PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Bahasa
adalah media pengucapan karya sastra bahasa, bahasa merupakan media sastra dan
dengan kita dapat membedakan antara karya sastra dan karya yang bukan sastra
(Jobohim, 2003:1) karya sastra adalah suatu bentuk hasil kreatif yang
membicarakan manusia dan kehidupanya dengan menggunakan bahasa sebagai
medianya. Suatu karya sastra sangat tergantung kepada kemampuan pengarang dalam
menggunakan bahasanya.
Di
era modern ini perkembangan dunia pendidikan berjalan sangat cepat. Kasadaran pemerintah dan
masyarakat akan pentingnya pendidikan yang mendorong berbagai elemen berlomba
menghasilkan mutu pendidikan. Para ahli mengatakan penelitian-penelitian untuk
mengkaji berbagai permasalahan pendidikan salah satu usaha meningkatkan
keberhasilan pendidikan adalah pengenbangan dan penggunaan strategi
pembelajaran yang tepat.
|
|
Salah
satu kompunen penting yang harus dikuasai oleh guru dalam mengajar adalah model
dan metode mengajar model dan metode mengajar merupakan salah satu komponen
yang harus dikuasai guru sebagai manifestasi kompetensi guru (soetope,
2005:143) sebagai pelaksana kedepan, guru adalah komponen yang sangat
menentukan dalam implementasi suatu stratagi pembelajaran, khususnya dalam
motivasi dan kemampuan mengapresiasi cerpen,oleh karena itu siswa harus memiliki
kekreatifan dalam karya sastra.supaya kita tidak kritis dalam mengapresiasi
maka sebagai siswa harus
banyak –banyak membaca sebab dengan membaca kita akan mendapatkan banyak
pengetahuan.
Sebuah
karya sastra dapet membantu pembaca dalam menafsirkan makna karya sastra.
Bahasa yang digunakan untuk menafsirkan makna karya sastra yang dimaksud adalah
kata, kalimat
dan kesatuan kalimat yang dijadikan alat sebagai pengarang untuk mengekspresikan imajinasinya.sastra
hadir untuk dibaca dan dinikmati, selanjutnya dimanfaatkan untuk mengembangkan
wawasan tentang hidup dan kehidupan, pada pembelajaran sastra harus dititik
deratkan pada kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu bentuk seni yang
harus dinikmati.
Menurut
BSNP 2006a (dalam Sufanti, 2010: 7) mata pelajaran bahasa Indonesia
berorientasi pada pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar
berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan
nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu pembelajaran bahasa Indonesia
diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi dalam bahasa
Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis serta menimbulkan penghargaan
terhadap hasil cipta manusia Indonesia.
Pentingnya bahasa sebagai suatu alat
komunikasi dan dengan memperhatikan wujud bahasa itu sendiri, Soekono memberikan batasan, bahwa bahasa adalah alat
komunikasi antar anggota masyarakat, yang berupa bunyi suara atau tanda atau
isyarat atau lambang yang dikeluarkan oleh manusia untuk menyampaikan isi
hatinya kepada manusia yang lain.
Keterampilan
berbahasa terdiri atas empat aspek yaitu keterampilan menyimak atau
mendengarkan (listening skills), keterampilan berbicara (speaking
skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan
menulis (writing skills). Kemampuan berbahasa ini berhubungan erat dalam
usaha seseorang memperoleh kemampuan berbahasa yang baik. Berbagai usaha
dilakukan untuk membina dan mengembangkan bahasa agar benar-benar memenuhi
fungsinya. Setiap keterampilan sangat berkaitan antara satu dengan yang
lainnya. Usaha memperoleh keterampilan bahasa yang baik dan benar adalah
melalui program pendidikan sekolah. Mata pelajaran bahasa Indonesia memiliki
tujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang
berlaku, baik secara lisan maupun tulisan. Penggunaan aspek kebahasaan dalam
proses pembelajaran sering berhubungan satu dengan yang lainnya. Menyimak dan
membaca erat hubungannya dengan hal berkomunkasi, berbicara dengan menulis erat
hubungannya dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna
(Tarigan, 1986:10).
Seseorang mengenal bahasa dari mendengarkan.
Kemudian, berbicara dan berlatih membaca dengan mengenal tulisan, jenis–jenis
huruf dan cara merangkai huruf–huruf. Setelah melalui berbagai usaha tersebut,
ia akan berusaha menulis. Melalui bahasa, manusia dapat saling berhubungan,
saling memberi dan saling menerima berbagai pengalaman, belajar dari yang lain
serta meningkatkan kemampuan intelektual. Mata pelajaran bahasa dan sastra
Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan
berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
Menulis merupakan kegiatan mengekspresikan informasi yang
diterima dari proses menyimak dan membaca. Jadi, semakin banyak orang menyimak
atau membaca maka akan banyak pula informasi yang akan diperoleh atau
diekspresikan secara tertulis.
(Kurniawan 2006:122) menyatakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan
yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus
terampil memanfaatkan grofologi, struktur bahasa dan kosa kata. Ketrampilan
menulis digunakan untuk mencatat, merekam, menyakinkan, melaporkan,
menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca.
Menulis adalah salah satu bagian dari keterampulan berbahasa.
Menulis merupakan suatu proses pemikiran. Menulis adalah suatu kegiatan untuk
menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan
aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat
seperti pena atau pensil. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi seperti
saat ini, menulis juga bisa dilakukan dengan menggunakan komputer atau laptop.
Banyak definisi atau pengertian menulis yang di paparkan oleh para ahli. Untuk
selengkapnya mengenai pengertian menulis menurut para ahli, silakan simak
artikel di bawah ini.
Apresiasi
menurut kamus istilah sastra adalah penghargaan (terhadap karya sastra) yang
didasarkan pada pemahaman (Sudsjiman, 1990: 9). Lebih lanjut diterangkan bahwa
apresiasi merupakan jawaban seseorang yang sudah matang dan sudah berkembang ke
arah nilai dengan tepat, dan menjawabnya dengan hangat dan simpatik. Seseorang
yang telah memiliki apresiasi bukan sekedar yakin bahwa sesuatu dikehendaki,
tetapi benar-benar mengisyaratkan sesuatu dan menyam butnya dengan sikap yang
penuh kegairahan. Pengertian apresiasi yang lain disampaikan oleh Squire dan
Taba (Via Aminuddin 1987: 34-37) bahwa sebagai suatu proses apresiasi
melibatkan tiga unsur inti, yaitu (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, (3)
aspek evaluatif. Aspek kognitif
berkaitan dengan unsur intrinsik
dan ekstrinsik. Aspek emotif berkaitan dengan unsur-unsur emosi dalam upaya
menghayati unsur keindahan sastra yang dihadapi. Aspek evaluatif berkaitan
dengan penilaian baik buruk, indah tak indah, sesuai tidak sesuai, dan
sebagainya.
Model
pembelajaran kooperatif merupakan teknik – teknik kelas praktis yang dapat
digunakan guru setiap hari untuk membantu siswanya belajar setiap mata
pelajaran, mulai dari keterampilan – keterampilan dasar sampai pemecahan
masalah yang kompleks.
Metode CIRC adalah karakteristik kelas yang sangat
heterogen dari segi latar belakang sosial. Pembelajaran kooperatif ini yaitu mengunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para siswa
mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas. berkelompok dengan menekankan pada penggalian ide dan
tanggapan. Model pembelajaran
dengan memadukan secara kooperatif aspek membaca dan menulis.
Tujuan
pengajaran bahasa Indonesia di MTs Al Musthofa Grabagan Tuban berdasarkan
kurikulum yang ada lebih cenderung ke arah keterampilan berbahasa. Hal ini
tidak berarti bahwa segi pengetahuan dan segi efektifnya diabaikan sama sekali.
Segi pengetahuan dan segi efektifnya tetap diperhatikan, tetapi lebih sebagai
sarana untuk pencapaian keterampilan berbahasa. Seseorang dikatakan
terampil berbahasa jika yang bersangkutan terampil menyimak, terampil membaca,
terampil berbicara, serta terampil menulis dalam bahasa Indonesia. Tujuan ini
akan tercapai jika siswa diberikan kesempatan mengalami berbagai kegiatan
berbahasa dalam berbagai situasi.
1.2 Identifikasi
Masalah
Berdasarkan
uraian dari latar belakang masalah di atas, maka perlu diidentifikasi
permasalahannya agar lebih jelas.
Penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (cooperatif
integrated reading and composition ) untuk meningkatkan kemampuan menemukan
unsur instrinsik cerpen yang akan saya teliti adalah sebagai berikut :
1. Penulis
mencermati kemampuan mengapresiasi cerpen melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC ( cooperatif integrated reading and composition )
2. Kemampuan siswa yang kurang memahami tentang
unsur instrinsik
3. Sejauh
ini penulis mengamati belum adanya penanganan secara sistematis dan taktis oleh
pihak MTs Al Musthofa Grabagan
Tuban dalam rangka peningkatan kemampuan
siswa ketika mengapresiasi cerpen dikaji dari aspek unsur instrinsik.
1.3 Batasan
Masalah
Dari
judul dan identifikasi masalah tersebut, agar tidak menimbulkan berbagai
permasalahan penulis membatasi penelitian ini pada hal-hal sebagai berikut:
1. Peningkatan
intensitas pembelajaran kooperatif tipe CIRC
(cooperatif integrated reading and
composition) dengan berkelompok.
2. Meningkatkan
kemampuan menemukan
siswa dalam hal mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik.
3. Penggunaan
seluruh unsur pada siswa dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik
secara efektif.
1.4 Rumusan
Masalah
Rumusan
masalah dalam Penelitian
Tindakan Kelas yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated
Reading And Composition) untuk
Meningkatkan kemempuan menemukan unsur
Instrinsik Cerpen siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun pelajaran
2011/2012” ini adalah :
1.
Bagaimanakah kemampuan menemukan unsur Instrinsik Cerpen sebelum
diterapkan model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (Cooperatif Integrated
Reading And Composition) siswa kelas VII A MTs Almusthofa Grabagan Tahun Pelajaran
2011/2012.
2.
Bagaimanakah kemampuan menemukan unsur Instrinsik Cerpen setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (Cooperatif Integrated
Reading And Composition) siswa kelas VII A MTs Almusthofa Grabagan Tahun Pelajaran
2011/2012.
3.
Apakah melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated
Reading And Composition) dapat meningkatkan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen
siswa kelas VII A
MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012.
1.5 Tujuan
dan Manfaat Penelitian
1.5.1
Tujuan Penelitian
1.5.1.1 Tujuan umum
Segala sesuatu yang dilakukan oleh setiap individu tidak
terlepas dari tujuan yang ingin dicapai, secara umum tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui tentang
kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kec. Grabagan Kab.
Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012.
1.5.1.2
Tujuan khusus
Sesuai dengan rumusan masalah
yang penulis kemukakan, penelitian ini secara khusus bertujuan untuk memperoleh
gambaran obyektif tentang:
1. Mendeskripsikan
kemampuan menemukan unsur instrinsik
cerpen siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan
Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012
2. Mendiskripsikan kemampuan menemukan unsur instrinsik
cerpen dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperatif Integrated
Reading And Composition) siswa kelas
VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan
Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012
3.
Mendeskripsikan adanya
peningkatan kemampuan menemukan unsur
instrinsik cerpen dengan model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (Cooperatif Integrated
Reading And Composition) siswa kelas
VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan
Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012.
1.5.2 Manfaat Penelitian
Pada
dasarnya penelitian ini merupakan pengembangan ilmu pengetahuan yang penulis
terima dari bangku kuliah. Namun hasil penelitian ini dapat pula dimanfaatkan
antara lain:
1.5.2.1
Manfaat
Teoritis
Secara teoritis manfaat dari
penelitian ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Khususnya mata
pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari upaya pembinaan dan pengembangan
bahasa Indonesia yang mewajibkan penuturnya menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar. Baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk lisan.
1.5.2.2
Manfaat
Praktis
Secara
praktis manfaat yang diharapkan oleh penulis dari hasil penelitian ini sebagai
berikut :
1. Untuk
peneliti adalah pengalaman dalam melakukan penelitian sebagai bentuk tanggung
jawab akademisi penulis atau peneliti.
2. Untuk
guru adalah menambah kelengkapan referensi dan memperluas wawasan guru mata
pelajaran bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia dapat memilih pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (Cooperatif Integrated
Reading And Composition) untuk
meningkatkan kemampuan menemukan unsur
instrinsik cerpen.
3. Untuk
siswa adalah untuk belajar bersama secara berkelompok untuk menemukan
permasalahan dalam mengerjakan pelajaran khususnya dalam mengapresiasi cerpen.
sehingga dapat menemukan unsur instrinsik
dalam sebuah cerpen.
4. Untuk
pembaca adalah sebagai tambahan pengetahuan dan informasi dalam hal menulis
yang baik dan benar.
1.6 Asumsi
dan Hipotesis
1.6.2 Asumsi
Yang
dimaksud dengan asumsi adalah sebuah titik pemikiran yang sebenarnya diterima
oleh penyidik menurut Surachmad (2008: 16), sedangkan asumsi menurut Sutrisno
Hadi Adalah penyelidikan yang dapat memberikan pengetahuan yang valid dan
reliabilitas tentang gejala- gejala alam dan sosial. Pengetahuan yang valid dan
reliabel itu dapat dicapai karena pendidikan ilmiah menggunakan landasan
berfikir yang pasti. (Sutrisno Hadi, 2007: 16).
Dalam
penelitian ini penulis mempunyai asumsi sebagai berikut:
1. Setiap
peseta didik memiliki kemampuan menemukan
unsur instrinsik cerpen dan tidak ada
perlakuan yang berbeda dari pihak lain dalam hal pembinaan.
2. MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012
kurikulum yang digunakan sudah sesuai dengan pembelajaran.
3. Kurikulum yang digunakan dalam mengajar sudah sesuai
dengan kurikulum yang ada.
4. Guru bahasa indonesia kelas VII A MTs Al Musthofa
Grabagan dalam mengajarkan materi bahasa indonesia sudah sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang berlaku.
5. Siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan mempunyai
kesempatan dan alokasi waktu yang sama dalam menerima pelajaran bahasa
indonesia.
1.6.3
Hipotesis
Hipotesis
merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan
penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto,
2006:71), menurut pendapat lain, hipotesis adalah perumusan sementara mengenai
hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan untuk menuntun atau mengarahkan
penelitian selanjutnya (Sudjana, 2006: 213).
Dari
kedua pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis adalah jawaban
sementara terhadap masalah penelitian yang sedang diteliti.
Dengan
memperhatikan pembatasan dan rumusan masalah, maka penulis dapat merumuskan
hipotesis sebagai berikut:
1. Siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan
Grabagan Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012 telah mampu menemukan unsur
instrinsik cerpen.
2. Siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan
Grabagan Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012 telah mampu menemukan unsur
instrinsik cerpen dengan model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (Cooperatif
Integrated Reading And Composition).
3. Ada peningkatan
kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen dengan model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (Cooperatif
Integrated Reading And Composition).siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan
Grabagan Kabupaten Tuban Tahun
Pelajaran 2011/2012
1.7 Spesifikasi Variabel
dan Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian sangat penting. Hal ini
dilakukan 1.7.1 Spesifikasi Variabel
Kerlinger (1973) menyatakan
bahwa variabel adalah konstruk (constrcuts) atau sifat yang akan dipelajari.
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau
obyek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu
obyek dengan obyek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981).
Dari
uraian di atas dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas
dan variabel terikat. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (Cooperatif
Integrated Reading And Composition), sedangkan
variabel terikatnya adalah kemampuan menemukan
unsur instrinsik cerpen.
1.7.2 Definisi
Operasional
Definisi
operasional yang diberikan oleh peneliti yang berjudul penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (Cooperatif
Integrated Reading And Composition)
untuk meningkatkan kemampuan menemukan unsur instrinsik cerpen siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Kecamatan Grabagan Kabupaten
Tuban Tahun Pelajaran 2011/2012 antara lain sebagai berikut:
1.
Penerapan
Penerapan adalah suatu
perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan
tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau
golongan yang telah terencana dan tersusun sebelumnya.
2.
Model Pembelajaran Kooperatif
Model
pembelajaran kooperatif merupakan teknik – teknik kelas praktis yang dapat
digunakan guru setiap hari untuk membantu siswanya belajar setiap mata
pelajaran, mulai dari keterampilan – keterampilan dasar sampai pemecahan masalah
yang kompleks. Model
pembelajaran dengan menggunakan sistem kelompok yaitu antara 5 sampai 6 orang kelompok. Kelompok harus beragam
dalam hal gender, etnis, ras, dan kemampuan.
3.
Metode CIRC (Cooperatif
Integrated Reading And Composition)
Metode CIRC adalah karakteristik kelas yang sangat
heterogen dari segi latar belakang sosial. Pembelajaran kooperatif ini yaitu mengunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para siswa
mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas. berkelompok dengan menekankan pada penggalian ide dan
tanggapan. Model pembelajaran
dengan memadukan secara kooperatif aspek membaca dan menulis.
4. Kemampuan
Kemampuan
adalah suatu kesanggupan dalam
melakukan sesuatu. Seseorang dikatakan mampu
apabila ia bisa melakukan sesuatu yang
harus ia lakukan
5. Cerpen
Cerpen
adalah cerita kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang dimaksudkan
memberikan kisahan tunggal yang dominan (anonim dalam Isdriani, 2005:59).
Cerita pendek disebut juga sebagai cerita fiksi yang menggambarkan sebagian
kecil dari kehidupan manusia (anonim dalam Cala, 2003:67). Selain itu, cerpen
juga diartikan sebagai cerita rekaan yang berdasarkan pada khayalan (anonim
dalam Surana, 1994:2004). Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa cerpen adalah cerita fiksi yang menggambarkan sebagian kecil dari kehidupan
manusia yang berdasarkan pada khayalan.
6. Unsur Instrinsik
Unsur
Instrinsik adalah unsur pembangun sastra yang secara
eksplisit terdapat dalam karya sastra
dan dapat diketahui secara langsung, yang meliputi : tema, alur cerita, seting, tokoh dan karakter, sudut
pandangpengarang, dan amanat/pesan.
7. Siswa
kelas VII A :
a. Anak
yang secara biologis berumur kurang lebih 15 tahun.
b. Siswa
yang secara administratif duduk di bangku kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban
Tahun Pelajaran 2011/2012
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian
Sastra
Sastra adalah
kata-kata atau bahasa yang dipakai dalam kitab-kitab (KBBI, 1988 : 786). Sastra adalah karangan. Kesusastraan adalah
karangan yang indah (Suwandi, 1982 : 7)
Sastra adalah
ungkapan pribadi manusia yang berupa pemikiran, perasaan, ide, semangat,
keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan
alat bahasa ( Sumardjo dan Saini K.M., 1987 : 3).
Dari
beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sastra adalah ungkapan
perasaan manusia yang berupa gagasan, ide yang memiliki nilai-nilai keindahan
yang diekspresikan melalui media bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.
2.2 Jenis Sastra
|
![]() |
2.3 Pengertian Cerpen
Cerpen adalah singkatan dari cerita
pendek, disebut demikian karena jumlah halamannya yang sedikit, situasi dan
tokoh ceritanya juga digambarkan secara terbatas (Rani, 1996:276). Mengutip
Edgar Allan Poe, Jassin (1961:72) mengemukakan cerpen adalah sebuah cerita yang
selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai
dua jam (dalam Nurgiyantoro, 2000:72).
Dalam bukunya berjudul Anatomi Sastra (1993:34), Semi mengemukakan: cerpen ialah karya sastra yang memuat penceritaan secara memusat kepada suatu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam sebuah cerpen, tanpa kecuali ditujukan untuk mendukung peristiwa pokok. Masih menurut Semi, dalam kesingkatannya itu cerpen akan dapat menampakan pertumbuhan psikologis para tokoh ceritanya, hal ini berkat perkembangan alur ceritanya sendiri. Ini berarti, cerpen merupakan bentuk ekspresi yang dipilih dengan sadar oleh para sastrawan penulisnya.
Dalam bukunya berjudul Anatomi Sastra (1993:34), Semi mengemukakan: cerpen ialah karya sastra yang memuat penceritaan secara memusat kepada suatu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam sebuah cerpen, tanpa kecuali ditujukan untuk mendukung peristiwa pokok. Masih menurut Semi, dalam kesingkatannya itu cerpen akan dapat menampakan pertumbuhan psikologis para tokoh ceritanya, hal ini berkat perkembangan alur ceritanya sendiri. Ini berarti, cerpen merupakan bentuk ekspresi yang dipilih dengan sadar oleh para sastrawan penulisnya.
Cerpen, banyak orang mengartikan cerpen hanya sebatas cerita
pendek. Pengertian cerita mungkin semua orang sudah mengetahui, tetapi untuk
pengertian pendek dalam “cerita pendek” sering terjadi kesimpangsiuran. Pendek
dalam cerita pendek bukan semata-mata ditujukan pada banyak sedikitnya kata,
kalimat, atau halaman yang digunakan untuk mengisahkan cerita. Pencerita pendek atau sering disingkat
sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif.
Cerita pendek atau sering
disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif
fiktif.
Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan
karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian
modern) dan novel.
Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik
sastra seperti tokoh,
plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas
dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai
jenis.
Cerita pendek berasal dari
anekdot,
sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya,
dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya
novel yang realistis, cerita pendek
berkembang sebagai sebuah miniatur.
Cerita
pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah
terkenal seperti Iliad
dan Odyssey
karya Homer.
Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama
yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya.
Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif
individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan
kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah
disampaikan.
Cerita
pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya
memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang
tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam
bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur
inti tertentu dari struktur dramatis:
eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi
(peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat,
krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap
suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan
titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian
(bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek,
cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai
contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang
lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah
aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga
mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita
pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula
tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas
dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya.
Singkatnya, cerita-cerita pendek
yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa
dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang.
Ceritanya bisa dalam berbagai jenis. Memahami sebuah cerpen tentu tidak dapat
lepas dari pemahaman tentang unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen tersebut.
Sebagai sebuah bangun cerita, cerpen memiliki unsur-unsur pembangun.
Unsur-unsur tersebut akan menentukan bagaimana wujud sebuah cerpen, apakah
menjadi cerita tragedi atau komedi, cerita sosial, budaya, politik, pendidikan,
atau religius, dan sebagainya.ndek di sini mengacu pada ruang lingkup
permasalahan yang disampaikan oleh jenis karya sastra ini. Oleh karena itu
sangat memungkinkan sebuah cerita yang pendek tidak bisa dikategorikan dalam
jenis cerpen dan sebuah cerpen memiliki cerita yang panjang.
Permasalahan yang diangkat dalam sebuah cerita umumnya adalah
kehidupan manusia dengan segala aspeknya. Banyak sekali aspek kehidupan yang
bisa terjadi dalam diri manusia dari dilahirkan sampai masuk dalam liang kubur.
Dengan banyaknya aspek kehidupan tersebut cerita yang bisa dikembangkan pun
sangat beragam pula dan cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra yang
menceritakan kehidupan manusia memiliki cakupan tersendiri yaitu hanya
menceritakan sebagian kecil saja kehidupan tokoh yang paling menarik. Dengan
adanya batasan yaitu bagian kecil dari kehidupan tokoh/manusia maka cerpen
memiliki keterpusatan perhatian/ cerita pada tokoh utama dan permasalahan yang
paling menonjol yang menjadi pokok cerita cerpen tersebut. Terpusat di sini
berarti tidak melebar terhadap permasalahan dan atau tokoh lain yang tidak
terlalu mendukung cerita atau tidak bersangkutan dengan cerita. Sebuah cerpen
tidak mengenal degresi karena setiap bagian cerpen adalah pokok cerita yang
jika dihilangkan maka cerita akan menjadi timpang dan kacau.
Cerpen adalah singkatan dari cerita
pendek, disebut demikian karena jumlah halamannya yang sedikit, situasi dan
tokoh ceritanya juga digambarkan secara terbatas (Rani,1996:276).Mengutip Edgar
Allan Poe, Jassin (1961:72) mengemukakan cerpen adalah sebuah cerita yang
selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai
dua jam (dalam Nurgiyantoro, 2000:72). Dalam bukunya berjudul Anatomi Sastra
(1993:34), cerpen ialah karya sastra yang memuat penceritaan secara memusat
kepada suatu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam
sebuah cerpen, tanpa kecuali ditujukan untuk mendukung peristiwa.
Masih menurut Semi, dalam
kesingkatannya itu cerpen akan dapat menampakan pertumbuhan psikologis para
tokoh ceritanya, hal ini berkat perkembangan alur ceritanya sendiri. Ini
berarti, cerpen merupakan bentuk ekspresi yang dipilih dengan sadar oleh para
sastrawan penulisnya.
Berdasarkan jumlah katanya, cerpen
dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar
antara 750-10.000 kata. Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dapat dibedakan
menjadi 3 tipe, yakni.
1.
Cerpen
mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah.
2.
Cerpen
yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah.
3.
Cerpen
panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000 buah.Cerpen
jenis ini banyak ditulis oleh cerpenis Amerika Serikat, Amerika Latin, dan
Eropa pada kurun waktu 1940-1960 (Pranoto, 2007:13-14).
Sumardjo
dan Saini K.M. (1994:30) mendefinisikan cerpen berdasarkan makna katanya, yaitu
cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Kata „pendek‟ dalam batasan ini
tidak jelas ukurannya. Ukuran pendek di sini diartikan sebagai: dapat dibaca
sekali duduk dalam waktu kurang dari satu jam. Dikatakan pendek juga karena
genre ini hanya mempunyai efek tunggal, karakter, plot, dan “setting” yang
terbatas, tidak beragam dan tidak kompleks. Sedangkan Rahmanto dan Hariyanto
(1998:1.26) mengemukakan bahwa ciri khas dalam suatu cerpen bukan menyangkut
panjang pendeknya tuturan, berapa jumlah kata dan halaman untuk mewujudkannya,
tetapi terlebih pada lingkup permasalahan yang ingin disampaikannya.
Lebih
lanjut Rahmanto dan Hariyanto (1998:1.29) menegaskan bahwa suatu karya sastra
dapat dogolongkan ke dalam bentuk cerpen apabila kisahan dalam cerpen tersebut
memberikan kesan tunggal yang dominan, memusatkan diri pada satu tokoh atau
beberapa orang tokoh dalam satu situasi, dan pada satu saat. Kriterianya bukan
berdasarkan panjang pendeknya halaman yang dipergunakan, tetapi lebih pada peristiwa
yang tunggal, dan diarahkan pada peristiwa yang tunggal itu. Menurut Sumardjo
dan Saini K.M. (1994:30), cerita pendek dapat dibagi dalam tiga kelompok, yakni
cerita pendek, cerita pendek yang panjang (long short story), cerita
pendek yang pendek (short – short story). Sumardjo dan Saini K.M.
(1994:31) juga berpendapat bahwa apapun istilahnya, ciri hakiki cerpen adalah
tujuan untuk memberikan gambaran yang tajam dan jelas, dalam bentuk yang
tunggal, utuh, dan mencapai efek tunggal pula pada pembacanya.
Sumardjo dan Saini K.M. (1994:36-37) meninjau
pengertian cerpen berdasarkan sifat rekaan („fiction‟) dan sifat naratif atau
penceritaan. Dilihat dari sifat rekaan cerpen bukan penuturan kejadian yang
pernah terjadi, berdasarkan kenyataan kejadian yang sebenarnya, tetapi murni
ciptaan saja yang direka oleh pengarangnya. Meskipun demikian, cerpen ditulis
berdasarkan kenyataan kehidupan. Dalam membaca cerpen, pembaca tidak sekedar
membaca kisah lamunan, tetapi dapat menghayati pengalaman dari cerita yang disajikan
serta ikut mengalami peristiwa-peristiwa, perbuatan-perbuatan, pikiran dan
perasaan, keputusan-keputusan, dan dilema-dilema yang tampak dalam cerita.
Sementara itu dilihat dari sifat naratif atau penceritaan, cerpen bukanlah
deskripsi atau argumentasi dan analisis tentang sesuatu hal, tetapi ia
merupakan cerita.
Berdasarkan
uraian di atas, maka cerpen merupakan cerita rekaan yang lebih mengarah pada
peristiwa tidak terlalu kompleks dan relatif pendek serta bersifat fiktif
(tidak benar-benar terjadi, tetapi dapat terjadi di mana pun dan kapan pun).
2.4 Ciri – Ciri Cerpen
Berdasarkan jumlah
katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa fiksi dengan
jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata. Berdasarkan jumlah katanya, cerpen
dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni :
1.
Cerpen
mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah.
2.
Cerpen
yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah.
3.
Cerpen
panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000 buah. Cerpen jenis ini banyak ditulis
oleh cerpenis Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Eropa pada kurun waktu 1940-1960
(Pranoto, 2007:13-14).
Berdasarkan teknik
cerpenis dalam mengolah unsur-unsur intrinsiknya cerpen dapat dibedakan menjadi 2
tipe, yakni.
1.
Cerpen
sempurna (well made short-story), cerpen yang terfokus pada satu tema dengan
plot yang sangat jelas, dan ending yang mudah dipahami. Cerpen jenis ini pada
umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada realitas (fakta). Cerpen jenis
ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya. Pembaca awam bisa
membacanya dalam tempo kurang dari satu jam
2.
Cerpen tak utuh (slice of life short-story),
cerpen yang tidak terfokus pada satu tema (temanya terpencar-pencar), plot
(alurnya) tidak terstruktur, dan kadang-kadang dibuat mengambang oleh
cerpenisnya. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat kontemporer, dan ditulis
berdasarkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang orisinal, sehingga lajim disebut
sebagai cerpen ide (cerpen gagasan). Cerpen jenis ini sulit sekali dipahami
oleh para pembaca awam sastra, harus dibaca berulang kali baru dapat dipahami
sebagaimana mestinya. Para pembaca awam sastra menyebutnya cerpen kental atau
cerpen berat.
Ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo
dan Saini adalah sebagai berikut :
·
Ceritanya pendek ;
·
Bersifat rekaan (fiction) ;
·
Bersifat naratif ; dan
·
Memiliki kesan tunggal.
Pendapat lain mengenai ciri-ciri
cerita pendek di kemukakan pula oleh Lubis sebagai berikut :
·
Cerita Pendek harus mengandung
interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
·
Dalam sebuah cerita pendek sebuah
insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
·
Cerita pendek harus mempunyai
seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama.
·
Cerita pendek harus satu efek atau
kesan yang menarik.
Menurut
Morris, ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut :
·
Ciri-ciri utama cerita pendek adalah
singkat, padu, dan intensif (brevity, unity, and intensity).
·
Unsur-unsur cerita pendek adalah
adegan, toko, dan gerak (scena, character, and action).
·
Bahasa cerita pendek harus tajam,
sugestif, dan menarik perhatian (incicive, suggestive, and alert).
2.5 Unsur-unsur
Cerpen
Secara dikotomi unsur cerpen dibedakan menjadi dua,
yaitu unsur intrinsik dan unsur ektrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur
pembangun sastra yang secara eksplisit
terdapat dalam karya sastra dan
dapat diketahui secara langsung, yang meliputi : (1) tema, (2) alur cerita, (3)
seting, (4) tokoh dan karakter, (5) sudut pandang pengarang, dan (6)
amanat/pesan. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur pembangun sastra yang
tidak dapat terlihat secara langsung dalam karya sastra, yaitu :
- Latar belakang penciptaan karya sastra.
- Latar belakang kehidupan masyarakat saat karya sastra diciptakan.
- Biografi pengarang, yang meliputi :
- Pendidikan
- Agama
- Status sosial
- Status ekonomi
- Budaya, dan lain-lain
Dengan mengetahui atau memahami unsur ekstrinsik
dapat membantu seorang apresiator dalam mengapresiasi unsur-unsur intrinsik
dalam sebuah karya sastra (cerpen)
sehingga kebenaran apresiasinya dapat mendekati/menyamai apa yang
dimaksud pengarang.
2.6 Unsur
Intrinsik Cerpen
2.6.1
Tema
Tema adalah ide sebuah cerita.
Sesuatu yang ingin disampaikan pengarang, berupa : masalah kehidupan, pandangan
hidupnya tentang kehidupan atau komentar
tentang kehidupan ( Sumardjo dan Saini
K.M., 1987 : 56).
Tema adalah gagasan pokok atau
subject matter yang dikemukakan oleh penyair (
Waluyo, 1987 : 106)
Tema adalah suatu perumusan dari
topik yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai
melalui topik tadi (Keraf, 1970 : 109).
Dari beberapa pendapat di atas
dapat disimpulkan, tema adalah ide atau gagasan yang disampaikan pengarang dalam karyanya.
2.6.1.1
Sumber Tema
Sumber tema dapat digali dari empat unsur, yaitu :
a. Pengalaman.
b. Pengamatan.
c.
Hasil membaca.
d. Imajinasi
seseorang.
2.6.1.2 Jenis-Jenis Tema
Tema
dalam karya sastra bermacam-macam, antara lain :
1. Tema
ketuhanan/keagamaan/religius;
2. Tema
kemanusiaan;
Tema kemanusiaan menunjukkan betapa
tingginya martabat manusia, dan meyakinkan pembaca bahwa manusia memiliki
harkat/martabat yang sama.
3. Tema
kebangsaan ;
Tema kebangsaan menunjukkan peningkatan cinta dan bangga terhadap tanah
air.
4. Tema
keadilan sosial ;
Tema ini mengupas kepincangan kehidupan sosial dalam masyarakat
2.6.2
Plot/Alur Cerita/Jalan
Cerita
2.6.2.1
Pengertian Plot
Plot atau jalan cerita adalah
kerangka kerja cerita yang merupakan suatu perencanaan yang sangat cerdik dan
hati-hati dalam suatu cerita ( Muhsin,
1990 : 127).
Plot adalah unsur-unsur yang
menggerakkan sebuah cerita ( Sumardjo
dan Saini K.M., 1987 : 49)
Dari beberapa pendapat di atas
dapat disimpulkan, plot atau jalan
cerita adalah rangkaian peristiwa yang menimbulkan hubungan sebab akibat dalam
sebuah cerita.
Contoh :
Saya terlambat sekolah. Saya terlambat karena sepeda
rusak. Sepeda rusak karena semalam
dipakai ayah. Ayah memakai sepeda saya karena sepeda ayah dipakai paman.
Sebuah
cerita akan bergerak bila muncul konflik. Konflik adalah intisari plot. Plot
sering dikronologiskan menjadi :
1) Pengenalan
2) Timbulnya
konflik
3) Konflik
memuncak
4) Klimaks
5) Pemecahan
masalah ( Sumardjo dan Saini K.M., 1987 : 49).
2.6.2.2
Jenis Plot/ Alur Cerita
Jenis Plot/ Alur Cerita dalam
cerpen terdiri dari :
1. Alur
maju : cerita berjalan sesuai urutan
waktu (secara kronologis)
2. Alur
mundur : cerita berjalan ke belakang
atau menceritakan kisah-kisah yang lampau
3. Alur
maju mundur : peristiwa dalam
cerpen dikisahkan secara bervariasi
(menggunakan kedua-duanya)
4. Alur
klimaks : intensitas peristiwa dalam
cerita semakin lama semakin
memuncak.
5. Alur
antiklimaks : intensitas
peristiwa dalam cerita semakin lama semakin
menurun.
2.6.3
Tokoh dan Karakter
2.6.3.1
Macam-macam Tokoh
Tokoh dalam cerpen diklasifikasikan menjadi tiga,
yaitu :
1. Tokoh
Protagonis :
a.
Tokoh yang membawa
pesan atau amanat cerpen.
b.
Tokoh yang mempunyai
sifat baik.
c.
Tokoh yang biasanya disukai pembaca.
2. Tokoh
Antagonis :
a. Tokoh
yang bertentangan dengan tema dan amanat dalam cerpen.
b. Tokoh
yang mempunyai sifat-sifat tidak baik.
c. Tokoh
yang tidak disukai penonton
3. Tokoh
Trigonis :
a.
Tokoh yang mendukung
tokoh protagonis danantagonis
b.
Tokoh pembantu atau
pelengkap
c.
Tokoh yang kehadirannya
kurang diperhatikan pembaca.
2.6.3.2
Cara Penggambaran
Perwatakan Tokoh dalam Cerpen
Karakter tokoh dalam cerpen
terkadang langsung diuraikan sendiri oleh pengarang, namun ada pula penentuan
karakter tokoh harus dipecahkan sendiri oleh pembaca. Beberepa cara yang
digunakan pengarang untuk menggambarkan perwatakan ( Sumardjo dan Saini K.M.,
1987 : 65), yaitu :
1. Melalui
apa yang diperbuatnya
Watak
seseorang tecermin dengan jelas pada sikapnya dalam menghadapi sesuatu. Mungkin
dapat muncul watak senang, khawatir, gelisah, curang dan sebagainya.
2. Melalui
ucapan-ucapannya
Dari
apa yang diucapkan dapat dikenali apakah tokoh itu orang tua, anak-anak,
berasal dari suku mana. Berbudi halus atau tidak, sombong atau rendah hati.
3. Melalui
penggambaran fisik tokoh
Karakter
tokoh ditunjukkan oleh deskripsi fisik tokoh yaitu : bentuk tubuh, cara
berpakaian, transportasi yang dipakainya, warna kulit, bentuk rambut.
4. Melalui
pikiran-pikirannya
Ide
atau gagasan yang dimiliki tokoh dapat digunakan dalam menentukan watak tokoh.
5. Melalui
penjelasan langsung oleh pengarang
Pengarang
secara langsung menggambarkan watak tokoh. Pembaca tinggal menerima dan
mengiakan penggambaran watak dari pengarang.
2.6.4
Seting/latar
Seting adalah tempat, waktu, suasana terjadinya peristiwa. Jakob Sumardjo dan
Saini K.M. , 1987 :76 dalam bukunya Apresiasi Kesusastraan mengatakan
bahwa seting dapat membentuk plot tertentu dan tema tertentu. Seting bisa
berarti banyak, yaitu tempat tertentu, daerah tertentu, orang-orang tertentu
dengan watak-watak tertentu, cara hidup tertentu, dan cara berpikir tertentu.
Secara lazim seting dibagi menjadi tiga yaitu :
- Seting tempat
- Seting waktu
- Seting suasana
Contoh : Ayah hanya mondar-mandir
saja. Sesekali minum sisa kopi di cangkir.
Sementara ibu hanya duduk terpaku di kursi ruang tunggu. Tepat pukul
21.00 adik harus dioperasi.
Kutipan cerita di atas sudah
menggambarkan seting secara keseluruhan.
1. Seting
tempat :
ruang tunggu/rumah sakit
2. Seting
waktu : malam (pukul
21.00)
3. Seting
suasana :
a. ayah : gelisah, khawatir
b. ibu
: pasrah
2.6.5
Sudut Pandang Pengarang
Sudut pandang pengarang adalah visi pengarang, yaitu
sudut pandangan yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian peristiwa.
Jakob Sumardjo dan Saini K.M., 1987 : 83 dalam
bukunya Apresiasi Kesusastraan membagi sudut pandang pengarang menjadi
empat macam, yaitu :
1.
Omniscient poin of view (sudut penglihatan yang berkuasa)
Pengarang
sebagai penguasa penuh dalam cerita. Pengarang mengetahui jalan pikiran tokoh.
Pengarang juga dapat mengomentari perilaku tokoh atau bahkan pengarang bisa
berbicara langsung dengan pembacanya.
2. Objective point of view
Pengarang
hanya menceritakan apa yang terjadi seperti penonton melihat pementasan
sandiwara. Pengarang tidak memberikan komentar apa pun kepada para tokoh.
3. Point of view orang pertama
Teknik
ini bercerita dengan sudut pandangan orang pertama “Aku”. “Aku” akan bercerita pengalamannya, kisahnya kepada
para pembaca.
4.
Point of view peninjau
Pengarang
memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Teknik ini berupa penuturan
pengalaman seseorang “si dia”. Pelaku utama point of view peninjau sering disebut teknik orang
ketiga.
Untuk mempermudah pemahaman siswa, sudut pandang
pengarang dibedakan menjadi tiga yaitu :
- Pengarang serbatahu.
- Pengarang sebagai orang pertama pelaku utama (akuan).
- Pengarang sebagai orang pertama pelaku sampingan.
- Pengarang sebagai orang ketiga pelaku utama (diaan).
- Pengarang sebagai orang ketiga pelaku sampingan.
2.6.6
Amanat/Pesan
Amanat adalah pesan yang
disampaikan pengarang kepada penikmat sastra. Pesan yang disampaikan dapat
berupa pesan moral, sosial, agama, ekonomi, budaya, dan lain-lain
2.7
Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham
konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya
berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok
harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran.
Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu
teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Unsur-unsur
dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Lungdren, 1994).
a.
Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka
“tenggelam atau berenang bersama.”
b.
Para siswa
harus memiliki tanggungjawab terhadap
siswa atau peserta didik lain dalam
kelompoknya, selain tanggungjawab
terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c.
Para siswa
harus berpandangan bahwa
mereka semua memiliki tujuan
yang sama.
d.
Para siswa membagi
tugas dan berbagi tanggungjawab di antara para anggota kelompok.
e.
Para siswa
diberikan satu evaluasi
atau penghargaan yang akan
ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.
f.
Para siswa
berbagi kepemimpinan sementara
mereka memperoleh keterampilan
bekerja sama selama belajar.
g.
Setiap siswa akan
diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam
kelompok kooperatif.
Menurut Thompson, et al. (1995), pembelajaran
kooperatif turut menambah unsur-unsur interaksi sosial
pada pembelajaran sains.
Di dalam pembelajaran kooperatif siswa
belajar bersama dalam
kelompok-kelompok kecil yang
saling membantu
satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 6 orang
siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari
campuran kemampuan siswa, jenis
kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa
menerima perbedaan dan bekerja dengan
teman yang
berbeda latar belakangnya.
Pada pembelajaran
kooperatif diajarkan
keterampilan-keterampilan khusus agar dapat
bekerja sama dengan
baik di dalam kelompoknya,
seperti menjadi pendengar yang
baik, siswa diberi lembar
kegiatan yang berisi
pertanyaan atau tugas yang
direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok,
tugas anggota kelompok
adalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1995).
Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah
teori konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam
belajar adalah suatu pendekatan dimana siswa harus secara individual menemukan
dan mentraformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan
yang ada dan merevisinya bila perlu. (Soejadi dalam Teti Sobari, 2006 : 15).
Menurut Slavin (2007) pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi
secara aktif dan positif dalam kelompok. Ini membolehkan pertukaran ide dan
pemeriksaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan
falsalah konstruktivisme. Dengan demikian, pendidikan dapat mengoptimalkan dan
membangkitkan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas serta daya cipta
(kreativitas), sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses
pembelajaran. Dalam teori konstruktivisme ini lebih mengutamakan pada
pembelajaran siswa yang dihadapkan pada masalah-masalah kompleks untuk dicari
solusinya, selanjutnya menemukan bagian-bagian yang lebih sederhana atau
ketrampilan yang diharapkan. Model pembelajaran ini dikembangkan dari teori
belajar konstruktivisme yanbg lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky.
Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu
dibangun dalam pikiran anak. (Ratna,
1988 : 181).
Dalam model pembelajaran kooperatif ini, guru lebih
berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah
pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya
memberikan pengetahuan pada siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan
dalam pikirannya. Siswa mempunyai
kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan
ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan
menerapkan ide-ide mereka sendiri.
Menurut pandangan Piaget dan Vigotsky adanya hakikat
sosial dari sebuah proses belajar dan juga tentang penggunaan kelompok-kelompok
belajar dengan kemampuan anggotanya yang beragam, sehingga terjadi perubahan
konseptual. Piaget menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses aktif dan
pengetahuan disusun di dalam pikiran siswa. Oleh karena itu, belajar adalah
tindakan kreatif dimana konsep dan kesan dibentuk dengan memikirkan objek dan
bereaksi pada peristiwa tersebut.
Disamping aktivitas dan kreativitas yang diharapkan
dalam sebuah proses pembelajaran dituntut interaksi yang seimbang, interaksi
yang dimaksudkan adalah adanya interaksi atau komunikasi antara guru dengan
siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru. Dalam proses belajar
diharapkan adanya komunikasi banyak arah yang memungkinkan akan terjadinya
aktivitas dan kreativitas yang diharapkan.
Pandangan konstruktivitsme Piaget dan Vigotsky dapat
berjalan berdampingan dalam proses belajar konstruktivisme Piaget yang
menekankan pada kegiatan internal individu terhadap obyek yang dihadapi dan
pengalaman yang dimiliki orang tersebut. Sedangkan konstruktivisme Vigotsky
menekankan pada interaksi sosial dan melakukan konstruksi pengetahuan dari
lingkungan sosialnya.
Berkaitan dengan karya Vigotsky dan penjelasan
Piaget, para konstruktivis menekankan interaksi dengan teman sebaya, melalui
pembentukan kelompok belajar. Dengan kelompok belajar memberikan kesempatan
kepada siswa secara aktif dan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang
dipikirkan siswa kepada teman akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan
lebih jelas bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri.
2.7.1 Konsep Dasar
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk
pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari enpat sampai enam orang dengan
struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Pembelajaran kooperatif berbeda
dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari
proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerjasama dalam kelompok.
Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian
penguasaan materi pembelajaran, tetapi juga adanya unsur kerjasama untuk
penguasaan materi tertentu. Adanya kerjasama inilah yang menjadi ciri khas dari
cooperative learning.
Pembelajaran kooperatif dapat
dijelaskan dalam beberapa perspektif, yaitu : 1) Perspektif motivasi artinya
penghargaan yang diberikan kepada kelompok yang dalam kegiatannya saling
membantu untuk memperjuangkan keberhasilan kelompok. 2) Perspektif sosial
artinya melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar
karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan. 3)
Perspektif perkembangan kogtnitif artinya dengan adanya interaksi antara
anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah
berbagai informasi. (sanjaya, 2006 : 242).
2.7.2 Pembelajaran Secara Tim
Pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan.
Oleh karena itu, tim harus mampu membuatg setiap siswa belajar. Setiap anggota
tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.7.3 Didasarkan pada
Manajemen Kooperatif
Manajemen seperti yang telah kita
pelajari pada bab sebelumnya mempunyai tiga fungsi, yaitu : (a) Fungsi
manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran
kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah
pembelajaran yang sudah ditentukan. Misalnya tujuan aapa yang harus dicapai,
bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan, dan
lain sebagainya (b) Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa
pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses
pembelajaran berjalan dengan efektif. (c) Fungsi manajemen sebagai kontrol,
menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria
keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun nontes.
2.7.4 Kemauan untuk
Bekerjasama
Keberhasilan pembelajaran
kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip
kebersamaan atau kerjasam perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa
kerjasama yang baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang
optimal.
2.7.5 Ketrampilan Bekerjasama
Kemampuan bekerjasama itu
dipraktikkan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok.
Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan
berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan.
Pembelajaran kooperatif adalah
suatu aktivitas pembelajaran yang menggunakan pola belajar siswa berkelompok
untuk menjalin kerjasama dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan
dan hadiah. (Muslim Ibrahim, 2003 : 3).
Pembelajaran kooperatif dicirikan
oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Siswa yang bekerja
dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan/atau dikehendaki untuk
bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengordinasikan usahanya
untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau
lebih individu saling tergantung satu salam lain untuk mencapai satu
penghargaan bersama.
Mereka akan berbagi penghargaan
tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.
Unsur-unsur dasar pembelajaran
kooperatif adalah sebagai berikut :
a.
Siswa dalam kelompoknya
haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
b.
Siswa bertanggung jawab
atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
c.
Siswa haruslah melihat
bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d.
Siswa haruslah membagi
tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
e.
Siswa akan dikenakan
evaluasi atau diberikan hadiah / penghargaan yang juga akan dikenakan untuk
semua anggota kelompok.
f.
Siswa berbagi
kepemimpinan dan mereka membutuhkan ketrampilan untuk belajar bersama selama
proses belajarnya.
g.
Siswa diminta
mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok
kooperatif.
Ciri-ciri yang terjadi pada
kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif, adalah
sebagai berikut :
a.
Siswa bekerja dalam
kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b.
Kelompok dibentuk dan
siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c.
Bilamana mungkin,
anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
d.
Penghargaan lebih berorientasi
kelompok ketimbang individu.
Model pembelajaran kooperatif
dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting,
yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan
ketrampilan sosial.
Model pembelajaran kooperatif
merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalma kelompok-kelompok
kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalama menyelesaikan tugas
kelompok, setiap anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu
bahan pembelajaran.
Model pembelajarn kooperatif
dikembangkan berdasarkan teori belajar kooperatif konstruktiv. Hal ini terlihat
pada salah satu teori Vigotsky yaitu penekanan pada hakikat sosiokultural dari
pembelajaran Vigotsky yakni bahwa fase mental yang lebih tinggi pada umumnya
muncul pada percakapan atau kerjasama antara individu sebelum fungsi mental
yang lebih tinggi terserap dalam individu tersebut. Implikasi dari teori
Vigotsky dikehendakinya susunan kelas berbentuk kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif
sangat berbeda dengan model pembelajaran langsung. Disamping model pembelajaran
kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar kompetensi akademik, model
pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan kompetensi sosial
siswa. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa
memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan
bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian
siswa pada belajar akademik, dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil
belajar. Dalam banyak kasus, norma budaya anak muda sebenarnya tidak menyukai
siswa-siswa yang ingin menonjol secara akademis. Robert Slavin dan pakar lain
telah berusaha untuk mengubah norma ini melalui penggunaan pembejaran
kooperatif. Disamping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar,
pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok
bawah maupun kelompok atas kerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik,
siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi
memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa
yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atags akan meningkat
kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan
pemikiran lebih dalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi
tertentu.
Tujuan penting lain dari
pembelajaran kooperatif adalah untuk
mengajarkan kepada siswa ketrampilan kerjasama dan kolaborasi. Ketrampilan ini
amat penting untuk memiliki di dalam masyarakat dimana banyak kerja orang
dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung sama
lain dan dimana masyarakat secara budaya semakin beragam. Sementara itu, banyak
anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam ketrampilan sosial. Situasi ini
dibuktikan dengan begitu sering pertikaian kecil antara individu dapat
mengakibatkan tindak kekerasan atau betapa sering orang menyatakan
ketidakpuasan pada saat diminta untuk bekerja dalam situasi kooperatif. Dalam
pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja. Namun, siswa juga
harus mempelajari ketrampilan-ketrampilan khusus yang disebut ketrampilan
kooperatif. Ketrampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan,
kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan
komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dilakukan dengan
membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan.
Ada tiga bentuk ketrampilan
kooperatif sebagaimana diungkapkan oleh Lundgren (1994), yaitu :
a.
Ketrampilan kooperatif
tingkat awal
Meliputi : (a) menggunakan
kesepakatan; (b) menghargai kontribusi; (c) mengambil giliran dan berbagi
tugas; (d) berada dalam kelompok; (e) berada dalam tugas; (f) mendorong
partisipasi; (g) mengundang orang lain untuk berbicara; (h) menyelesaikan tugas
pada wktunya; dan (i) menghormati perbedaan individu.
b.
Ketrampilan kooperatif
tingkat menengah
Meliputi : (a) menunjukkan penghargaan
dan simpati; (b) mengungkapkan ketidak-setujuan dengan cara yang dapat
diterima; (c) mendengarkan dengan aktif; (d) bertanya; (e) membuat ringkasan;
(f) menafsirkan; (g) mengatur dan mengorganisir; (h) menerima, tanggung jawab;
(i) mengurangi ketegangan.
c.
Ketrampilan kooperatif
tingkat mahir
Meliputi : (a) mengelaborasi; (b)
memeriksa dengan cermat; (c) menanyakan kebenaran; (d) menetapkan tujuan; (e)
berkompromi.
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam
pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif, pelajaran dimulai dengan
guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini
diikuti oleh penyajian informasi, sering kali dengan bahan bacaann daripada
secara verbal. Selanjutnya, siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap
ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan
tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi
hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari
dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.
|
Tahap
|
Tingkah Laku Guru
|
|
Tahap 1
Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru
menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pelajaran dan
menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa
belajar.
|
|
Tahap 2
Menyajikan
informasi
|
Guru
menyajikan informasi atau materi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau
melalui bahan bacaan
|
|
Tahap 3
Mengorganisasikan
siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru
menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan
membimbing setiap keloopok agar melakukan transisi secara efektif dan
efisien.
|
|
Tahap 4
Membimbing
kelompok bekerja dan belajar
|
Guru
membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.
|
|
Tahap 5
Evaluasi
|
Guru
mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau
masing-masing kelompok mempresentasikan hasl kerjanya.
|
|
Tahap 6
Memberikan
penghargaan
|
Guru
mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu
dan kelompok.
|
2.7.6 Prinsip-prinsip
Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan david Johnson
(lie, 2008) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif (cooperatice learning), yaitu sebagai
berikut :
(1) Prinsip
ketergantungan positif (positive
interdependence), yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam
penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut.
Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota
kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling
ketergantungan.
(2) Tanggung
jawab perseorangan (individual
accountability), yaitu keberhasilan kelompok sangatg tegrgantung dari
masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok
mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok
tersebut.
(3) Interaksi
tatap muka (face to face promotion
interaction), yaitu memberikan kesempayan yang luas kepada setiap anggota
kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling
memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.
(4) Partisipasi
dan komunikasi (perticipation
sommunication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan
berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
(5) Evaluasi
proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka, agar selanjutnya
bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
2.7.7 Prosedur Pembelajaran
Kooperatif
Prosedur atau langkah-langkah
pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu sebagai
berikut :
1.
Penjelasan materi
Tahap penjelasan dimaksudkan
sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar
dalam kelompok.Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap
pokok materi pelajaran.Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang
materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam
materi dalam pembelajaran kelompok.Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode
ceramah,curah pendapat,dan tanya jawab,bahkan kalau perlu guru dapat
menggunakan demonstrasi.Di samping itu guru juga dapat menggunakan berbagai
media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik siswa.
2. Belajar
dalam kelompok
Setelah guru menjelaskan
gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran,selanjutnya siswa diminta
untuk belajar pada keolmpoknya masing-masing yang telah dibentuk
sebelumnya.Pengelompokan dalam SPK bersifat heterogen,artinya kelompok dibentuk
berdasarkan perbedaan=perbedaan setiap anggotanya,baik perbedaan gender,latar
belakang agama,social ekonomi dan etnik,serta perbedaan kemampuan akademik.
3. Penilaian
Penilaian dalam SPK dapat dilakukan
dengan tes atau kuis.Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun
secara kelompok. Tes
individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa’dan tes
kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok. Hasil akhir setiap
siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai setiap
kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya, hal ini disebabkan nilai
kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil kerja sama
setiap anggota kelompok.
Tes individu akan memberikan penilaian
kemampuan individu, sedangkan kelompok akan memberikan penilaian pada kemampuan
kelompoknya, seperti dijelaskan Sanjaya (2006 : 247). “Hasil akhir setiap siswa
adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua.
4. Pengakuan tim
Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap
paling menonjol,atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan
penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan penghargaan tersebut diharapkan dapat
memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain
untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.
2.7.8 Strategi
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan system
pengelompokan/tim kecil,yaitu antara empat antara enam orang yang mempunyai
latar belakang kemampuan akademik,jenis kelamin,rasa tau suku yang
berbeda.Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok,setiap kelompok akan
memperoleh penghargaan atau reward,jika kelompok mampu menunjukkan prestasi
yang dipersyaratkan.Dengan demikian setiap anggota kelompok akan mempunyai
ketergantungan positif.Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan
memunculkan tanggungjawab individu terhadap kelompok dan ketrampilan
interpersonal dari setiap anggota kelompok.
Strategi
Pembelajaran Kooperatif bisa digunakan manakala :
a. Guru
menekankan pentingnya usaha kolektif,disamping usaha individual dalam belajar.
b. Jika
guru menghendaki selruh siswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar
c.
Jika guru ingin menanamkan,bahwa siswa dapat
belajar dari teman lainnya.
d. Jika
guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian
dari isi kurikulum.
e.
Jika guru menghendaki
meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
f.
Jika guru menghendaki
berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai
solusi pemecahan.
Karakteristik dan prinsip prinsip SPK
Karakteristik dan prinsip prinsip SPK
Karakteristik SPK
a. Pembelajaran secara tim
b. Berdasarkan pada managemen kooperatif
c. Kemauan unyuk bekerjasama
d. Keterampilan bekerjasama
a. Pembelajaran secara tim
b. Berdasarkan pada managemen kooperatif
c. Kemauan unyuk bekerjasama
d. Keterampilan bekerjasama
Prinsip prinsip SPK
a. Prinsip ketergantungan positif
b. Tanggungjawab perseorangan
c. Interaksi tatap muka
d. Partisipasi dan komunikasi
a. Prinsip ketergantungan positif
b. Tanggungjawab perseorangan
c. Interaksi tatap muka
d. Partisipasi dan komunikasi
2.5.9 Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)
2.5.9.1 Keunggulan SPK
a.
Melalui SPK siswa
tidak terlalu menggantungkan pada guru,akan tetapi dapat menambah kepercayaan
kemampuan berpikir sendiri,menemukan informasi dari berbagai sumber,dan belajar
dari siswa yang lain
b. SPK
dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan idea tau gagasan dengan kata-kata
secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain
c. SPK
dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala
keterbatasannya serta menerima segala perbedaan
d. SPK
dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam
belajar.
e. SPK
merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik
sekaligus kemampuan social,termasuk pengembangan rasa harga diri,hubungan
interpersonal yang positif dengan yang lain,mengembangkan ketrampilan mengatur
waktu,dan sikap positif terhadap sekolah.
f. Melalui
SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya
sendiri,menerima umpan balik.Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa
takut membuat kesalahan,karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab
kelompoknya
g. SPK
dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar
abstrak menjadi nyata.
h. Interaksi
selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk
berpikir
2.5.9.2 Kelemahan SPK
a. Untuk
memahami dan mengerti filosofi SPK memang butuh waktu
Cirri utama SPK adalah siswa saling membelajarkan.Oleh karena itu,jika tanpa peer teaching yang efektif,maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru,bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
Cirri utama SPK adalah siswa saling membelajarkan.Oleh karena itu,jika tanpa peer teaching yang efektif,maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru,bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
b. Penilaian
yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok.Namun
demikian,guru perlu menyadari,bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang
diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
c. Keberhasilan
SPK dalam paya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu
yang cukup panjang.Dan,hal ini tidak mungkin tercapai hanya dengan satu kali
atau sekali-sekali penerapan strategi ini.
d. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan
kemampuan yang sangat penting utnuk siswa, akan tetapi banyak
aktifitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampaun secara
individual. Oleh
karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama,siswa juga
harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri.
2.5.10 Ciri-ciri
Pembelajaran Kooperatif
Beberapa ciri
dari pembelajaran kooepratif
adalah; (a) setiap
anggota memiliki
peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab
atas belajarnya dan
juga teman-teman sekelompoknya,
(d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok,
(e) guru hanya
berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Carin, 1993).
Tiga konsep
sentral yang menjadi
karakteristik pembelajaran kooperatif sebagaimana dikemukakan oleh Slavin
(1995), yaitu penghargaan
kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
a.
Penghargaan Kelompok
Pembelajaran kooperatif
menggunakan tujuan-tujuan
kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok.
Penghargaan kelompok
diperoleh jika kelompok mencapai
skor di atas
kriteria yang ditentukan.
Keberhasilan kelompok didasarkan
pada penampilan individu
sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan
antar personal yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli.
b.
Pertanggungjawaban Individu
Keberhasilan kelompok tergantung
dari pembelajaran individu
dari semua anggota kelompok.
Pertanggungjawaban tersebut menitikberatkan pada aktivitas anggota
kelompok yang saling
membantu dalam belajar. Adanya pertanggungjawaban secara
individu juga menjadikan
setiap anggota siap untuk menghadapi tes
dan tugas-tugas lainnya
secara mandiri tanpa bantuan teman sekelompoknya.
c.
Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan
Pembelajaran kooperatif menggunakan metode skoring
yang mencakup nilai perkembangan
berdasarkan peningkatan prestasi
yang diperoleh siswa
dari yang terdahulu. Dengan
menggunakan metode skoring ini
setiap siswa baik yang
berprestasi rendah, sedang,
atau tinggi sama-sama
memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi
kelompoknya.
2.5.11 Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan pembelajaran kooperatif
berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana
keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang
lain. Sedangkan tujuan
dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi
di mana keberhasilan
individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya
(Slavin, 1994).
Model pembelajaran
kooperatif dikembangkan
untuk mencapai stidak-tidaknya tiga
tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh
Ibrahim, et al. (2000), yaitu:
a. Hasil belajar akademik
Dalam belajar
kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan
sosial, juga memperbaiki prestasi
siswa atau tugas-tugas
akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat
bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep
sulit. Para pengembang
model ini telah menunjukkan
bahwa model struktur
penghargaan kooperatif telah dapat
meningkatkan nilai siswa pada
belajar akademik dan perubahan
norma yang berhubungan
dengan hasil belajar.
Di samping mengubah
norma yang berhubungan dengan
hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat
memberi keuntungan baik pada siswa
kelompok bawah maupun kelompok
atas yang bekerja bersama
menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan
individu
Tujuan lain model pembelajaran
kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda
berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran
kooperatif memberi peluang
bagi siswa dari berbagai latar belakang
dan kondisi untuk bekerja
dengan saling bergantung pada
tugas-tugas akademik dan
melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling
menghargai satu sama lain.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan
bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan
sosial, penting dimiliki
oleh siswa sebab
saat ini banyak
anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial. .
2.5.12 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Urutan langkah-langkah prilaku guru
menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraiakan oleh Arends (1997) adalah
sebagaimana terlihat pada tabel 2.1. sebagai berikut :
Ø Fase
1: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan
semua tujuan, pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran, tersebut dan
memotivasi siswa belajar.
Ø Fase
2: Menyajikan informasi Guru
menyajikan informasi kepada
siswa, dengan jalan demonstrasi
atau lewat bahan bacaan.
Ø Fase
3: Mengorganisasikan siswa Dalam kelompok-kelompok, belajar, Guru menjelaskan
kepada siswa bagaimana caranya membentuk
kelompok belajar dan membantu setiap
kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Ø Fase
4: Membimbing kelompok bekerja Guru membimbing kelompok-kelompok, belajar pada
saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Ø Fase
5: Evaluasi Guru mengevaluasi
hasil belajar tentang materi yang
telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Ø Fase
6: Memberikan penghargaan Guru mencari
cara-cara untuk menghargai,
baik upaya maupun hasil
belajar individu, dan kelompok.
Terdapat enam fase utama dalam pembelajaran kooperatif (Arends, 1997). Pembelajaran dalam
kooperatif dimulai dengan guru menginformasikan tujuan-tujuan
dari pembelajaran dan
memotivasi siswa untuk
belajar. Fase ini
diikuti dengan penyajian informasi,
sering dalam bentuk
teks bukan verbal. Kemudian dilanjutkan langkah-langkah di
mana siswa di bawah bimbingan
guru bekerja bersama-sama
untuk menyelesaikan tugas-tugas
yang saling bergantung.
Ø Fase
terakhir dari pembelajaran kooperatif meliputi penyajian produk akhir kelompok
atau mengetes apa yang telah dipelajari oleh siswa dan pengenalan kelompok dan
usaha-usaha individu.
2.5.13 Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif
Walaupun
prinsip dasar pembelajaran
kooperatif tidak berubah,
terdapat beberapa variasi dari
model tersebut. Ada empat
pendekatan pembelajaran kooperatif
(Arends, 2001). Di sini akan
diuraikan secara ringkas masing-masing pendekatan tersebut.
2.8
Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition)
Pembelajaran kooperatif tipe CIRC
(Cooperative Integrated Reading and Compotition) adalah sebuah
program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis
untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Pengembangan
model
pembelajaran CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition) yang secara secara
stimulan difokuskan pada kurikulum dan metode – metode pembelajaran merupakan
sebuah upaya untuk memperkenalkan teknik terbaru latihan -latihan kurikulum
yang berasal dari penelitian dasar mengenai pengajaran praktis pelajaran
membaca dan menulis. Pendekatan pembelajaran kooperatif mengikuti penemuan pada
penelitian sebelumnya, menekankan tujuan -tujuan kelompok dan tanggung jawab
individual.
Pengembangan CIRC dihasilkan dari sebuah analisis
masalah-masalah tradisional dalam pengajaran pelajaran membaca, menilis, seni
berbahasa. Isu-isu prinsipil yang ditujukan dalam proses pengembangan.
Satu fokus dari kegiatan dari kegiatan-kegiatan CIRC
sebagai cerita dasar adalah membuat penggunaan waktu tindak lanjut menjadi
lebih efektif : Para siswa yang bekerja di dalam tim-tim kooperatif dari
kegiatan-kegiatan ini, yang dikoordinasikan dengan pengajaran kelompok membaca,
supaya dapat memenuhi tujuan-tujuan dalam bidang-bidang lain seperti pemahaman
membaca, kosa kata, pembacaan pesan, dan ejaan. Para siswa termotivasi untuk
saling bekerja satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan ini atau rekognisi lainya yang didasarkan pada bembelajaran seluruh
anggota tim.
Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan
dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa.
Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau
tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang
pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok satu sama lain.
Dengan pembelajaran kooperatif, diharapkan para
siswa dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa
sosial yang tinggi.
a.
Komponen-komponen dalam
pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno (2005: 3-4) memiliki delapan
komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain:
1. Teams,
yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau
5 siswa
2. Placement
test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau
berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada
bidang tertentu.
3. Student
creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi
dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan
kelompoknya
4. Team
study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan
guru memberika bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya.
5. Team
scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok
dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara
cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
6. Teaching
group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian
tugas kelompok
7. Facts
test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh
siswa
8. Whole-class
units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran
dengan strategi pemecahan masalah.
b.
Kegiatan pokok dalam
CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan
bersama yang spesifik, yaitu:
1. Salah
satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal.
2. Membuat
prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk menuliskan apa
yang diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu
variable.
3. Saling
membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah.
4. Menuliskan
penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut.
5. Saling
merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (Suyitno, 2005:4).
c.
Penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah dapat ditempun dengan:
1. Guru
menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa, pada penelitian ini
digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan.
2. Guru
memberikan latihan soal.
3. Guru
siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan
soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC.
4. Guru
membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen.
5. Guru
mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan
membagikannya kepada setiap kelompok.
6. Guru
memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama
yang spesifik.
7. Setiap
kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC. Guru mengawasi kerja kelompok.
8. Ketua
kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya.
9. Ketua
kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat
mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan.
10. Guru
meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya.
11. Guru
bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator.
12. Guru
memberikan tugas/PR secara individual.
13. Guru
membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya.
14. Guru
mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal pemecahan masalah.
15. Guru
memberikan kuis.
d.
Kelebihan model pembelajaran CIRC
Secara
khusus, Slavin dalam Suyitno (2005:6) menyebutkan kelebihan model pembelajaran
CIRC sebagai berikut:
1.
CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam
menyelesaikan soal pemecahan masalah.
2.
Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang.
3.
Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja
dalam kelompok.
4.
Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek
pekerjaannya.
5.
Membantu siswa yang lemah.
6.
Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal
yang berbentuk pemecahan masalah
7.
Pengalaman dan kegiatan belajar anak
didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
8.
Seluruh kegiatan belajar lebih
bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar anak didik akan dapat bertahan
lebih lama.
9.
Membangkitkan motivasi belajar,
memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam proses pembelajaran.
BAB
III
METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas
secara teratur dan sistematis dalam kegiatan penelitian, termasuk metodologi
atau teknik pengumpulan data yang digunakan. Menurut yoseph (dalam sukardi,
2004), penelitian adalah suatu seni dan ilmu (art and science) yang bertujuan
untuk mencari jawaban terhadap suatu masalah. Oleh karena itulah dalam
penelitian, kejelasan hal-hal yang mencakup dalam metodologi penelitian yang
sangat diperlukan. Hal-hal yang mencakup dalam metodologi penelitian meliputi :
(1) Metode penelitian, (2) Jenis dan rancangan penelitian, (3) Lokasi dan waktu
penelitian, (4) subjek penelitian, (5) Jenis dan sumber data, (6) Teknik
pengumpulan data, (7) Instrument penelitian, (8) Teknik analisa data.
3.1. Metode Penelitian
|
Dalam penelitian tindakan
terdapat beberapa karakteristik antara lain bertujuan untuk memecahkan masalah
di kelas dengan penerapan langsung, hasil penelitian tidak bersifat universal.
Berdasarkan hal tersebut, untuk mendapatkan data yang sesuai dengan hipotesis
yang telah dirumuskan, maka harus digunakan cara yang sistematis dan
terstruktur sehingga hasil yang diperoleh pada saat penelitian benar-benar
akurat tanpa ada rekayasa. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, tentunya
penelitian ini harus menggunakan metode yang tepat. Metode penelitian yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Metode
deskriptif adalah metode yang digunakan untuk tujuan mendeskripsikan suatu
gejala atau peristiwa yang terjadi pada masa sekarang.
Metode deskriptif mempunyai ciri-ciri tertentu, yakni
bahwa metode deskriptif itu:
1.
Memusatkan diri pada
pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, pada masa-masa yang
aktual.
2.
Data yang dikumpulkan
kemudian disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa. Sehingga pelaksanaan
metode deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan data dan
penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang data itu.
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini yaitu
memperoleh gambaran yang obyektif mengenai penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe CIRC (cooperatif
integrated reading and composition) untuk meningkatkan kemampuan menemukan
unsur instrinsik cerpen siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tuban Tahun
Pelajaran 2011/2012.
3.2. Jenis dan
Rancangan Penelitian
3.2.1. Jenis Penelitian
Ditinjau dari segi
penganalisisan data secara statistik, jenis penelitian dibedakan menjadi dua
jenis yaitu: (1) Jenis penelitian kuantitatif, (2) Jenis penelitian kualitatif.
Penelitian kuantitatif adalah data yang dapat dianalisis secara statistik tanpa
diolah dulu karena sudah berbentuk angka-angka, sedangkan penelitian kualitatif
adalah data yang tidak dapat diukur dan dianalisa secara langsung dengan teknik
statistik, tetapi harus diolah dulu menjadi bentuk angka-angka.
Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan penelitian
kuantitatif. Penelitian kuantitatif penulis gunakan untuk pengujian hipotesis,
karena data yang terkumpul berupa angka dengan analisis statistik.
3.2.2 Rancangan Penelitian
Prosedur penelitian ini berupa
penelitian tindakan kelas (PTK) dimana prosedur pelaksanaannya mengikuti
prinsip dasar tindakan kelas. PTK merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan
yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama untuk
meningkatkan hasil pembelajaran (Arikunto,
2006 : 91).
Menurut Hopkins PTK adalah
penelitian ytang dirancang untuk membantu guru mengetahui apa yang sedang
terjadi di dalam kelasnya dan menggunakan informasi itu untuk membuat keputusan
yang tepat untuk kesempatan berikutnya.
Penelitian tindakan kelas dilakukan dalam dua siklus
yaitu proses tindakan pada siklus I dan proses tindakan pada siklus II. Siklus
I bertujuan untuk mengetahui kemampuan menemukan unsur instrinsik sebelum
menggunakan pembelajaran kooperatif tipe CIRC dipakai sebagai refleksi untuk
menulis siklus II. Sedangkan siklus II bertujuan mengetahui kemampuan dalam menemukan
unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC. pada siswa
setelah dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran
yang didasarkan pada siklus I. Apabila pemecahan masalah belum terselesaikan
maka dapat dilanjutkan pada siklus III. Setiap siklus terdiri dari empat tahap
yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi. Di bawah ini adalah gambaran
desain penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus.
![]() |
Gambar
3 . 1
Desain
Penelitian Tindakan Kelas
(Kemmis
& Mc Taggart, dalam Arikunto; 2006 : 97)
Tahap pertama dalam PTK adalah perencanaan, yaitu
rencana tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar dalam menemukan
unsur instrinsik sebelum menggunakan metode kooperatif tipe CIRC. Tahap kedua
adalah tindakan, yaitu hasil belajar dalam menemukan unsur instrinsik
cerpen melalui pembelajaran kooperatif
tipe CIRC. Tahap yang ketiga adalah pengamatan, yaitu pengamatan peneliti
terhadap peran serta siswa selama pembelajaran dan pengamatan terhadap hasil
kerja siswa. Tahap yang ke empat adalah refleksi, yaitu kegiatan mengkaji dan
mempertimbangkan hasil yang diperoleh dari pengamatan sehingga dapat dilakukan
terhadap proses pembelajaran selanjutnya.
3.3 Prosedur Penelitian
Sesuai dengan jenis penelitian
yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) maka prosedur yang ditempuh dalam
penelitian ini melalui dua siklus pembelajaran seperti pada gambar di atas,
sebab setelah dilakukan refleksi yang meliputi analisis dan penelitian terhadap
tindakan sebelumnya akan muncul permasalahan atau pemikiran baru sehingga
dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang dan refleksi
ulang. Masing-masing siklus memiliki empat tahapan sebagai berikut :
3.3.1
Siklus I
Prosedur
tindakan pada siklus I berupa perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan
refleksi.
1.
Perencanaan
Pada
tahap perencanaan ini peneliti menyiapkan perencanaan yang matang untuk
mencapai pembelajaran yang diinginkan oleh peneliti. Rencana kegiatan yang
dilakukan adalah : (1) menyusun rencana pembelajaran memahami unsur instrinsik
cerpen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC, (2)
mendiskusikan dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia, apakah pernah menerapkan
metode pembelajaran tersebut, (3) membuat dan menyiapkan instrumen penelitian
berupa lembar evaluasi, (4) menyusun pedoman pengamatan tentang pelaksanaan
pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik cerpen melalui model
pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
- Pelaksanaan
Tindakan adalah perubahan yang
dilakukan oleh guru sebagai upaya untuk pelaksanaan dan peningkatan sebagai
solusi. Tahap ini merupakan penerapan rancangan yang telah dibuat. Tindakan
yang dilakukan secara garis besar adalah pelaksanaan pembelajaran mengapresiasi
cerpen dikaji dari unsur imstrinsik cerpen melalui model pembelajaran
kooperatif tipe CIRC: (1) Melaksanakan pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji
dari unsure instrinsik melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC, (2)
Pembelajaran dilakukan sewajar mungkin, sehingga berlangsung secara teratur,
(3) Sambil melaksanakan pembelajaran, peneliti mengamati dan mengumpulkan data
sebagai kemampuan, sikap dan perilaku siswa selama pembelajaran mengapresiasi
cerpen.
3.
Pengamatan
Pengamatan
dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Peneliti mengamati hasil atau
dampak dari tindakan-tindakan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran
menemukan unsur instrinsik yaitu siswa harus memahami isi cerpen dengan
menentukan tema, setting/lattar, alur/plot, tokoh/penokohan, amanat, sudut
pandang. Pengamatan ini meliputi aktifitas yang dilakukan siswa selama proses
pembelajaran berlangsung dan respon terhadap model pembelajaran kooperatif tipe
CIRC.
Pengamatan
dilakukan melalui data observasi yaitu: (1) Tes untuk mengetahui kemampuan
siswa dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik, (2) Dokumentasi
foto digunakan sebagai laporan yang berupa gambar aktifitas siswa selama
mengikuti pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur ekstrinsik
melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
4.
Refleksi
Refleksi
dilakukan untuk menganalisis hasil observasi dan tes siklus I dengan tujuan
untuk mengevaluasi diri. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I
diperbaiki pada siklus II.
Tahap
refleksi ini dilakuakan untuk menanalisis hasil observasi dan tes yang telah
dilakukan pada siklus I. Hasil analisis ini digunakan untuk mengetahui
kelebihan dan kekurangan dari metode pembelajaran yang digunakan oleh peneliti
untuk mengetahui tindakan-tindakan yang dilakukan siswa selama proses
pembelajaran berlangsung.
3.3.2. Siklus II
Prosedur penelitian pada siklus
II terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan
refleksi.
1.
Perencanaan
Perencanaan yang
akan dilakukan penelitin pada siklus II ini masih berpedoman pada hasil
analisis kesalahan dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik
melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC yang terjadi pada siklus I.
Perencanaan yang dilakukan oleh peneliti pada siklus II merupakan penyempurna
dari perencanaan pada siklus I. Perencanaan ulang menyiapkan rencana
pelaksanaan pembelajaran, instrumen tes dalam bentuk esai, model pembelajaran
kooperatif tipe CIRC yang digunakan dan lembar observasi aktifitas siswa.
2.
Pelaksanaan
Tindakan
pada siklus II adalah tindakan yang merupakan perbaikan-perbaikan dari siklus
I. Peneliti menggunakan metode pembelajaran yang sama, tindakan yang dilakukan
disesuaikan dengan perencanaan pada proses pembelajaran yang telah dipersiapkan.
Tindakan yang dilakukan adalah pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari
unsure insstrinsik melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Ada
beberapa pembaharuan tindakan pada tahap ini antara lain: (1) Melaksanakan
pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure ekstrinsik melalui model
pembelajaran kooperatif tipe CIRC, (2) Pembelajaran dilakukan sewajar mungkin,
siswa harus lebih berkonsentrasi dalam kegiatan pembelajaran, (3) Sambil
melaksanakan pembelajaran, peneliti mengamati dan mengumpulkan data berbagai
kemampuan, sikap, dan perilaku siswa selama pembelajaran mengapresiasi cerpen
dikaji dari unsure instrinsik.
3.
Pengamatan
Pengamatan
dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan untuk
mengetahui kemampuan dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure insstrinsik
setelah dilakukan pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC
untuk mengetahui perubahan tingkah laku siswa dalam pembelajaran tersebut.
Pada
tahap ini, peneliti mempersiapkan lembar pedoman observasi. Data diperoleh
melalui beberapa cara yaitu: (1) Observasi untuk mengamati dalam proses
pembelajaran mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik, (2) Keseriusan
siswa dalam memperhatikan materi pelajaran, (3) Keantusiasan siswa dalam
menanggapi materi pembelajaran dan keaktifan siswa dalam berkelompok, (4) Teks untuk mengukur
kemampuan dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure ekstrinsik.
4.
Refleksi
Refleksi pada siklus II dilakukan
untuk mengetahui keefektifan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC
pada pembelajaran dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsure instrinsik
untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan perbaikan tindakan pada siklus I.
Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan hasil non tes pada
pembelajaran dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik yang
dilakukan untuk merefleksi hasil evaluasi belajar siswa pada siklus I.
Refleksi pada siklus II ini
dilakukan untuk merefleksi hasil evaluasi belajar siswa pada siklus I. Tujuan
refleksi ini dilakukan untuk menentukan kemajuan yang telah dicapai selama
proses pembelajaran dalam memahami unsure instrinsik cerpen setelah dilakukan
pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dan untuk mencari
kelemahan-kelemahan yang mungkin masih muncul pada siklus II.
Untuk menganalisis data, peneliti
menggunakan dua jenis penelitian yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian
kualitatif. Penelitian kuantitatif penulis gunakan untuk pengujian hipotesis
karena data yang terklumpul berupa angka dengan analisis statistik. Sedangkan
penelitian kualitatif penulis gunakan untuk menyusun data yang harus diolah
dahulu menjadi bentuk angka-angka.
3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.4.1
Lokasi Penelitian
Kegiatan
penelitian ini dilaksanakan di MTs Al Musthofa Grabagan Tuban yang tepatnya
berada di Desa Grabagan Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban. Alasan peneliti
memilih sekolah ini sebagai lokasi penelitian adalah :
1.
Metode pembelajaran
yang diterapkan guru kurang efektif, sehingga sebagian siswa kurang tanggap
terhadap pelajaran yang diajarkan, hal ini didukung dengan sarana dan prasarana
yang belum memadai.
2.
Materi pelajaran yang
diberikan ada di kelas VII A, karena penerapan model pembelajaran tipe CIRC dalam
pokok bahasan memahami unsur instrinsik merupakan inovasi baru dalam model
pembelajaran guna memperbaiki kualitas pembelajaran.
3.4.2
Waktu Penelitian
Adapun
penelitian tindakan kelas (PTK) tepatnya dilaksanakan pada semester genap tahun
pelajaran 2011 / 2012 selama empat kali pertemuan untuk dilaksanakan dus siklus
dengan rincian sebagai berikut :
Tabel 3.1
Waktu Penelitian
|
No
|
Hari
/ Tanggal
|
Kegiatan
|
|
1
|
Selasa
, 01 Mei 2012
|
Observasi
|
|
2
|
Kamis
, 03 Mei 2012
|
Perencanaan
dan pelaksanaan siklus I
|
|
3
|
Selasa
, 08 Mei 2012
|
Perencanaan
dan pelaksanaan siklus II
|
3.5 Subyek Penelitian
Subjek yang penulis tetapkan tersebut mempunyai
ciri-ciri tertentu yakni yang sama, yakni (1) setiap siswa mempunyai tingkat
kecerdasan dan cara berfikir yang sama, (2) setiap siswa diberi materi
pelajaran yang sesuai dengan kurikulum KTSP kelas VII untuk materi pelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia, dan (3) semua siswa MTs Al Musthofa Grabagan tahun
pelajaran 2011/2012 dalam keadaan normal. Dengan memperhatikan ciri-ciri
tersebut penulis menentukan kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun
Pelajaran 2011/2012 dalam keadaan normal.
Tabel 3.2
Jumlah Siswa Kelas VII
A MTs Al Musthofa Grabagan
|
No
|
Siswa
|
Siswa
Putra
|
Siswa
Putri
|
Jumlah
|
|
1
|
Kelas
VII A
|
14
|
19
|
33
|
Sesuai dengan hal di atas
peneliti menggunakan subjek siswa, dengan menggunakan kelompok-kelompok yang
beragam kemampuan, jenis kelamin dan sukunya. Peneliti menggunakan kelompok
yang terdiri dari 5 anggota.
Setiap mengadakan penelitian,
seorang peneliti akan memiliki luas daerah yang berbeda sebagai tempat
penelitian. Jika daerah penelitian luas dapat mengambil prosedur,
Demikian
Arikunto memberikan gambaran bahwa besar kecilnya yang hendak diteliti terserah
kepada peneliti. Berdasarkan dengan pemikiran tersebut, dalam penelitian ini
sesuai dengan pendekatan yang digunakan, penulis mengambil suatu kesimpulan
bahwa subjek penelitian dapat dijadikan obyek penelitian. Adapun yang diambil
sebagai subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan
Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan jumlah 33 siswa.
Tabel 3.3
Jumlah Siswa Kelas VII
A MTs Al Musthofa Grabagan
|
No
|
Nama Siswa
|
Jenis Kelamin
|
|
1
|
Abdul Wahid
|
L
|
|
2
|
Ahmad Subekti
|
L
|
|
3
|
Ainur Roup
|
L
|
|
4
|
Ali Masroni
|
L
|
|
5
|
Amilatus Sholihah
|
P
|
|
6
|
Andi Nastiawan
|
L
|
|
7
|
Aris Susanto
|
L
|
|
8
|
Chusnul Chotimah
|
P
|
|
9
|
Dion Alfarizi
|
L
|
|
10
|
Era Monita
|
P
|
|
11
|
Fifin Anggraeni
|
P
|
|
12
|
Ida Elina Sari
|
P
|
|
13
|
Imam Zakiudin
|
L
|
|
14
|
Lailatul Udayanti
|
P
|
|
15
|
M Abdul Wakhid
|
L
|
|
16
|
Moh. Abdul Rokhim
|
L
|
|
17
|
Moh.Ali Susilo
|
L
|
|
18
|
Muhammad Muslih
|
L
|
|
19
|
Nita
|
P
|
|
20
|
Nurul Habibah
|
P
|
|
21
|
Oktavia Iis Sholikhah
|
P
|
|
22
|
Putri Indayati
|
P
|
|
23
|
Risa Selviana
|
P
|
|
24
|
Riska
|
P
|
|
25
|
Saifudin
|
L
|
|
26
|
Selviana Jayanti
|
P
|
|
27
|
Siti Mutoharoh
|
P
|
|
28
|
Taufik
|
L
|
|
29
|
Tutut Andriantika
|
P
|
|
30
|
Umatul Istiqomah
|
P
|
|
31
|
Wahyu Milasari
|
P
|
|
32
|
Winarsih
|
P
|
|
33
|
Wiwin Lisdiawati
|
P
|
3.6 Jenis dan Sumber Data
3.6.1
Jenis Data
Menetapkan
jenis data yang relevan dengan permasalahan, merupakan langkah pokok dalam
proses penelitian. Karena baik buruknya hasil penelitian, sebagian dipengaruhi
dengan baik buruknya jenis data yang dikumpulkan dengan tujuan penelitian.
Berdasarkan
jenisnya, data penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1.
Data primer, adalah
data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber
datanya. Data primer disebut juga data asli atau data baru yang memiliki sifat
up to date.
2.
Data sekunder, adalah
data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah
ada.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti
menggunakan dua data yaitu data primer dan data skunder. Data primer sebagai
acuan dalam pengambilan data, yaitu peneliti mengumpulkan data langsung dari
masing-masing siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran
2011/2012 yang berupa nilai.
3.6.2
Sumber Data
Data
tentang kemampuan dalam mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik
melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC diambil secara langsung dari
sumbernya. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A MTs Al
Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012. Sumber data yang utama dalam
penelitian ini adalah berasal dari siswa yakni berupa lembar kerja siswa dalam
bentuk essay. Selain itu untuk mendukung data dari penelitian ini maka ada
beberapa macam sumber data pendamping diantaranya dokumentasi.
3.7
Teknik Pengumpulan Data
Suatu penelitian dapat berjalan
dengan baik dan memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan
apabila sudah terkumpul data yang diperlukan yang akan dijadikan obyek dalam
penelitian. Untuk memperoleh data yang valid, akurat dan dapat dipercaya,
diperlukan teknik pengumpulan data yang tepat, yaitu harus sistematis dan
terencana. Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah teknik
tes dan teknik non tes.
3.7.1
Teknik Tes
Peneliti
mengumpulkan data dengan menggunakan tes. Adapun pengertian tes menurut
Arikunto (2006 : 223) menjelaskan bahwa : Tes adalah serentetan atau latihan
atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan,
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Tes ini dilakukan sebanyak dua kali yakni pada kedua siklus dilakukan tes untuk
mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur insstrinsik melalui pembelajaran
kooperatif tipe CIRC dan sebelum menggunakan metode kooperatif tipe CIRC.
Kekurangan pada siklus pertama harus diperbaiki pada siklus kedua.
Dalam
penelitian ini siswa melaksanakan tugas kelompok yakni setiap siswa memahami
isi cerpen. Sehingga setiap kelompok dengan mudah mengapresaiasikan cerpen yang
telah dibaca. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data dan teknik
tes adalah :
1.
Memberikan materi pelajaran
tentang unsur instrinsik cerpen.
2.
Siswa diberi tugas
untuk mengapresiasi unsur instrinsik cerpen.
3.
Meneliti dan mengolah
data dari hasil penelitian.
Peneliti mengukur kemampuan siswa dalam
mengapresiasi unsur ekstrinsik cerpen berdasarkan hasil tes pada siklus I dan
siklus II.
3.7.2 Teknik Non Tes
Instrumen
non tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Observasi
Observasi
adalah cara mengumpulkan data dengan melihat alat indera terhadap obyek yang
langsung ditangkap pada saat itu. Observasi disini berupa lembar pengamatan
aktivitas siswa dalam mengapresiasi
cerpen dikaji dari unsur insstrinsik melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
Selain itu pula diamati pengelolahan pembelajaran selama proses belajar mengajar.
Pelaksanaan pengamatan dilakukan dengan cara bekerjasama dengan teman peneliti
mulai awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran. Data pengamatan terhadap
perilaku siswa selama proses pembelajaran.
2.
Tes
Hasil Belajar
Data
hasil kemampuan siswa dalam cerpen dikaji dari unsur instrinsik melalui pembelajaran
kooperatif tipe CIRC dapat diperoleh dari tes yang diberikan guru penelitian.
Bentuk tes yang diberikan berupa tes subyektif, yaitu siswa disediakan sebuah cerpen untuk dikaji
dan dipahami unsur Instrinsiknya,
kemudian diapresiasikan sesuai dengan kemampuan siswa yang selanjutnya
didiskusikan dari masing-masing kelompok, pada siklus I hasil belajar siswa
masih menunjukkan rata-rata dibawah standart yang telah ditetapkan. Sedangkan
pada siklus II, hasil belajar siswa sudah terlihat peningkatannya.
Tes
tertulis adalah upaya memperoleh data kemampuan siswa dengan melakukan uji
dengan jawaban yang harus ditulis pada lembar jawaban yang tersedia. Tes tulis
ini dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengapresiasi cerpen dikaji
dari unsur Instrinsik melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
Berkaitan
dengan tes tulis ini, perlu ditegaskan
bahwa yang diukur adalah kemampuan dalam mengapresiasi cerpen dikaji
dari unsur Instrinsik melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Kemampuan yang
diukur pada diri siswa kelas VII A MTs Al Musthofa Grabagn meliputi (1)
Kemampuan mengapresiasi cerpen, (2) penggunaan metode kooperatif tipa CIRC
dalam memahami unsur instrinsik cerpen.
Dengan
memakai rumus statistik sederhana (mean) di bawah ini :

Keterangan :
Mean : jumlah nilai
rata-rata
∑x :
jumlah seluruh nilai kelas
N :
jumlah siswa
3.7.3
Dokumentasi
Dokumentasi merupakan instrumen non tes
yang cukup penting, yaitu sebagai bukti dokumen kegiatan yang dilaksanakan
selama penelitian. Peneliti memandang perlu menggunakan dokumen photo untuk
memperoleh rekaman gambar aktivitas siswa selama mengikuti proses belajar
mengajar sebagai bukti visual. Melalui dokumentasi photo ini, akan memperkuat
data baik observasi, wawancara maupun jurnal sehingga data menjadi lebih jelas
dan lengkap.
3.8 Instrumen
Penelitian
Untuk memperoleh data, dibutuhkan suatu isntrumen.
Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (2006 : 149) bahwa instrumen adalah
alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar
pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti cermat, lengkap
dan sistematis. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini antara lain :
lembar tes, lembar observasi dan dokumentasi.
Berdasarkan teknik pengumpulan data di atas maka
instrumen pada penelitian ini berupa tes subyektif. Tes subyektif bentuk
uraian, digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan siswa dalam
mengapresiasikan unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC
1. Lembar
Tes
Tes ini bertujuan menguji kemampuan
siswa dalam menemukan unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif
tipe CIRC. Selain tes ini juga berfungsi untuk mendapatkan data tentang hasil
belajar siswa ditinjau dari hasil tes belajar siswa. Tes hasil belajar siswa
tersebut diperoleh melalui prestasi siswa selama kegiatan mengapresiasi unsur
instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
Bentuk tes ini berupa tiga soal
uraian untuk mengapresiasi unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran
kooperatif tipe CIRC, dan mengungkapkan kembali hasil apresaiasi siswa dengan bahasa sendiri dengan nilai maksimal
100. Aspek dan skor penilaian dapat dilihat jelas pada tabel di bawah ini :
Tabel 3.4
Aspek dan penilaian
Mengapresiasi Unsur Instrinsik Cerpen
|
No
|
Kriteria
|
Skor
|
|
1
|
Menyebutkan
unsur instrinsik cerpen :
a.
Jawaban lengkap dan
tepat
b.
Jawaban kurang
lengkap dan tepat
c.
Jawaban kurang
lengkap dan kurang tepat
|
20
12
5
|
|
2
|
Mengapresiasikan
unsur instrinsik cerpen :
a.
Jawaban lengkap dan
tepat
b.
Jawaban kurang
lengkap dan tepat
c.
Jawaban kurang
lengkap dan kurang tepat
|
50
35
25
|
|
3
|
Mempresentasikan
hasil apresiasi cerpen :
a. Siswa Aktif dan Komunikatif ketika presentasi
b. Siswa
Kurang Aktif dan
Komunikatif ketika presentasi
c.
Siswa Kurang Aktif dan Kurang Komunikatif
ketika presentasi
|
30
15
10
|
Tabel 3.5
Kategori Penilaian Soal
dalam Mengapresiasi cerpen dikaji dari unsur instrinsik
|
No
|
Kategori
|
Rentang
Nilai
|
Frekwensi
|
|
1
2
3
4
5
|
Sangat
baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat
kurang
|
85
– 100
65
– 84
45
– 64
25
– 44
0
– 24
|
|
|
Jumlah
Siswa
|
|
33
|
|
2. Lembar
Observasi
Lembar observasi ini digunakan
untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran mengapresiasi unsur
ekstrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif jigsaw. Yang bertindak
sebagai pengamat adalah penulis dan mitra penulis untuk mengisi lembar aktivitas
siswa. Adapun lembar observasi adalah sebagai berikut :
Tabel 3.6
Lembar Observasi
Peneliti
|
No
|
Kegiatan / Aspek yang Dinilai
|
BS
|
B
|
C
|
K
|
|
1
|
Antusias siswa dalam mengikuti KMB
|
|
|
|
|
|
2
|
Kemampuan dalam memahami unsur
ekstrinsik cerita
|
|
|
|
|
|
3
|
Keaktifan dalam bertanya
|
|
|
|
|
|
4
|
Keaktifan siswa mencari sumber belajar
|
|
|
|
|
|
5
|
Kelancaran siswa dan menjawab
pertanyaan
|
|
|
|
|
BS
: 86 – 100
B : 71 – 85
C : 60 – 70
K : Dibawah 60
3.9 Teknik
Analisis Data
Teknik
analisis data adalah cara yang dipergunakan untuk menganalisis data yang
diperoleh dari penelitian. Seluruh data yang mendapatkan data yang nyata
mengenai pemahaman dalam mengapresiasi unsur instrinsik cerpen melalui
pembelajaran kooperatif CIRC. Jenis data kualitatif adalah jenis data yang
tidak dapat diukur dan dianalisis secara langsung dengan teknik statistik,
tetapi harus diolah menjadi bentuk angka-angka. Sedangkan jenis data
kuantitatif adalah jenis data yang dapat dianalisis secara statistik tanpa
diolah dulu karena sudah berbentuk angka-angka.
Penelitian
tindakan kelas ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dan teknik
analisis data.
3.9.1 Teknik
Analisis Data Kualitatif
Teknik analisis data kualitatif digunakan untuk
menganalisis data non tes. Data kualitatif diperoleh dari data observasi dan
dokumentasi. Teknik analisis data kualitatif digunakan selama dan setelah
pengumpulan data mengikuti siklus yang dilakukan dalam penelitian tindakan
kelas. Teknik analisis data kualitatif ini juga dapat dilakukan untuk
mendeskripsikan permasalahan dan proses pembelajaran dalam mengapresiasi unsur
Instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif CIRC pada siswa kelas VII A
MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012.
3.9.2 Teknik
Analisis Data Kualitatif
Teknik dari analisis data kualitatif diperoleh dari
hasil tes siswa yang berupa angka. Pada setiap tes yang diberikan guru pada
akhir siklus. Data ini diolah agar dapat mengetahui kemampuan siswa dalam
pembelajaran mengapresiasi unsur instrinsik cerpen melalui pembelajaran
kooperatif jigsaw.
Dengan memakai rumus statistik (mean) di bawah ini :
![]() |
Keterangan
:
Mean
: jumlah nilai rata-rata
∑x : jumlah seluruh nilai kelas
N
: jumlah siswa
Teknik
analisis data kuantitatif dilakukan pada akhir pembelajaran setelah diberikan
tes memahami unsur cerita. Hasil presentase kemampuan siswa tiap-tiap tes
kemudian dibandingkan antara pra siklus, siklus I, siklus II. Melalui
perhitungan ini akan diketahui peningkatan hasil belajar siswa dalam mengapresiasi
unsur Instrinsik cerpen melalui pembelajaran kooperatif CIRC siswa kelas VII A
MTs Al Musthofa Grabagan Tahun Pelajaran 2011/2012.



Sangat bermanfaat. Tapi daftar pustaka nya mana ya pak?
BalasHapusSaya butuh referensi nih
BalasHapus