pendek dapat dibagi dalam tiga kelompok, yakni cerita pendek, cerita pendek yang panjang (long short story), cerita pendek yang pendek (short – short story). Sumardjo dan Saini K.M. (1994:31) juga berpendapat bahwa apapun istilahnya, ciri hakiki cerpen adalah tujuan untuk memberikan gambaran yang tajam dan jelas, dalam bentuk yang tunggal, utuh, dan mencapai efek tunggal pula pada pembacanya.
Sumardjo dan Saini K.M. (1994:36-37) meninjau pengertian cerpen berdasarkan sifat rekaan („fiction‟) dan sifat naratif atau penceritaan. Dilihat dari sifat rekaan cerpen bukan penuturan kejadian yang pernah terjadi, berdasarkan kenyataan kejadian yang sebenarnya, tetapi murni ciptaan saja yang direka oleh pengarangnya. Meskipun demikian, cerpen ditulis berdasarkan kenyataan kehidupan. Dalam membaca cerpen, pembaca tidak sekedar membaca kisah lamunan, tetapi dapat menghayati pengalaman dari cerita yang disajikan serta ikut mengalami peristiwa-peristiwa, perbuatan-perbuatan, pikiran dan perasaan, keputusan-keputusan, dan dilema-dilema yang tampak dalam cerita. Sementara itu dilihat dari sifat naratif atau penceritaan, cerpen bukanlah deskripsi atau argumentasi dan analisis tentang sesuatu hal, tetapi ia merupakan cerita.
Berdasarkan uraian di atas, maka cerpen merupakan cerita rekaan yang lebih mengarah pada peristiwa tidak terlalu kompleks dan relatif pendek serta bersifat fiktif (tidak benar-benar terjadi, tetapi dapat terjadi di mana pun dan kapan pun).
2.4   Ciri – Ciri Cerpen
Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata. Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni :
1.         Cerpen mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah.
2.         Cerpen yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah.
3.         Cerpen panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000 buah. Cerpen jenis ini banyak ditulis oleh cerpenis Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Eropa pada kurun waktu 1940-1960 (Pranoto, 2007:13-14).
Berdasarkan teknik cerpenis dalam mengolah unsur-unsur intrinsiknya cerpen dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yakni.
1.     Cerpen sempurna (well made short-story), cerpen yang terfokus pada satu tema dengan plot yang sangat jelas, dan ending yang mudah dipahami. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada realitas (fakta). Cerpen jenis ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya. Pembaca awam bisa membacanya dalam tempo kurang dari satu jam
2.      Cerpen tak utuh (slice of life short-story), cerpen yang tidak terfokus pada satu tema (temanya terpencar-pencar), plot (alurnya) tidak terstruktur, dan kadang-kadang dibuat mengambang oleh cerpenisnya. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat kontemporer, dan ditulis berdasarkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang orisinal, sehingga lajim disebut sebagai cerpen ide (cerpen gagasan). Cerpen jenis ini sulit sekali dipahami oleh para pembaca awam sastra, harus dibaca berulang kali baru dapat dipahami sebagaimana mestinya. Para pembaca awam sastra menyebutnya cerpen kental atau cerpen berat.
Ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo dan Saini adalah sebagai berikut :
·         Ceritanya pendek ;
·         Bersifat rekaan (fiction) ;
·         Bersifat naratif ; dan
·         Memiliki kesan tunggal.
Pendapat lain mengenai ciri-ciri cerita pendek di kemukakan pula oleh Lubis sebagai berikut :
·         Cerita Pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
·         Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
·         Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama.
·         Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.
Menurut Morris, ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut :
·         Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif (brevity, unity, and intensity).
·         Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan, toko, dan gerak (scena, character, and action).
·         Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif, dan menarik perhatian (incicive, suggestive, and alert).
2.5     Unsur-unsur Cerpen
Secara dikotomi unsur cerpen dibedakan menjadi dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ektrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur pembangun sastra yang secara eksplisit  terdapat dalam karya sastra  dan dapat diketahui secara langsung, yang meliputi : (1) tema, (2) alur cerita, (3) seting, (4) tokoh dan karakter, (5) sudut pandang pengarang, dan (6) amanat/pesan. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur pembangun sastra yang tidak dapat terlihat secara langsung dalam karya sastra, yaitu :
  1. Latar belakang penciptaan karya sastra.
  2. Latar belakang kehidupan masyarakat saat karya sastra diciptakan.
  3. Biografi pengarang, yang meliputi :
    1. Pendidikan
    2. Agama
    3. Status sosial
    4. Status ekonomi
    5. Budaya, dan lain-lain
Dengan mengetahui atau memahami unsur ekstrinsik dapat membantu seorang apresiator dalam mengapresiasi unsur-unsur intrinsik dalam sebuah karya sastra (cerpen)  sehingga kebenaran apresiasinya dapat mendekati/menyamai apa yang dimaksud pengarang.
2.6    Unsur Intrinsik Cerpen
2.6.1                     Tema
Tema adalah ide sebuah cerita. Sesuatu yang ingin disampaikan pengarang, berupa : masalah kehidupan, pandangan hidupnya  tentang kehidupan atau komentar tentang kehidupan (  Sumardjo dan Saini K.M., 1987 : 56).
Tema adalah gagasan pokok atau subject matter yang dikemukakan oleh penyair (  Waluyo, 1987 : 106)
Tema adalah suatu perumusan dari topik yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi (Keraf, 1970 : 109).
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, tema adalah ide atau gagasan yang disampaikan  pengarang dalam karyanya.
2.6.1.1                Sumber Tema
Sumber tema dapat digali dari empat unsur, yaitu :
a.       Pengalaman.
b.       Pengamatan.
c.        Hasil membaca.
d.       Imajinasi seseorang.
       2.6.1.2  Jenis-Jenis Tema
        Tema dalam karya sastra bermacam-macam, antara lain :
1.       Tema ketuhanan/keagamaan/religius;
2.       Tema kemanusiaan;
Tema kemanusiaan menunjukkan betapa tingginya martabat manusia, dan meyakinkan pembaca bahwa manusia memiliki harkat/martabat yang sama.
3.       Tema kebangsaan ;
            Tema kebangsaan menunjukkan peningkatan cinta dan bangga terhadap tanah air.
4.       Tema keadilan sosial ;
            Tema ini mengupas kepincangan kehidupan sosial  dalam masyarakat

2.6.2           Plot/Alur Cerita/Jalan Cerita
2.6.2.1                Pengertian Plot
Plot atau jalan cerita adalah kerangka kerja cerita yang merupakan suatu perencanaan yang sangat cerdik dan hati-hati dalam suatu cerita (  Muhsin, 1990 : 127).
Plot adalah unsur-unsur yang menggerakkan sebuah cerita (  Sumardjo dan Saini K.M., 1987 : 49)
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan,   plot atau jalan cerita adalah rangkaian peristiwa yang menimbulkan hubungan sebab akibat dalam sebuah cerita.
Contoh :
Saya terlambat sekolah. Saya terlambat karena sepeda rusak. Sepeda rusak karena  semalam dipakai ayah. Ayah memakai sepeda saya karena sepeda ayah dipakai paman.             
       Sebuah cerita akan bergerak bila muncul konflik. Konflik adalah intisari plot. Plot sering dikronologiskan menjadi :
1)       Pengenalan
2)       Timbulnya konflik
3)       Konflik memuncak
4)       Klimaks
5)       Pemecahan masalah ( Sumardjo dan Saini K.M., 1987 : 49).
2.6.2.2                    Jenis Plot/ Alur Cerita
Jenis Plot/ Alur Cerita dalam cerpen terdiri dari :
1.     Alur maju       : cerita berjalan sesuai urutan waktu (secara kronologis)
2.     Alur mundur   : cerita berjalan ke belakang atau menceritakan kisah-kisah yang lampau
3.     Alur maju mundur        : peristiwa dalam cerpen dikisahkan secara bervariasi  (menggunakan  kedua-duanya)   
4.     Alur klimaks   : intensitas peristiwa dalam cerita semakin lama semakin
memuncak.
5.     Alur antiklimaks            : intensitas peristiwa dalam cerita semakin lama semakin  menurun.


2.6.3           Tokoh dan Karakter
2.6.3.1                    Macam-macam Tokoh
Tokoh dalam cerpen diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :
1.       Tokoh Protagonis    : 
a.         Tokoh yang membawa pesan atau amanat cerpen.
b.         Tokoh yang mempunyai sifat baik.
c.          Tokoh yang biasanya disukai pembaca.
2.       Tokoh Antagonis     :
a.     Tokoh yang bertentangan dengan tema dan amanat dalam   cerpen.
b.      Tokoh yang mempunyai sifat-sifat tidak baik.
c.      Tokoh yang tidak disukai penonton
3.       Tokoh Trigonis :
a.                             Tokoh yang mendukung tokoh protagonis danantagonis
b.                             Tokoh pembantu atau pelengkap
c.                              Tokoh yang kehadirannya kurang diperhatikan pembaca.

2.6.3.2                    Cara Penggambaran Perwatakan Tokoh dalam Cerpen
Karakter tokoh dalam cerpen terkadang langsung diuraikan sendiri oleh pengarang, namun ada pula penentuan karakter tokoh harus dipecahkan sendiri oleh pembaca. Beberepa cara yang digunakan pengarang untuk menggambarkan perwatakan ( Sumardjo dan Saini K.M., 1987 : 65), yaitu :
1.       Melalui apa yang diperbuatnya
                    Watak seseorang tecermin dengan jelas pada sikapnya dalam menghadapi sesuatu. Mungkin dapat muncul watak senang, khawatir, gelisah, curang dan sebagainya.
2.       Melalui ucapan-ucapannya
                    Dari apa yang diucapkan dapat dikenali apakah tokoh itu orang tua, anak-anak, berasal dari suku mana. Berbudi halus atau tidak, sombong atau rendah hati.
3.       Melalui penggambaran fisik tokoh
                    Karakter tokoh ditunjukkan oleh deskripsi fisik tokoh yaitu : bentuk tubuh, cara berpakaian, transportasi yang dipakainya, warna kulit, bentuk rambut.
4.       Melalui pikiran-pikirannya
                    Ide atau gagasan yang dimiliki tokoh dapat digunakan dalam menentukan watak tokoh.
5.       Melalui penjelasan langsung oleh pengarang
                    Pengarang secara langsung menggambarkan watak tokoh. Pembaca tinggal menerima dan mengiakan penggambaran watak dari pengarang.
2.6.4           Seting/latar
Seting adalah tempat, waktu, suasana  terjadinya peristiwa. Jakob Sumardjo dan Saini K.M. , 1987 :76 dalam bukunya Apresiasi Kesusastraan mengatakan bahwa seting dapat membentuk plot tertentu dan tema tertentu. Seting bisa berarti banyak, yaitu tempat tertentu, daerah tertentu, orang-orang tertentu dengan watak-watak tertentu, cara hidup tertentu, dan cara berpikir tertentu.
Secara lazim seting dibagi menjadi tiga yaitu :
  1. Seting tempat
  2. Seting waktu
  3. Seting suasana
Contoh              : Ayah hanya mondar-mandir saja. Sesekali minum sisa kopi di cangkir.  Sementara ibu hanya duduk terpaku di kursi ruang tunggu. Tepat pukul 21.00  adik harus dioperasi.
                Kutipan cerita di atas sudah menggambarkan seting secara keseluruhan.
1.       Seting tempat                               : ruang tunggu/rumah sakit
2.       Seting waktu                 : malam (pukul 21.00)
3.       Seting suasana                             : a. ayah  :   gelisah, khawatir
                                                  b. ibu    :   pasrah

2.6.5           Sudut Pandang Pengarang
Sudut pandang pengarang adalah visi pengarang, yaitu sudut pandangan yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian peristiwa.
Jakob Sumardjo dan Saini K.M., 1987 : 83 dalam bukunya Apresiasi Kesusastraan membagi sudut pandang pengarang menjadi empat macam, yaitu :
1. Omniscient poin of view (sudut penglihatan yang berkuasa)
                    Pengarang sebagai penguasa penuh dalam cerita. Pengarang mengetahui jalan pikiran tokoh. Pengarang juga dapat mengomentari perilaku tokoh atau bahkan pengarang bisa berbicara langsung dengan pembacanya.
2.  Objective point  of view
                    Pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi seperti penonton melihat pementasan sandiwara. Pengarang tidak memberikan komentar apa pun kepada para tokoh.
3.  Point of view orang pertama
                    Teknik ini bercerita dengan sudut pandangan orang pertama “Aku”. “Aku”  akan bercerita pengalamannya, kisahnya kepada para pembaca.
4. Point of view peninjau
                    Pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Teknik ini berupa penuturan pengalaman seseorang “si dia”. Pelaku utama point of  view peninjau sering disebut teknik orang ketiga.
Untuk mempermudah pemahaman siswa, sudut pandang pengarang dibedakan menjadi tiga yaitu :
  1. Pengarang serbatahu.
  2. Pengarang sebagai orang pertama pelaku utama (akuan).
  3. Pengarang sebagai orang pertama pelaku sampingan.
  4. Pengarang sebagai orang ketiga pelaku utama (diaan).
  5. Pengarang sebagai orang ketiga pelaku sampingan.

2.6.6           Amanat/Pesan
                Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada penikmat sastra. Pesan yang disampaikan dapat berupa pesan moral, sosial, agama, ekonomi, budaya, dan lain-lain

2.7           Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Lungdren, 1994).
a.         Para  siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama.”
b.         Para  siswa  harus memiliki  tanggungjawab  terhadap  siswa  atau  peserta didik lain  dalam  kelompoknya,  selain  tanggungjawab  terhadap diri  sendiri  dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c.          Para  siswa  harus  berpandangan bahwa mereka  semua memiliki  tujuan  yang sama.
d.         Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggungjawab di antara para anggota kelompok.
e.          Para  siswa  diberikan  satu  evaluasi  atau penghargaan  yang  akan  ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.
f.          Para  siswa  berbagi  kepemimpinan  sementara  mereka  memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
g.          Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Menurut Thompson, et al. (1995), pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur  interaksi  sosial  pada  pembelajaran  sains.  Di  dalam  pembelajaran kooperatif  siswa  belajar  bersama  dalam  kelompok-kelompok  kecil  yang  saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 6 orang siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah  terdiri dari  campuran kemampuan siswa,  jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerja dengan  teman yang berbeda latar belakangnya.
Pada  pembelajaran kooperatif  diajarkan keterampilan-keterampilan  khusus agar  dapat  bekerja  sama  dengan  baik  di  dalam  kelompoknya,  seperti  menjadi pendengar  yang  baik,  siswa  diberi lembar  kegiatan  yang  berisi  pertanyaan  atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1995). 
Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan dimana siswa harus secara individual menemukan dan mentraformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu. (Soejadi dalam Teti Sobari, 2006 : 15). Menurut Slavin (2007) pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Ini membolehkan pertukaran ide dan pemeriksaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsalah konstruktivisme. Dengan demikian, pendidikan dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas serta daya cipta (kreativitas), sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses pembelajaran. Dalam teori konstruktivisme ini lebih mengutamakan pada pembelajaran siswa yang dihadapkan pada masalah-masalah kompleks untuk dicari solusinya, selanjutnya menemukan bagian-bagian yang lebih sederhana atau ketrampilan yang diharapkan. Model pembelajaran ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yanbg lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. (Ratna,  1988 : 181).
Dalam model pembelajaran kooperatif ini, guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya. Siswa mempunyai  kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri.
Menurut pandangan Piaget dan Vigotsky adanya hakikat sosial dari sebuah proses belajar dan juga tentang penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggotanya yang beragam, sehingga terjadi perubahan konseptual. Piaget menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses aktif dan pengetahuan disusun di dalam pikiran siswa. Oleh karena itu, belajar adalah tindakan kreatif dimana konsep dan kesan dibentuk dengan memikirkan objek dan bereaksi pada peristiwa tersebut.
Disamping aktivitas dan kreativitas yang diharapkan dalam sebuah proses pembelajaran dituntut interaksi yang seimbang, interaksi yang dimaksudkan adalah adanya interaksi atau komunikasi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru. Dalam proses belajar diharapkan adanya komunikasi banyak arah yang memungkinkan akan terjadinya aktivitas dan kreativitas yang diharapkan.
Pandangan konstruktivitsme Piaget dan Vigotsky dapat berjalan berdampingan dalam proses belajar konstruktivisme Piaget yang menekankan pada kegiatan internal individu terhadap obyek yang dihadapi dan pengalaman yang dimiliki orang tersebut. Sedangkan konstruktivisme Vigotsky menekankan pada interaksi sosial dan melakukan konstruksi pengetahuan dari lingkungan sosialnya.
Berkaitan dengan karya Vigotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivis menekankan interaksi dengan teman sebaya, melalui pembentukan kelompok belajar. Dengan kelompok belajar memberikan kesempatan kepada siswa secara aktif dan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan siswa kepada teman akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri.
2.7.1 Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari enpat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerjasama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan materi pembelajaran, tetapi juga adanya unsur kerjasama untuk penguasaan materi tertentu. Adanya kerjasama inilah yang menjadi ciri khas dari cooperative learning.
Pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dalam beberapa perspektif, yaitu : 1) Perspektif motivasi artinya penghargaan yang diberikan kepada kelompok yang dalam kegiatannya saling membantu untuk memperjuangkan keberhasilan kelompok. 2) Perspektif sosial artinya melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan. 3) Perspektif perkembangan kogtnitif artinya dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi. (sanjaya, 2006 : 242).
2.7.2 Pembelajaran Secara Tim

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuatg setiap siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.7.3 Didasarkan pada Manajemen Kooperatif

Manajemen seperti yang telah kita pelajari pada bab sebelumnya mempunyai tiga fungsi, yaitu : (a) Fungsi manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan. Misalnya tujuan aapa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan, dan lain sebagainya (b) Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif. (c) Fungsi manajemen sebagai kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun nontes.
2.7.4 Kemauan untuk Bekerjasama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerjasam perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerjasama yang baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.

2.7.5 Ketrampilan Bekerjasama

Kemampuan bekerjasama itu dipraktikkan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu aktivitas pembelajaran yang menggunakan pola belajar siswa berkelompok untuk menjalin kerjasama dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan dan hadiah. (Muslim Ibrahim, 2003 : 3).
Pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan/atau dikehendaki untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu salam lain untuk mencapai satu penghargaan bersama.
Mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
a.         Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
b.         Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
c.          Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d.         Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
e.          Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah / penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
f.          Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan ketrampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g.          Siswa diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Ciri-ciri yang terjadi pada kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif, adalah sebagai berikut :
a.         Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b.         Kelompok dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c.          Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
d.         Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan ketrampilan sosial.
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalma kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalama menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran.
Model pembelajarn kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kooperatif konstruktiv. Hal ini terlihat pada salah satu teori Vigotsky yaitu penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran Vigotsky yakni bahwa fase mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau kerjasama antara individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vigotsky dikehendakinya susunan kelas berbentuk kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan model pembelajaran langsung. Disamping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar kompetensi akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan kompetensi sosial siswa. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik, dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Dalam banyak kasus, norma budaya anak muda sebenarnya tidak menyukai siswa-siswa yang ingin menonjol secara akademis. Robert Slavin dan pakar lain telah berusaha untuk mengubah norma ini melalui penggunaan pembejaran kooperatif. Disamping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas kerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik, siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atags akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih dalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.
Tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif  adalah untuk mengajarkan kepada siswa ketrampilan kerjasama dan kolaborasi. Ketrampilan ini amat penting untuk memiliki di dalam masyarakat dimana banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung sama lain dan dimana masyarakat secara budaya semakin beragam. Sementara itu, banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam ketrampilan sosial. Situasi ini dibuktikan dengan begitu sering pertikaian kecil antara individu dapat mengakibatkan tindak kekerasan atau betapa sering orang menyatakan ketidakpuasan pada saat diminta untuk bekerja dalam situasi kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja. Namun, siswa juga harus mempelajari ketrampilan-ketrampilan khusus yang disebut ketrampilan kooperatif. Ketrampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan, kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan.
Ada tiga bentuk ketrampilan kooperatif sebagaimana diungkapkan oleh Lundgren (1994), yaitu :
a.         Ketrampilan kooperatif tingkat awal
Meliputi : (a) menggunakan kesepakatan; (b) menghargai kontribusi; (c) mengambil giliran dan berbagi tugas; (d) berada dalam kelompok; (e) berada dalam tugas; (f) mendorong partisipasi; (g) mengundang orang lain untuk berbicara; (h) menyelesaikan tugas pada wktunya; dan (i) menghormati perbedaan individu.
b.         Ketrampilan kooperatif tingkat menengah
Meliputi : (a) menunjukkan penghargaan dan simpati; (b) mengungkapkan ketidak-setujuan dengan cara yang dapat diterima; (c) mendengarkan dengan aktif; (d) bertanya; (e) membuat ringkasan; (f) menafsirkan; (g) mengatur dan mengorganisir; (h) menerima, tanggung jawab; (i) mengurangi ketegangan.
c.          Ketrampilan kooperatif tingkat mahir
Meliputi : (a) mengelaborasi; (b) memeriksa dengan cermat; (c) menanyakan kebenaran; (d) menetapkan tujuan; (e) berkompromi.
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif, pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi, sering kali dengan bahan bacaann daripada secara verbal. Selanjutnya, siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.
Tahap
Tingkah Laku Guru
Tahap 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pelajaran dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar.
Tahap 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi atau materi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau melalui bahan bacaan
Tahap 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membimbing setiap keloopok agar melakukan transisi secara efektif dan efisien.
Tahap 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Tahap 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasl kerjanya.
Tahap 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

2.7.6 Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif

Menurut Roger dan david Johnson (lie, 2008) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif (cooperatice learning), yaitu sebagai berikut :
(1)   Prinsip ketergantungan positif (positive interdependence), yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan.
(2)   Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilan kelompok sangatg tegrgantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
(3)   Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), yaitu memberikan kesempayan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.
(4)   Partisipasi dan komunikasi (perticipation sommunication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
(5)   Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

2.7.7 Prosedur Pembelajaran Kooperatif

Prosedur atau langkah-langkah pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu sebagai berikut :
1. Penjelasan materi

Tahap penjelasan dimaksudkan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok.Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran.Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok.Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode ceramah,curah pendapat,dan tanya jawab,bahkan kalau perlu guru dapat menggunakan demonstrasi.Di samping itu guru juga dapat menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik siswa.
2. Belajar dalam kelompok

Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran,selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada keolmpoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya.Pengelompokan dalam SPK bersifat heterogen,artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan=perbedaan setiap anggotanya,baik perbedaan gender,latar belakang agama,social ekonomi dan etnik,serta perbedaan kemampuan akademik.
3. Penilaian

Penilaian dalam SPK dapat dilakukan dengan tes atau kuis.Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa’dan tes kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok. Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya, hal ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil kerja sama setiap anggota kelompok.
Tes individu akan memberikan penilaian kemampuan individu, sedangkan kelompok akan memberikan penilaian pada kemampuan kelompoknya, seperti dijelaskan Sanjaya (2006 : 247). “Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua.
4. Pengakuan tim

Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol,atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.

2.7.8 Strategi Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan system pengelompokan/tim kecil,yaitu antara empat antara enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik,jenis kelamin,rasa tau suku yang berbeda.Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok,setiap kelompok akan memperoleh penghargaan atau reward,jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan.Dengan demikian setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif.Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan memunculkan tanggungjawab individu terhadap kelompok dan ketrampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok.
Strategi Pembelajaran Kooperatif bisa digunakan manakala :
a.       Guru menekankan pentingnya usaha kolektif,disamping usaha individual dalam belajar.
b.       Jika guru menghendaki selruh siswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar
c.         Jika guru ingin menanamkan,bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya.
d.       Jika guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum.
e.        Jika guru menghendaki meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
f.        Jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.
Karakteristik dan prinsip prinsip SPK
Karakteristik SPK
a. Pembelajaran secara tim
b. Berdasarkan pada managemen kooperatif
c. Kemauan unyuk bekerjasama
d. Keterampilan bekerjasama
Prinsip prinsip SPK
a. Prinsip ketergantungan positif
b. Tanggungjawab perseorangan
c. Interaksi tatap muka
d. Partisipasi dan komunikasi

     2.5.9 Keunggulan dan Kelemahan Strategi  Pembelajaran Kooperatif (SPK)
           2.5.9.1   Keunggulan SPK
a.    Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru,akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri,menemukan informasi dari berbagai sumber,dan belajar dari siswa yang lain
b.    SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan idea tau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain
c.     SPK dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan
d.    SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e.     SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan social,termasuk pengembangan rasa harga diri,hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain,mengembangkan ketrampilan mengatur waktu,dan sikap positif terhadap sekolah.
f.     Melalui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri,menerima umpan balik.Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan,karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya
g.     SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
h.    Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir

                2.5.9.2  Kelemahan SPK

a.   Untuk memahami dan mengerti filosofi SPK memang butuh waktu
Cirri utama SPK adalah siswa saling membelajarkan.Oleh karena itu,jika tanpa peer teaching yang efektif,maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru,bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
b.   Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok.Namun demikian,guru perlu menyadari,bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
c.   Keberhasilan SPK dalam paya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.Dan,hal ini tidak mungkin tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan strategi ini.
d.    Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting utnuk siswa, akan tetapi banyak aktifitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampaun secara individual. Oleh karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama,siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri.

      2.5.10    Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Beberapa  ciri  dari  pembelajaran  kooepratif  adalah;  (a)  setiap  anggota memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, (c) setiap anggota  kelompok bertanggung  jawab  atas  belajarnya  dan  juga  teman-teman sekelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal  kelompok,  (e)  guru  hanya  berinteraksi  dengan kelompok  saat diperlukan (Carin, 1993).
Tiga  konsep  sentral  yang  menjadi  karakteristik  pembelajaran  kooperatif sebagaimana  dikemukakan oleh  Slavin  (1995),  yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
a. Penghargaan Kelompok
      Pembelajaran  kooperatif  menggunakan  tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok.  Penghargaan kelompok  diperoleh  jika kelompok  mencapai  skor  di  atas  kriteria  yang  ditentukan.  Keberhasilan kelompok didasarkan  pada  penampilan  individu  sebagai  anggota  kelompok dalam menciptakan  hubungan  antar  personal yang  saling mendukung,  saling membantu, dan saling peduli.
b. Pertanggungjawaban Individu
Keberhasilan kelompok  tergantung  dari  pembelajaran  individu  dari  semua anggota  kelompok.  Pertanggungjawaban  tersebut  menitikberatkan  pada aktivitas  anggota  kelompok  yang  saling  membantu dalam  belajar.  Adanya pertanggungjawaban  secara  individu  juga  menjadikan  setiap  anggota  siap untuk menghadapi  tes  dan  tugas-tugas  lainnya  secara mandiri  tanpa  bantuan teman sekelompoknya.
c. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan
Pembelajaran  kooperatif menggunakan metode  skoring  yang mencakup nilai perkembangan  berdasarkan  peningkatan  prestasi  yang  diperoleh  siswa  dari yang  terdahulu. Dengan menggunakan metode  skoring  ini  setiap  siswa  baik yang  berprestasi  rendah,  sedang,  atau  tinggi  sama-sama  memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.
      2.5.11  Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan  orang  lain.  Sedangkan  tujuan  dari  pembelajaran kooperatif  adalah menciptakan  situasi  di  mana  keberhasilan  individu ditentukan  atau  dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).
Model  pembelajaran  kooperatif  dikembangkan untuk  mencapai  stidak-tidaknya  tiga  tujuan  pembelajaran penting  yang dirangkum  oleh  Ibrahim, et  al. (2000), yaitu:
a. Hasil belajar akademik
Dalam  belajar  kooperatif  meskipun  mencakup beragam  tujuan  sosial,  juga memperbaiki  prestasi  siswa  atau  tugas-tugas  akademis  penting  lainnya. Beberapa ahli  berpendapat  bahwa model ini  unggul  dalam membantu  siswa memahami  konsep-konsep  sulit.  Para  pengembang  model ini  telah menunjukkan bahwa  model  struktur  penghargaan  kooperatif  telah dapat   meningkatkan nilai  siswa  pada  belajar  akademik  dan perubahan  norma yang berhubungan  dengan  hasil  belajar.  Di  samping  mengubah  norma  yang berhubungan  dengan  hasil  belajar,  pembelajaran kooperatif  dapat  memberi keuntungan baik  pada  siswa  kelompok  bawah maupun  kelompok  atas  yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan  ketidakmampuannya.  Pembelajaran  kooperatif  memberi  peluang  bagi siswa  dari  berbagai latar  belakang  dan kondisi  untuk  bekerja  dengan  saling bergantung  pada  tugas-tugas  akademik  dan  melalui  struktur  penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain. 
c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan  penting ketiga  pembelajaran kooperatif  adalah, mengajarkan kepada siswa  keterampilan  bekerja  sama  dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial,  penting  dimiliki  oleh  siswa  sebab  saat  ini  banyak  anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial. .
       2.5.12  Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Urutan langkah-langkah prilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraiakan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada tabel 2.1. sebagai berikut :
Ø  Fase 1: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru  menyampaikan  semua  tujuan, pelajaran yang  ingin dicapai pada pelajaran, tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Ø  Fase 2: Menyajikan informasi Guru  menyajikan  informasi  kepada  siswa, dengan  jalan  demonstrasi  atau  lewat bahan bacaan.
Ø  Fase 3: Mengorganisasikan  siswa Dalam  kelompok-kelompok, belajar, Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya  membentuk kelompok belajar  dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Ø  Fase 4: Membimbing kelompok  bekerja Guru  membimbing kelompok-kelompok, belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Ø  Fase 5: Evaluasi  Guru  mengevaluasi  hasil  belajar  tentang materi  yang  telah dipelajari  atau  masing-masing kelompok  mempresentasikan hasil kerjanya.
Ø  Fase 6: Memberikan penghargaan Guru mencari  cara-cara  untuk menghargai, baik  upaya  maupun hasil  belajar  individu, dan kelompok. Terdapat  enam  fase utama dalam pembelajaran kooperatif  (Arends, 1997). Pembelajaran  dalam  kooperatif  dimulai  dengan guru menginformasikan  tujuan-tujuan  dari  pembelajaran  dan  memotivasi  siswa  untuk  belajar.  Fase  ini  diikuti dengan  penyajian  informasi,  sering  dalam  bentuk  teks  bukan  verbal. Kemudian dilanjutkan  langkah-langkah  di  mana  siswa  di  bawah  bimbingan  guru bekerja bersama-sama  untuk  menyelesaikan  tugas-tugas  yang  saling  bergantung. 
Ø  Fase terakhir dari pembelajaran kooperatif meliputi penyajian produk akhir kelompok atau mengetes apa yang telah dipelajari oleh siswa dan pengenalan kelompok dan usaha-usaha individu.

      2.5.13  Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif

Walaupun  prinsip dasar  pembelajaran kooperatif  tidak  berubah,  terdapat beberapa  variasi  dari  model  tersebut.  Ada empat  pendekatan pembelajaran kooperatif  (Arends, 2001). Di  sini akan diuraikan  secara  ringkas masing-masing pendekatan tersebut.

2.8       Pengertian Pembelajaran Kooperatif  Tipe CIRC  (Cooperative  Integrated Reading and Composition)
Pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Compotition) adalah sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Pengembangan model    pembelajaran CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition) yang  secara secara stimulan difokuskan pada kurikulum dan metode – metode pembelajaran merupakan sebuah upaya untuk memperkenalkan teknik terbaru latihan -latihan kurikulum yang berasal dari penelitian dasar mengenai pengajaran praktis pelajaran membaca dan menulis. Pendekatan pembelajaran kooperatif mengikuti penemuan pada penelitian sebelumnya, menekankan tujuan -tujuan kelompok dan tanggung jawab individual.
Pengembangan CIRC dihasilkan dari sebuah analisis masalah-masalah tradisional dalam pengajaran pelajaran membaca, menilis, seni berbahasa. Isu-isu prinsipil yang ditujukan dalam proses pengembangan.
Satu fokus dari kegiatan dari kegiatan-kegiatan CIRC sebagai cerita dasar adalah membuat penggunaan waktu tindak lanjut menjadi lebih efektif : Para siswa yang bekerja di dalam tim-tim kooperatif dari kegiatan-kegiatan ini, yang dikoordinasikan dengan pengajaran kelompok membaca, supaya dapat memenuhi tujuan-tujuan dalam bidang-bidang lain seperti pemahaman membaca, kosa kata, pembacaan pesan, dan ejaan. Para siswa termotivasi untuk saling bekerja satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan ini atau rekognisi lainya yang didasarkan pada bembelajaran seluruh anggota tim.
Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok satu sama lain.
Dengan pembelajaran kooperatif, diharapkan para siswa dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.
a.       Komponen-komponen dalam pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno (2005: 3-4) memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain:
1.      Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4  atau 5 siswa
2.      Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu.
3.      Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya
4.      Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberika bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya.
5.      Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
6.      Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok
7.      Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa
8.      Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.
b.      Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu:
1.      Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal.
2.      Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variable.
3.      Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah.
4.      Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut.
5.      Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (Suyitno, 2005:4).
c.       Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempun dengan:
1.      Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan.
2.      Guru memberikan latihan soal.
3.      Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC.
4.      Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen.
5.      Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok.
6.      Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik.
7.      Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC. Guru mengawasi kerja kelompok.
8.      Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya.
9.      Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan.
10.  Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya.
11.   Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator.
12.   Guru memberikan tugas/PR secara individual.
13.   Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya.
14.  Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal pemecahan masalah.
15.  Guru memberikan kuis.
d.      Kelebihan model pembelajaran CIRC
Secara khusus, Slavin dalam Suyitno (2005:6) menyebutkan kelebihan model pembelajaran CIRC sebagai berikut:
1.      CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah.
2.      Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang.
3.      Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok.
4.      Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya.
5.      Membantu siswa yang lemah.
6.      Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah
7.      Pengalaman dan kegiatan belajar anak didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
8.      Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar anak didik akan dapat bertahan lebih lama.
9.      Membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam proses pembelajaran.













BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas secara teratur dan sistematis dalam kegiatan penelitian, termasuk metodologi atau teknik pengumpulan data yang digunakan. Menurut yoseph (dalam sukardi, 2004), penelitian adalah suatu seni dan ilmu (art and science) yang bertujuan untuk mencari jawaban terhadap suatu masalah. Oleh karena itulah dalam penelitian, kejelasan hal-hal yang mencakup dalam metodologi penelitian yang sangat diperlukan. Hal-hal yang mencakup dalam metodologi penelitian meliputi : (1) Metode penelitian, (2) Jenis dan rancangan penelitian, (3) Lokasi dan waktu penelitian, (4) subjek penelitian, (5) Jenis dan sumber data, (6) Teknik pengumpulan data, (7) Instrument penelitian, (8) Teknik analisa data.

3.1. Metode Penelitian

67
 
                Metode merupakan cara utama yang digunakan untuk mengkaji serangkaian hipotesis dengan mempergunakan teknik-teknik serta alat-alat tertentu. Setelah melaksanakan suatu penelitian atau kegiatan, baik yang bersifat tetap atau sewaktu-waktu, apalagi kegiatan yang bersifat ilmiah, tentunya memerlukan cara-cara metode yang sesuai dan memadai sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan.
                Dalam penelitian tindakan terdapat beberapa karakteristik antara lain bertujuan untuk memecahkan masalah di kelas dengan penerapan langsung, hasil penelitian tidak bersifat universal. Berdasarkan hal tersebut, untuk mendapatkan data yang sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan, maka harus digunakan cara yang sistematis dan terstruktur sehingga hasil yang diperoleh pada saat penelitian benar-benar akurat tanpa ada rekayasa. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, tentunya penelitian ini harus menggunakan metode yang tepat. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk tujuan mendeskripsikan suatu gejala atau peristiwa yang terjadi pada masa sekarang.
Metode deskriptif mempunyai ciri-ciri tertentu, yakni bahwa metode deskriptif itu:
1.         Memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, pada masa-masa yang aktual.
2.         Data yang dikumpulkan kemudian disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa. Sehingga pelaksanaan metode deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan data dan penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang data itu.
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini yaitu memperoleh gambaran yang obyektif mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (cooperatif integrated reading and composition) untuk meningkatkan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012.
3.2. Jenis dan Rancangan Penelitian
3.2.1. Jenis Penelitian
                Ditinjau dari segi penganalisisan data secara statistik, jenis penelitian dibedakan menjadi dua jenis yaitu: (1) Jenis penelitian kuantitatif, (2) Jenis penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah data yang dapat dianalisis secara statistik tanpa diolah dulu karena sudah berbentuk angka-angka, sedangkan penelitian kualitatif adalah data yang tidak dapat diukur dan dianalisa secara langsung dengan teknik statistik, tetapi harus diolah dulu menjadi bentuk angka-angka.
Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif penulis gunakan untuk pengujian hipotesis, karena data yang terkumpul berupa angka dengan analisis statistik.

3.2.2  Rancangan Penelitian
                Prosedur penelitian ini berupa penelitian tindakan kelas (PTK) dimana prosedur pelaksanaannya mengikuti prinsip dasar tindakan kelas. PTK merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama untuk meningkatkan hasil pembelajaran (Arikunto,  2006 : 91).
                Menurut Hopkins PTK adalah penelitian ytang dirancang untuk membantu guru mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam kelasnya dan menggunakan informasi itu untuk membuat keputusan yang tepat untuk kesempatan berikutnya.

Penelitian tindakan kelas dilakukan dalam dua siklus yaitu proses tindakan pada siklus I dan proses tindakan pada siklus II. Siklus I bertujuan untuk mengetahui kemampuan menemukan unsur instrinsik sebelum menggunakan pembelajaran kooperatif tipe CIRC dipakai sebagai refleksi untuk menulis siklus II. Sedangkan siklus II bertujuan mengetahui kemampuan dalam menemukan unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC. pada siswa setelah dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran yang didasarkan pada siklus I. Apabila pemecahan masalah belum terselesaikan maka dapat dilanjutkan pada siklus III. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi. Di bawah ini adalah gambaran desain penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus.


 










Gambar 3 . 1
Desain Penelitian Tindakan Kelas
(Kemmis & Mc Taggart, dalam Arikunto; 2006 : 97)

Tahap pertama dalam PTK adalah perencanaan, yaitu rencana tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar dalam menemukan unsur instrinsik sebelum menggunakan metode kooperatif tipe CIRC. Tahap kedua adalah tindakan, yaitu hasil belajar dalam menemukan unsur instrinsik cerpen  melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Tahap yang ketiga adalah pengamatan, yaitu pengamatan peneliti terhadap peran serta siswa selama pembelajaran dan pengamatan terhadap hasil kerja siswa. Tahap yang ke empat adalah refleksi, yaitu kegiatan mengkaji dan mempertimbangkan hasil yang diperoleh dari pengamatan sehingga dapat dilakukan terhadap proses pembelajaran selanjutnya.
3.3  Prosedur Penelitian
                Sesuai dengan jenis penelitian yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) maka prosedur yang ditempuh dalam penelitian ini melalui dua siklus pembelajaran seperti pada gambar di atas, sebab setelah dilakukan refleksi yang meliputi analisis dan penelitian terhadap tindakan sebelumnya akan muncul permasalahan atau pemikiran baru sehingga dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang dan refleksi ulang. Masing-masing siklus memiliki empat tahapan sebagai berikut :

   3.3.1  Siklus I
       Prosedur tindakan pada siklus I berupa perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi.
1.         Perencanaan
       Pada tahap perencanaan ini peneliti menyiapkan perencanaan yang matang untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan oleh peneliti. Rencana kegiatan yang dilakukan adalah : (1) menyusun rencana pembelajaran memahami unsur instrinsik cerpen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC, (2) mendiskusikan dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia, apakah pernah menerapkan metode pembelajaran tersebut, (3) membuat dan menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar evaluasi, (4) menyusun pedoman pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik cerpen melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
  1. Pelaksanaan
Tindakan adalah perubahan yang dilakukan oleh guru sebagai upaya untuk pelaksanaan dan peningkatan sebagai solusi. Tahap ini merupakan penerapan rancangan yang telah dibuat. Tindakan yang dilakukan secara garis besar adalah pelaksanaan pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur imstrinsik cerpen melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC: (1) Melaksanakan pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC, (2) Pembelajaran dilakukan sewajar mungkin, sehingga berlangsung secara teratur, (3) Sambil melaksanakan pembelajaran, peneliti mengamati dan mengumpulkan data sebagai kemampuan, sikap dan perilaku siswa selama pembelajaran mengapresiasi cerpen.

3.       Pengamatan
        Pengamatan dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan-tindakan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran menemukan unsur instrinsik yaitu siswa harus memahami isi cerpen dengan menentukan tema, setting/lattar, alur/plot, tokoh/penokohan, amanat, sudut pandang. Pengamatan ini meliputi aktifitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan respon terhadap model pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
        Pengamatan dilakukan melalui data observasi yaitu: (1) Tes untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik, (2) Dokumentasi foto digunakan sebagai laporan yang berupa gambar aktifitas siswa selama mengikuti pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur ekstrinsik melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
4.      Refleksi
        Refleksi dilakukan untuk menganalisis hasil observasi dan tes siklus I dengan tujuan untuk mengevaluasi diri. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I diperbaiki pada siklus II.
        Tahap refleksi ini dilakuakan untuk menanalisis hasil observasi dan tes yang telah dilakukan pada siklus I. Hasil analisis ini digunakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari metode pembelajaran yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui tindakan-tindakan yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

3.3.2. Siklus II
                Prosedur penelitian pada siklus II terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
1.     Perencanaan
Perencanaan yang akan dilakukan penelitin pada siklus II ini masih berpedoman pada hasil analisis kesalahan dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC yang terjadi pada siklus I. Perencanaan yang dilakukan oleh peneliti pada siklus II merupakan penyempurna dari perencanaan pada siklus I. Perencanaan ulang menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran, instrumen tes dalam bentuk esai, model pembelajaran kooperatif tipe CIRC yang digunakan dan lembar observasi aktifitas siswa.
2.       Pelaksanaan
Tindakan pada siklus II adalah tindakan yang merupakan perbaikan-perbaikan dari siklus I. Peneliti menggunakan metode pembelajaran yang sama, tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan perencanaan pada proses pembelajaran yang telah dipersiapkan. Tindakan yang dilakukan adalah pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure insstrinsik melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Ada beberapa pembaharuan tindakan pada tahap ini antara lain: (1) Melaksanakan pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure ekstrinsik melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC, (2) Pembelajaran dilakukan sewajar mungkin, siswa harus lebih berkonsentrasi dalam kegiatan pembelajaran, (3) Sambil melaksanakan pembelajaran, peneliti mengamati dan mengumpulkan data berbagai kemampuan, sikap, dan perilaku siswa selama pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik.

3.     Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kemampuan dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure insstrinsik setelah dilakukan pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk mengetahui perubahan tingkah laku siswa dalam pembelajaran tersebut.
Pada tahap ini, peneliti mempersiapkan lembar pedoman observasi. Data diperoleh melalui beberapa cara yaitu: (1) Observasi untuk mengamati dalam proses pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik, (2) Keseriusan siswa dalam memperhatikan materi pelajaran, (3) Keantusiasan siswa dalam menanggapi materi pembelajaran dan keaktifan siswa  dalam berkelompok, (4) Teks untuk mengukur kemampuan dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure ekstrinsik.
4.     Refleksi
Refleksi pada siklus II dilakukan untuk mengetahui keefektifan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC pada pembelajaran dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan perbaikan tindakan pada siklus I. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan hasil non tes pada pembelajaran dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik yang dilakukan untuk merefleksi hasil evaluasi belajar siswa pada siklus I.
Refleksi pada siklus II ini dilakukan untuk merefleksi hasil evaluasi belajar siswa pada siklus I. Tujuan refleksi ini dilakukan untuk menentukan kemajuan yang telah dicapai selama proses pembelajaran dalam memahami unsure instrinsik cerpen setelah dilakukan pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dan untuk mencari kelemahan-kelemahan yang mungkin masih muncul pada siklus II.
Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan dua jenis penelitian yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif penulis gunakan untuk pengujian hipotesis karena data yang terklumpul berupa angka dengan analisis statistik. Sedangkan penelitian kualitatif penulis gunakan untuk menyusun data yang harus diolah dahulu menjadi bentuk angka-angka.

3.4  Lokasi dan Waktu Penelitian
      3.4.1  Lokasi Penelitian
                Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di MTs Al Musthofa Grabagan Tuban yang tepatnya berada di Desa Grabagan Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban. Alasan peneliti memilih sekolah ini sebagai lokasi penelitian adalah :
1.         Metode pembelajaran yang diterapkan guru kurang efektif, sehingga sebagian siswa kurang tanggap terhadap pelajaran yang diajarkan, hal ini didukung dengan sarana dan prasarana yang belum memadai.
2.         Materi pelajaran yang diberikan ada di kelas VII A, karena penerapan model pembelajaran tipe CIRC dalam pokok bahasan memahami unsur instrinsik merupakan inovasi baru dalam model pembelajaran guna memperbaiki kualitas pembelajaran.

       3.4.2  Waktu Penelitian
                Adapun penelitian tindakan kelas (PTK) tepatnya dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2011 / 2012 selama empat kali pertemuan untuk dilaksanakan dus siklus dengan rincian sebagai berikut :
Tabel 3.1
Waktu Penelitian
No
Hari / Tanggal
Kegiatan
1
Selasa , 01 Mei 2012
Observasi
2
Kamis , 03 Mei 2012
Perencanaan dan pelaksanaan siklus I
3
Selasa , 08 Mei 2012
Perencanaan dan pelaksanaan siklus II

3.5  Subyek Penelitian
Subjek yang penulis tetapkan tersebut mempunyai ciri-ciri tertentu yakni yang sama, yakni (1) setiap siswa mempunyai tingkat kecerdasan dan cara berfikir yang sama, (2) setiap siswa diberi materi pelajaran yang sesuai dengan kurikulum KTSP kelas VII untuk materi pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, dan (3) semua siswa MTs Al Musthofa Grabagan tahun pelajaran 2011/2012 dalam keadaan normal. Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut penulis menentukan kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012 dalam keadaan normal.

Tabel 3.2
Jumlah Siswa Kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan
No
Siswa
Siswa Putra
Siswa Putri
Jumlah
1
Kelas VII A
14
19
33

                Sesuai dengan hal di atas peneliti menggunakan subjek siswa, dengan menggunakan kelompok-kelompok yang beragam kemampuan, jenis kelamin dan sukunya. Peneliti menggunakan kelompok yang terdiri dari 5 anggota.
                Setiap mengadakan penelitian, seorang peneliti akan memiliki luas daerah yang berbeda sebagai tempat penelitian. Jika daerah penelitian luas dapat mengambil prosedur,
                Demikian Arikunto memberikan gambaran bahwa besar kecilnya yang hendak diteliti terserah kepada peneliti. Berdasarkan dengan pemikiran tersebut, dalam penelitian ini sesuai dengan pendekatan yang digunakan, penulis mengambil suatu kesimpulan bahwa subjek penelitian dapat dijadikan obyek penelitian. Adapun yang diambil sebagai subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan jumlah 33 siswa.


Tabel 3.3
Jumlah Siswa Kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan
No
Nama Siswa
Jenis Kelamin
1
Abdul Wahid
L
2
Ahmad Subekti
L
3
Ainur Roup
L
4
Ali Masroni
L
5
Amilatus Sholihah
P
6
Andi Nastiawan
L
7
Aris Susanto
L
8
Chusnul Chotimah
P
9
Dion Alfarizi
L
10
Era Monita
P
11
Fifin Anggraeni
P
12
Ida Elina Sari 
P
13
Imam Zakiudin
L
14
Lailatul Udayanti
P
15
M  Abdul Wakhid
L
16
Moh. Abdul Rokhim
L
17
Moh.Ali Susilo
L
18
Muhammad Muslih
L
19
Nita 
P
20
Nurul Habibah 
P
21
Oktavia Iis Sholikhah
P
22
Putri Indayati
P
23
Risa Selviana
P
24
Riska
P
25
Saifudin
L
26
Selviana Jayanti
P
27
Siti Mutoharoh
P
28
Taufik
L
29
Tutut Andriantika
P
30
Umatul Istiqomah 
P
31
Wahyu Milasari 
P
32
Winarsih
P
33
Wiwin Lisdiawati
P

3.6  Jenis dan Sumber Data
   3.6.1  Jenis Data
                Menetapkan jenis data yang relevan dengan permasalahan, merupakan langkah pokok dalam proses penelitian. Karena baik buruknya hasil penelitian, sebagian dipengaruhi dengan baik buruknya jenis data yang dikumpulkan dengan tujuan penelitian.
                Berdasarkan jenisnya, data penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1.         Data primer, adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date.
2.         Data sekunder, adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti menggunakan dua data yaitu data primer dan data skunder. Data primer sebagai acuan dalam pengambilan data, yaitu peneliti mengumpulkan data langsung dari masing-masing siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012 yang berupa nilai.
      3.6.2  Sumber Data
                Data tentang kemampuan dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC diambil secara langsung dari sumbernya. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012. Sumber data yang utama dalam penelitian ini adalah berasal dari siswa yakni berupa lembar kerja siswa dalam bentuk essay. Selain itu untuk mendukung data dari penelitian ini maka ada beberapa macam sumber data pendamping diantaranya dokumentasi.

3.7 Teknik Pengumpulan Data
                Suatu penelitian dapat berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan apabila sudah terkumpul data yang diperlukan yang akan dijadikan obyek dalam penelitian. Untuk memperoleh data yang valid, akurat dan dapat dipercaya, diperlukan teknik pengumpulan data yang tepat, yaitu harus sistematis dan terencana. Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah teknik tes dan teknik non tes.
   3.7.1  Teknik Tes
                Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan tes. Adapun pengertian tes menurut Arikunto (2006 : 223) menjelaskan bahwa : Tes adalah serentetan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Tes ini dilakukan sebanyak dua kali yakni pada kedua siklus dilakukan tes untuk mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur insstrinsik melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC dan sebelum menggunakan metode kooperatif tipe CIRC. Kekurangan pada siklus pertama harus diperbaiki pada siklus kedua.
                Dalam penelitian ini siswa melaksanakan tugas kelompok yakni setiap siswa memahami isi cerpen. Sehingga setiap kelompok dengan mudah mengapresaiasikan cerpen yang telah dibaca. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data dan teknik tes adalah :
1.         Memberikan materi pelajaran tentang unsur instrinsik cerpen.
2.         Siswa diberi tugas untuk mengapresiasi unsur instrinsik cerpen.
3.         Meneliti dan mengolah data dari hasil penelitian.
Peneliti mengukur kemampuan siswa dalam mengapresiasi unsur ekstrinsik cerpen berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II.


   3.7.2 Teknik Non Tes
       Instrumen non tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai   berikut :
1.          Observasi
Observasi adalah cara mengumpulkan data dengan melihat alat indera terhadap obyek yang langsung ditangkap pada saat itu. Observasi disini berupa lembar pengamatan aktivitas  siswa dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur insstrinsik melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Selain itu pula diamati pengelolahan pembelajaran selama proses belajar mengajar. Pelaksanaan pengamatan dilakukan dengan cara bekerjasama dengan teman peneliti mulai awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran. Data pengamatan terhadap perilaku siswa selama proses pembelajaran.

2.          Tes Hasil Belajar
Data hasil kemampuan siswa dalam cerpen dikaji dari unsur instrinsik melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat diperoleh dari tes yang diberikan guru penelitian. Bentuk tes yang diberikan berupa tes subyektif, yaitu siswa  disediakan sebuah cerpen untuk dikaji dan  dipahami unsur Instrinsiknya, kemudian diapresiasikan sesuai dengan kemampuan siswa yang selanjutnya didiskusikan dari masing-masing kelompok, pada siklus I hasil belajar siswa masih menunjukkan rata-rata dibawah standart yang telah ditetapkan. Sedangkan pada siklus II, hasil belajar siswa sudah terlihat peningkatannya.
Tes tertulis adalah upaya memperoleh data kemampuan siswa dengan melakukan uji dengan jawaban yang harus ditulis pada lembar jawaban yang tersedia. Tes tulis ini dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur Instrinsik melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
Berkaitan dengan tes tulis ini, perlu ditegaskan  bahwa yang diukur adalah kemampuan dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur Instrinsik melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Kemampuan yang diukur pada diri siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagn meliputi (1) Kemampuan mengapresiasi cerpen, (2) penggunaan metode kooperatif tipa CIRC dalam memahami unsur instrinsik cerpen.
Dengan memakai rumus statistik sederhana (mean) di bawah ini :

Keterangan :
Mean : jumlah nilai rata-rata
∑x                        : jumlah seluruh nilai kelas
N                          : jumlah siswa

     3.7.3  Dokumentasi
Dokumentasi merupakan instrumen non tes yang cukup penting, yaitu sebagai bukti dokumen kegiatan yang dilaksanakan selama penelitian. Peneliti memandang perlu menggunakan dokumen photo untuk memperoleh rekaman gambar aktivitas siswa selama mengikuti proses belajar mengajar sebagai bukti visual. Melalui dokumentasi photo ini, akan memperkuat data baik observasi, wawancara maupun jurnal sehingga data menjadi lebih jelas dan lengkap.

3.8    Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data, dibutuhkan suatu isntrumen. Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (2006 : 149) bahwa instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti cermat, lengkap dan sistematis. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini antara lain : lembar tes, lembar observasi dan dokumentasi.
Berdasarkan teknik pengumpulan data di atas maka instrumen pada penelitian ini berupa tes subyektif. Tes subyektif bentuk uraian, digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan siswa dalam mengapresiasikan unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif  tipe CIRC
1.       Lembar Tes
Tes ini bertujuan menguji kemampuan siswa dalam menemukan unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Selain tes ini juga berfungsi untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa ditinjau dari hasil tes belajar siswa. Tes hasil belajar siswa tersebut diperoleh melalui prestasi siswa selama kegiatan mengapresiasi unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif tipe  CIRC.
Bentuk tes ini berupa tiga soal uraian untuk mengapresiasi unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC, dan mengungkapkan kembali hasil apresaiasi siswa  dengan bahasa sendiri dengan nilai maksimal 100. Aspek dan skor penilaian dapat dilihat jelas pada tabel di bawah ini :
Tabel 3.4
Aspek dan penilaian Mengapresiasi Unsur Instrinsik Cerpen
No
Kriteria
Skor
1
Menyebutkan unsur instrinsik cerpen  :
a.       Jawaban lengkap dan tepat                                                                                            
b.       Jawaban kurang lengkap dan tepat
c.        Jawaban kurang lengkap dan kurang tepat

20
12
5
2
Mengapresiasikan unsur instrinsik cerpen :
a.       Jawaban lengkap dan tepat
b.       Jawaban kurang lengkap dan tepat
c.        Jawaban kurang lengkap dan kurang tepat

50
35
25
3
Mempresentasikan hasil apresiasi cerpen  :
a.       Siswa Aktif dan Komunikatif  ketika presentasi
b.       Siswa Kurang Aktif dan Komunikatif  ketika presentasi
c.        Siswa Kurang Aktif dan Kurang Komunikatif  ketika presentasi

30
15
10

                                                                                
Tabel 3.5
Kategori Penilaian Soal dalam Mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik
No
Kategori
Rentang Nilai
Frekwensi
1
2
3
4
5
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang
85 – 100
65 – 84
45 – 64
25 – 44
0 – 24

Jumlah Siswa

33

2.       Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran mengapresiasi unsur ekstrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif jigsaw. Yang bertindak sebagai pengamat adalah penulis dan mitra penulis untuk mengisi lembar aktivitas siswa. Adapun lembar observasi adalah sebagai berikut :

Tabel 3.6
Lembar Observasi Peneliti
No
Kegiatan / Aspek yang Dinilai
BS
B
C
K
1
Antusias siswa dalam mengikuti KMB




2
Kemampuan dalam memahami unsur ekstrinsik cerita




3
Keaktifan dalam bertanya




4
Keaktifan siswa mencari sumber belajar




5
Kelancaran siswa dan menjawab pertanyaan




BS           : 86 – 100
B             : 71 – 85
C             : 60 – 70
K             : Dibawah 60

3.9    Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah cara yang dipergunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari penelitian. Seluruh data yang mendapatkan data yang nyata mengenai pemahaman dalam mengapresiasi unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif CIRC. Jenis data kualitatif adalah jenis data yang tidak dapat diukur dan dianalisis secara langsung dengan teknik statistik, tetapi harus diolah menjadi bentuk angka-angka. Sedangkan jenis data kuantitatif adalah jenis data yang dapat dianalisis secara statistik tanpa diolah dulu karena sudah berbentuk angka-angka.
Penelitian tindakan kelas ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dan teknik analisis data.


3.9.1      Teknik Analisis Data Kualitatif
Teknik analisis data kualitatif digunakan untuk menganalisis data non tes. Data kualitatif diperoleh dari data observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data kualitatif digunakan selama dan setelah pengumpulan data mengikuti siklus yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas. Teknik analisis data kualitatif ini juga dapat dilakukan untuk mendeskripsikan permasalahan dan proses pembelajaran dalam mengapresiasi unsur Instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif CIRC pada siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012.

3.9.2      Teknik Analisis Data Kualitatif
Teknik dari analisis data kualitatif diperoleh dari hasil tes siswa yang berupa angka. Pada setiap tes yang diberikan guru pada akhir siklus. Data ini diolah agar dapat mengetahui kemampuan siswa dalam pembelajaran mengapresiasi unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif jigsaw.
Dengan memakai rumus statistik (mean) di bawah ini :


 

Keterangan :
Mean     : jumlah nilai rata-rata
∑x           : jumlah seluruh nilai kelas
N             : jumlah siswa
Teknik analisis data kuantitatif dilakukan pada akhir pembelajaran setelah diberikan tes memahami unsur cerita. Hasil presentase kemampuan siswa tiap-tiap tes kemudian dibandingkan antara pra siklus, siklus I, siklus II. Melalui perhitungan ini akan diketahui peningkatan hasil belajar siswa dalam mengapresiasi unsur Instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif CIRC siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012.