PARADIGMA
PENDIDIKAN
MENURUT
BEHAVIORISME DAN KONSTRUKTIVISME
Kurikulum merupakan bagian dari sistem
pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dengan komponen sistem lainnya. Tanpa
Kurikulum suatu sistem pendidikan tidak dapat dikatakan sebagai sistem
pendidikan yang sempurna. Ia merupakan n ruh (spirit) yang menjadi gerak
dinamik suatu sistem pendidikan, Ia juga merupakan sebuah idea vital yang
menjadi landasan bagi terselenggaranya pendidikan yang baik. Bahkan, kurikulum
seringkali menjadi tolok ukur bagi kualitas dan penyelenggaraan pendidikan.
Baik buruknya kurikulum akan sangat menentukan terhadap baik buruknya kualitas output
pendidiksan, dalam hal ini, peserta didik.
Berikut adalah dua pandangang yang
menyinggung tentang pendidikan di Indonesia
1.
PARADIGMA PENDIDIKAN MENURUT FAHAM BEHAVIORISME
Menurut Behaviorisme
pengetahuan itu sebagai sesuatu yang eksternal dan proses belajar sebagai
kegiatan internalisasi pengetahuan.
Hasil dari proses belajar menurut teori ini adalah perubahan tingkah laku,
layaknya mesin yang dimasukkan program kemudian program itu berjalan sebagaimana program yang
telah dibuat tersebut. Begitu juga proses belajar pada dunia pendidikan
dianggap sebagai transfer of knowledge, beranggapan bahwa peserta didik adalah
botol kosong yang dapat diisi sesuai dengan kehendak guru. Guru dan murid
terlihat seperti relasi antara penguasa dan yang dikuasai.disini Guru sebagai
pusat pembelajaran dan bahkan merupakan satu-satunya sumber pembelajaran
2.
PARADIGMA PENDIDIKAN
MENURUT FAHAM KONSTRUKTIVISME
Faham konstruktivisme lahir ketika behaviorisme
banyak ditolak oleh kaum konstruktivisme dan faham ini sebagai
anti tesis behaviorisme. Faham ini
beranggapan bahwa peserta belajar adalah organisme aktif serta dengan usahanya dapat menciptakan makna tersendiri
sebagai hasil dari proses belajar. Paham ini melihat peserta didik adalah subyek
(pelaku) dalam proses belajar, dilandasi oleh teori konstruktivisme yang
menyatakan bahwa pebelajar menciptakan pengetahuan saat berusaha memahami
pengalaman-pengalamannya. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky
menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan
(konstruktivisme sosial) sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi
individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Selain itu Konstruktivisme juga
menilai bahwa pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran
guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun
struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya.
Relasi yang terbangun adalah guru hanyalah berfungsi sebagai mediator,
fasilitor dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya
konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Teori ini bersandarkan pikiran bahwa seorang siswa sesungguhnya
pengemudi sekaligus pengendali informasi dan pengalaman baru yang mereka
peroleh dalam sebuah proses memahami, mencermati secara kritis, sekaligus
melakukan re-interpretasi pengetahuan dalam sebuah siklus belajar-mengajar.
Meskipun kita tahu bahwa belajar adalah suatu penafsiran personal dan unik dalam sebuah konteks sosial, tetapi akan lebih bermakna
jika akhir dari suatu proses pembelajaran dapat secara langsung memotivasi
siswa untuk memahami sekaligus membangun arti baru.
Jika output dari pendidikan
Indonesia adalah menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berfikir untuk
menyelesaikan setiap persoalan hidup yang dihadapi, bukan hanya mesin atau
robot yang mudah digerakkan kesana kemari, maka teori konstruktivisme patut
dijadikan landasan dalam dunia pendidikan kita.
3.
Tabel Penjelasan
Faham Behaviorisme dan Konstruktivisme Secara Singkat
Behaviorisme
|
Kognitif-Konstructivisme
|
Sosial-Konstructivisme
|
|
Pengetahuan
|
gudang respon
prilaku terhadap rangsanagan lingkunan
|
secara aktif
terbangun berdasarkan struktur yang telah ada pada peserta belajar
|
dibangun secara
sosial
|
Belajar
|
terjadi secara
pasif, melalui penyerapan pengetahuan oleh siswa yang ditingkatkan melalui
repetisi dan renforcement positif.
|
asimilasi dan
akomodasi aktif dari informasi baru kedalam struktur kognitif yang telah ada.
Ditemukan dan dibangun oleh peserta belajar.
|
asimilasi dan
akomodasi kolaboratif informasi baru yang diintegrasikan dalam pengetahuan
komunitas.
|
Motivasi
|
Extrinsik:
melalui reward dan hukuman
|
Intrinsik:
peserta belajar menyusun tujuan atau apa yang ingin dikuasainya dan mendorong
dirinya sendiri untuk belajar.
|
Intrinsik and
extrinsik. tujuan belajar dan motivasi ditentukan baik oleh peserta belajar
dan reward extrinsik diberikan oleh komunitas atau kelompok.
|
Pembelajaran
|
Guru
menyampaikan dan peserta belajar menyerap informasi.
|
Guru
memfasilitasi pembelajaran dengan memberikan lingkungan yang dapat mendorong
penemuan dan asimilasi atau akomodasi pengetahuan.
|
terjadi melalui
belajar kolaboratif yang difasilitasi dan dibimbing oleh guru. Kerja
kelompok.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar