Senin, 26 November 2012

info seks


12 Penemuan Penting Tentang Sek



Sejumlah penelitian tentang seks telah menghadirkan fakta-fakta yang menghebohkan sepanjang tahun 2010. Di antaranya soal manfaat bercinta, fakta-fakta di balik orgasme pada wanita hingga pentingnya menghindari seks pranikah.



1. Menghindari seks pranikah bikin rumah tangga bahagia

Penelitian yang membuktikan hal ini termuat dalam The Social Science Research Journal. Dari 648 orang yang disurvei, 56 persen di antaranya lebih bahagia karena tidak berhubungan seks dengan pasangannya hingga hari pernikahan.

2. Hanya 22 persen pasutri yang sangat puas dengan kehidupan seksualnya

Survei yang dilakukan YourTango menunjukkan 66 persen pasangan suami istri (pasutri) hanya berhubungan seks 1 kali seminggu, sementara 63 persen suami ingin melakukannya lebih sering lagi. Secara keseluruhan, hanya 22 persen suami maupun istri yang sangat puas dengan kehidupan seksualnya.

3. Pria tak tahu tanda-tanda wanita orgasme

Survei berskala besar yang dilakukan The National Survey of Sexual Health and Behavior

4. Karir yang bagus bikin seks lebih bergairah

Sibuk bekerja bukan berarti tidak sempat memikirkan kehidupan seks. Survei di University of Wisconsin membuktikan pasangan yang lebih rutin berhubungan seks justru berasal dari kelompok yang memiliki karir bagus.

5. Sering bercinta dapat meningkatkan memori otakSebuah penelitian di Princeton mengungkap frekuensi bercinta berbanding lurus dengan pertumbuhan syaraf hippocampus, bagian otak yang merupakan pusat memori. Diduga efek ini bisa menunda pikun saat memasuki lanjut usia.
6. 50 persen wanita menikah menilai suaminya bukan partner seks terbaik

Survei yang dilakukan iVillage ini tidak hanya mengungkap betapa seks pranikah telah menjadi hal yang sangat lumrah. Lebih dari itu, 50 persen wanita mengaku lebih puas bercinta dengan pasangan seks terdahulunya sebelum menikah.

7. Suka selingkuh adalah pengaruh gen

Gen reseptor dopamin yang dinamakan DRD4 ditemukan tahun ini dan diyakini menyebabkan sebagian pria cenderung suka selingkuh. Gen ini memberikan sensasi rasa senang yang juga muncul saat berjudi dan mengonsumsi obat terlarang.

8. Punya saudara perempuan bikin pria nggak seksi

Penelitian di University of Texas membuktikan pria yang memiliki banyak saudara perempuan kurang menarik bagi calon pasangannya. Tidak diketahui pasti alasannya, namun diduga pria cenderung lebih manja ketika terlalu lama berada di antara saudara-saudara perempuannya, padahal pria manja kurang menarik bagi wanita.

9. Sensitivitas ujung jari menujukkan kemampuan wanita untuk orgasme

Journal of Sexual Medicine mengungkap wanita yang responsif saat menyentuh benda panas atau bentuk rangsang nyeri yang lain cenderung lebih mudah untuk mencapai orgasme. Jadi jika ingin tahu mudah atau tidaknya wanita mencapai orgasme, sentuh saja ujung jarinya. Jangan yang lain!

10. Pria gemuk lebih jago dalam bercinta

Sebuah penelitian di Turki menunjukkan ukuran lingkar pinggang pada pria berbanding lurus dengan kadar hormon oestradial. Hormon yang lebih banyak dimiliki wanita ini berfungsi menunda orgasme, sehingga bisa bertahan lebih lama saat bercinta dibandingkan dengan pria dengan lingkar pinggang yang lebih kecil.

11. 25 persen wanita pilih kurus daripada orgasme

Orgasme sepertinya bukan segala-galanya bagi sebagian wanita, bahkan tidak lebih menarik dibandingkan punya pinggang ramping nan seksi. Penelitian di Inggris menunjukkan 25 persen wanita lebih memilih kurus meski risikonya sakit-sakitan dan susah mengalami orgasme.

12. Otak wanita tidak bisa merasakan sakit saat orgasme

Orgasme pada wanita melibatkan proses yang sangat rumit di otak, sampai-sampai otak tidak mampu merasakan sakit selama berada dalam puncak kenikmatan. Para peneliti di Rutgers University di New Jersey mengungkap hal itu saat merekan proses orgasme wanita dengan magnetic resonance imaging mengungkap 85 persen pria mengira pasangannya mencapai orgasme dalam hubungan seks terakhir yang dilakukan. Kenyataanya hanya 64 persen wanita yang mengaku benar-benar orgasme.

v

Jurnal Skripsi



JURNAL / RINGKASAN SKRIPSI
“KEMAMPUAN MEMAHAI KATA BAKU
BAHASA INDONESIA KELAS 2
MTs NEGERI TUBAN
TAHUN AJARAN 2003/2004”
Karya:
MAMIK ROHMIATI
IKIP PGRI TUBAN 2004


BAB I
            Pada latar belakang  skripsi penulis mengambarkan  secara umum tentang  pengertian Bahasa, Fungsi Bahasa Indonersia, pengunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
            “ Bahasa adalah alat komunikasa yang cukup praktis jika dibandingkan dengan alat komunikasi lain.”
            “ Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan sebagai bahasa Negara, selain itu bahasa Juga memiliki kedudukan sebagai bahasa Nasional. Fungsi bahasa sebagai bahasa Negara adalah:
a)      Bahasa resmi kenegaraan
b)      Bahasa pengantar resmi dilembaga-lembaga pendidikan
c)      Bahasa resmi dalam perhubungan tingkat untuk kepentingan pelaksanaan serta pemerintahan
d)     Bahasa resmi didalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan

Sedangkan fungsi bahasa sebagai bahasa Nasional adalah sebagai berikut:
1)      Sebagai lambang kebanggaan nasional
2)      Sebagai lambang k\identitas nasional
3)      Sebagai alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang social, budaya dan bahasanya.”
Namun seiring berkembangnya zaman pengunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari banyak yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa khususnya dalam penulisan penggunaan kata atau istilah baku dalam bahasa Indonesia.
Sesuai dengan judulnya “Kemampuan Memahai Kata Baku” serta denagn adanya fakta-fakta tersebut diatas maka penulis ingin mengetahui sampai dimana siswa memahami bahasa baku, khususnya kata baku atau istialah baku dalam bahasa Indonesia.
Sementara itu dalam  pembatasan  masalah  penulis hanya membahas tentang kata baku dalam bahasa Indonesia. Dengan rumusan masalah “ Bagaimana Kemampuan Memahami Kata Baku Bahasa Indonesia Siswa Kelas 2 MTs Negeri Tuban  Tahun Ajaran 2003/2004?”
Penulis menyebutkan  tujuan penelitianya adalah untuk mengetahui gambaran umum tentang pengunaan bahasa baku dalam lingkugan MTs Negeri Tuban.
Pada bagian asumsi dan hipotesis penulis menyampaikan asumsinya bahwa siswa sudah diajar mengenai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kemampuan memahami kata baku dapat diukur dengan mengunakan test. Sementara penulis juga memiliki Hipotesias “Siswa kelas 2 MTs Negeri Tuban mampu memahami kata atau istilah baku dalam bahasa Indonesia.












BAB II
            Pada bab ini penulis menjelaskan secara detail tentang pengertian kata baku,cirri-ciri kata baku, fungsi kata baku bahasa Indonesia, dan cirri-ciri bahasa baku. Penulis hanya menjabarkan secara jelas apa yang ada pada letar belakang penulisa skripsi.
            “ kata baku merupakan  ragam bahasa yang cara pengucapanya ataupun penulisanya sesuai denga kaidah-kaidah standart atau kaidah yang dibakuka. Kaidah standart berupa :
1)      Pedoman ejaan ( EYD)
2)      Tata bahasa baku
3)      Kamus umum / KBBI
Bahasa dikatakan baku apabila bahasa itu digunakan dalam masyarakat dan memiliki nilai komunikatif yang paling tinggi dan fungsinya menyangkut kepentingan nasional (Suryaman, 1985 : 2)
Sementara ciri-ciri kata baku adalah:
a)      Tidak dipengaruhi bahasa daerah
b)      Tidak dipengaruhi bahasa asing
c)      Bukan merupakan ragam percakapan
d)     Pemakaian bahasa secara eksplisit
e)      Pemakaian yang sesuai  dengan konteks kalimat
f)       Tidak mengandung arti pleonasme
g)      Tidak mengandung hiperkorek
Jadi kesimpulannya kata baku ialah kata-kata yang memiliki kaidah atao ragam bahasa yang telah ditentukan atau dilazimkan, sedangkan kata non baku ialah kata-kata yang tidak mengikuti kaidah atau ragam bahasa yang telah ditentukan atau dilazimkan.(Soedjito,1986 : 55)
Bahasa baku ialah ragam bahasa Indonesia yang biasa dipakai dalam situasi resmi atau formal, misalnya dalam pidato kenegaraan, diskusi lmiah, surat menyurat antar instansi dan sebagainya.
Ragam bahasa baku digunakan pada, 1) Komunikasi resmi (surat menyurat resmi, pengumuman-pengumuman, perundang-undangan), 2) Wacana teknis (laporan resmi, karya ilmiah), 3) pembicaraan didepan umum (ceramah, pidato, khotbah, kuliah dan sebagainya), 4) pembicaraan dengan orang yang dihormati (orang tua, pejabat, pimpinan instansi dan lain-lain) (Soedjito, 1986 : 58)
Sedangkan ciri-ciri bahasa baku sebagai berikut:
1.      Penulisan berdasarkan peraturan EYD
2.      Pembentukan istilah sesuai dengan kaidah pembentukan istilah
3.      Pemilihan kosa kata sesuai dengan KBBI
4.      Tata bahasa sesuai dengan tata bahasa baku bahasa Indonesia
Jadi kesimpulanya bahasa baku ialah Bahasa baku ialah ragam bahasa Indonesia yang biasa dipakai dalam situasi resmi atau formal, misalnya dalam pidato kenegaraan, diskusi lmiah, surat menyurat antar instansi dan sebagainya, sedangkan bahasa tidak baku dalam ragam bahasa yang biasa dipakai dalam situasi tidak resmi,santai,kekeluargaaan. Misalnya berbicara dengan keluarga, bergurau dengan teman akrab dan sebagainya.
Dengan mengunakan metode diskripsi penulis mengadakan penelitian dengan tujuan yang bersifat deskripsi adalah untuk membuat pencandraan atau gambaran yang jelas secara sistematis, factual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu  sebagai sasaran atau objek penelitian.
Penulis berusaha menggali data sesuai dengan data yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilaksanakan di MTs Negeri Tuban pada kelas II antara lain:
1.      Jumlah siswa dalam satu kelas sebagai 242 siswa
2.      Jumlah siswa dalam satu ruang sebagai 40 siswa
3.      Jumlah sampel yang dirandom sebagai 40 siswa
Penulis mendapat sumber data dari : Kepala sekolah MTs Negeri Tuban,  Siswa kelas II MTs Negeri Tuban.

Setelah penulis mengadakan penelitian dengan berbagai langkah pendekatan tehadap hasil penelitian, hasil analisis data yang diperoleh adalah kemampuan memahami kata baku siswa kelas II MTs Negeri Tuban Tahun Ajaran 2003/2004 mendapatkan gambaran positif. Adapun gambaran yang dimaksud penulis ialah pada dasarnya siswa MTs Negeri Tuban cukup mampu memahami kata baku dengan baik dan benar walaupun ada sedikit kekurangan.


BAB  III
1)      Kesimpulan
             Setelah penulis melakukan penelitian di MTs Negeri Tuban, dapat penulis simpulkan hasil penelitia tersebut adalah sebagai berikut:
            Bahasa adalah alat manusia untuk menyampaikan sesuatu yang abstrak, yaitu pikiran dan perasaan hatinya kepada sesama manusia. Bahasa adalah ala tang lahir  dari dasar jiwa manusia untuk melahirkan situasi yang dialami oleh jiwanya, maka sikap jiwa suatu banggsa sulit dipisahkan dengan jiwa bahasanya yang berarti kedudukan bahasa Indonesia dinyatakan sebagai alat penghubung sesama manusia, tetapi didalamnya terdapat norma-norma yang harus ditaati dalam penggunaannya.
            Berdasarkan hasil analisis data secara umum diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan memahami kata baku siswa kelas II MTs Negeri Tuban tahun ajaran 2003/2004 termasuk kategori cukup mampu.
2)      Saran –Saran
Sebagai akhir dari pembahasan ini, penulis akan menyampaikan sarannya sebagai berikut:
Berdasarkan hasil akhir yang telah penuli peroleh, maka di MTs Negeri Tuban masih perlu ditingkatkan sistim pengajaranya bahasa Indonesia. Karena itu , peran guru dalam menunaikan tugasnya masih dituntut untuk kreatif dan korektif. Paling tidak prestasi siswa dibidang Bahasa Indonesia tidak kalah dengan pengjaran lain.          

PARADIGMA PENDIDIKAN MENURUT BEHAVIORISME DAN KONSTRUKTIVISME



PARADIGMA PENDIDIKAN
MENURUT BEHAVIORISME DAN KONSTRUKTIVISME

Kurikulum merupakan bagian dari sistem pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dengan komponen sistem lainnya. Tanpa Kurikulum suatu sistem pendidikan tidak dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan yang sempurna. Ia merupakan n ruh (spirit) yang menjadi gerak dinamik suatu sistem pendidikan, Ia juga merupakan sebuah idea vital yang menjadi landasan bagi terselenggaranya pendidikan yang baik. Bahkan, kurikulum seringkali menjadi tolok ukur bagi kualitas dan penyelenggaraan pendidikan. Baik buruknya kurikulum akan sangat menentukan terhadap baik buruknya kualitas output pendidiksan, dalam hal ini, peserta didik.
Berikut adalah dua pandangang yang menyinggung tentang pendidikan di Indonesia
1.      PARADIGMA  PENDIDIKAN  MENURUT FAHAM BEHAVIORISME  
Menurut Behaviorisme pengetahuan itu sebagai sesuatu yang eksternal dan proses belajar sebagai kegiatan  internalisasi pengetahuan. Hasil dari proses belajar menurut teori ini adalah perubahan tingkah laku, layaknya mesin yang dimasukkan  program  kemudian  program itu berjalan sebagaimana program yang telah dibuat tersebut. Begitu juga proses belajar pada dunia pendidikan dianggap sebagai transfer of knowledge, beranggapan bahwa peserta didik adalah botol kosong yang dapat diisi sesuai dengan kehendak guru. Guru dan murid terlihat seperti relasi antara penguasa dan yang dikuasai.disini Guru sebagai pusat pembelajaran dan bahkan merupakan satu-satunya sumber pembelajaran
2.      PARADIGMA PENDIDIKAN MENURUT FAHAM KONSTRUKTIVISME
Faham  konstruktivisme lahir ketika behaviorisme banyak  ditolak  oleh kaum konstruktivisme dan faham ini sebagai anti tesis behaviorisme.  Faham ini beranggapan bahwa peserta belajar adalah organisme aktif serta dengan  usahanya dapat menciptakan makna tersendiri sebagai hasil dari proses belajar. Paham  ini melihat peserta didik adalah subyek (pelaku) dalam proses belajar, dilandasi oleh teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pebelajar menciptakan pengetahuan saat berusaha memahami pengalaman-pengalamannya. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial) sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Selain itu Konstruktivisme juga menilai  bahwa pengertahuan  tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Relasi yang terbangun adalah guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Teori ini bersandarkan  pikiran bahwa seorang siswa sesungguhnya pengemudi sekaligus pengendali informasi dan pengalaman baru yang mereka peroleh dalam sebuah proses memahami, mencermati secara kritis, sekaligus melakukan re-interpretasi pengetahuan dalam sebuah siklus belajar-mengajar. Meskipun kita tahu bahwa belajar adalah suatu penafsiran personal dan  unik dalam  sebuah konteks sosial, tetapi akan lebih bermakna jika akhir dari suatu proses pembelajaran dapat secara langsung memotivasi siswa untuk memahami sekaligus membangun arti baru.
Jika output dari pendidikan Indonesia adalah menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan hidup yang dihadapi, bukan hanya mesin atau robot yang mudah digerakkan kesana kemari, maka teori konstruktivisme patut dijadikan landasan dalam dunia pendidikan  kita.



3.      Tabel Penjelasan Faham Behaviorisme dan Konstruktivisme Secara Singkat

Behaviorisme
Kognitif-Konstructivisme
Sosial-Konstructivisme
Pengetahuan
gudang respon prilaku terhadap rangsanagan lingkunan
secara aktif terbangun berdasarkan struktur yang telah ada pada peserta belajar
dibangun secara sosial
Belajar
terjadi secara pasif, melalui penyerapan pengetahuan oleh siswa yang ditingkatkan melalui repetisi dan renforcement positif.
asimilasi dan akomodasi aktif dari informasi baru kedalam struktur kognitif yang telah ada. Ditemukan dan dibangun oleh peserta belajar.
asimilasi dan akomodasi kolaboratif informasi baru yang diintegrasikan dalam pengetahuan komunitas.
Motivasi
Extrinsik: melalui reward dan hukuman
Intrinsik: peserta belajar menyusun tujuan atau apa yang ingin dikuasainya dan mendorong dirinya sendiri untuk belajar.
Intrinsik and extrinsik. tujuan belajar dan motivasi ditentukan baik oleh peserta belajar dan reward extrinsik diberikan oleh komunitas atau kelompok.
Pembelajaran
Guru menyampaikan dan peserta belajar menyerap informasi.
Guru memfasilitasi pembelajaran dengan memberikan lingkungan yang dapat mendorong penemuan dan asimilasi atau akomodasi pengetahuan.
terjadi melalui belajar kolaboratif yang difasilitasi dan dibimbing oleh guru. Kerja kelompok.