Senin, 26 November 2012

PARADIGMA PENDIDIKAN MENURUT BEHAVIORISME DAN KONSTRUKTIVISME



PARADIGMA PENDIDIKAN
MENURUT BEHAVIORISME DAN KONSTRUKTIVISME

Kurikulum merupakan bagian dari sistem pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dengan komponen sistem lainnya. Tanpa Kurikulum suatu sistem pendidikan tidak dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan yang sempurna. Ia merupakan n ruh (spirit) yang menjadi gerak dinamik suatu sistem pendidikan, Ia juga merupakan sebuah idea vital yang menjadi landasan bagi terselenggaranya pendidikan yang baik. Bahkan, kurikulum seringkali menjadi tolok ukur bagi kualitas dan penyelenggaraan pendidikan. Baik buruknya kurikulum akan sangat menentukan terhadap baik buruknya kualitas output pendidiksan, dalam hal ini, peserta didik.
Berikut adalah dua pandangang yang menyinggung tentang pendidikan di Indonesia
1.      PARADIGMA  PENDIDIKAN  MENURUT FAHAM BEHAVIORISME  
Menurut Behaviorisme pengetahuan itu sebagai sesuatu yang eksternal dan proses belajar sebagai kegiatan  internalisasi pengetahuan. Hasil dari proses belajar menurut teori ini adalah perubahan tingkah laku, layaknya mesin yang dimasukkan  program  kemudian  program itu berjalan sebagaimana program yang telah dibuat tersebut. Begitu juga proses belajar pada dunia pendidikan dianggap sebagai transfer of knowledge, beranggapan bahwa peserta didik adalah botol kosong yang dapat diisi sesuai dengan kehendak guru. Guru dan murid terlihat seperti relasi antara penguasa dan yang dikuasai.disini Guru sebagai pusat pembelajaran dan bahkan merupakan satu-satunya sumber pembelajaran
2.      PARADIGMA PENDIDIKAN MENURUT FAHAM KONSTRUKTIVISME
Faham  konstruktivisme lahir ketika behaviorisme banyak  ditolak  oleh kaum konstruktivisme dan faham ini sebagai anti tesis behaviorisme.  Faham ini beranggapan bahwa peserta belajar adalah organisme aktif serta dengan  usahanya dapat menciptakan makna tersendiri sebagai hasil dari proses belajar. Paham  ini melihat peserta didik adalah subyek (pelaku) dalam proses belajar, dilandasi oleh teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pebelajar menciptakan pengetahuan saat berusaha memahami pengalaman-pengalamannya. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial) sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Selain itu Konstruktivisme juga menilai  bahwa pengertahuan  tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Relasi yang terbangun adalah guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Teori ini bersandarkan  pikiran bahwa seorang siswa sesungguhnya pengemudi sekaligus pengendali informasi dan pengalaman baru yang mereka peroleh dalam sebuah proses memahami, mencermati secara kritis, sekaligus melakukan re-interpretasi pengetahuan dalam sebuah siklus belajar-mengajar. Meskipun kita tahu bahwa belajar adalah suatu penafsiran personal dan  unik dalam  sebuah konteks sosial, tetapi akan lebih bermakna jika akhir dari suatu proses pembelajaran dapat secara langsung memotivasi siswa untuk memahami sekaligus membangun arti baru.
Jika output dari pendidikan Indonesia adalah menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan hidup yang dihadapi, bukan hanya mesin atau robot yang mudah digerakkan kesana kemari, maka teori konstruktivisme patut dijadikan landasan dalam dunia pendidikan  kita.



3.      Tabel Penjelasan Faham Behaviorisme dan Konstruktivisme Secara Singkat

Behaviorisme
Kognitif-Konstructivisme
Sosial-Konstructivisme
Pengetahuan
gudang respon prilaku terhadap rangsanagan lingkunan
secara aktif terbangun berdasarkan struktur yang telah ada pada peserta belajar
dibangun secara sosial
Belajar
terjadi secara pasif, melalui penyerapan pengetahuan oleh siswa yang ditingkatkan melalui repetisi dan renforcement positif.
asimilasi dan akomodasi aktif dari informasi baru kedalam struktur kognitif yang telah ada. Ditemukan dan dibangun oleh peserta belajar.
asimilasi dan akomodasi kolaboratif informasi baru yang diintegrasikan dalam pengetahuan komunitas.
Motivasi
Extrinsik: melalui reward dan hukuman
Intrinsik: peserta belajar menyusun tujuan atau apa yang ingin dikuasainya dan mendorong dirinya sendiri untuk belajar.
Intrinsik and extrinsik. tujuan belajar dan motivasi ditentukan baik oleh peserta belajar dan reward extrinsik diberikan oleh komunitas atau kelompok.
Pembelajaran
Guru menyampaikan dan peserta belajar menyerap informasi.
Guru memfasilitasi pembelajaran dengan memberikan lingkungan yang dapat mendorong penemuan dan asimilasi atau akomodasi pengetahuan.
terjadi melalui belajar kolaboratif yang difasilitasi dan dibimbing oleh guru. Kerja kelompok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar